Dinkes Sidak ke Pasar Kosamb

Dinkes Sidak ke Pasar Kosamb

Bandung - Dinas Kesehatan Kota Bandung melakukan inspeksi mendadak di Pasar Kosambi untuk mengantisipasi adanya makanan ataupun minuman yang sudah kedaluarsa tetapi tetap diperjual belikan. Dari hasil sidak ini Dinkes menemukan banyaknya pedagang yang masih menggunakan kode Sertifikat Penyuluhan (SP) dalam menjajakan olahan pangan. Rabu (10/6/2015).


"Izin edarnya, kebanyakan masih menggunakan SP 2010 seperti bakso dan siomay kering. SP 2010 itu, sudah tidak berlaku dan izinnya minimal harus PIRT untuk saat ini," ujar E Wahyuni salah satu staf Dinkes Kota Bandung di sela-sela sidak.

Sidak pertama yang dilakukan menjelang bulan suci Ramadan, Dinkes menemukan adanya beberapa olahan pangan yang tak mengantongi izin. Salah satunya adalah kerupuk yang hanya menyertakan merk. Temuan tanpa label, menjadi dominan.


"Selain menyoroti penggunaan SP, adanya pelanggaran pelabelan yang otomatis menyentuh izin edar dan expired date. Kalau pelabelan rusak, menandakan sudah tidak sesuai dengan ketentuan," ujarnya.


Untuk sidak yang dilakukan pertama ini,  Dinkes Kota Bandung hanya memberikan imbauan kepada para pedagang, serta menyampaikan penyuluhan terkait izin edar olahan pangan agar dapat lebih berhati-hati dalam menjajakan olahan pangan. 


"Seperti baso, itu bukan ranah kami. Paling kita mencari sumbernya dan kita arahkan untuk ke BPOM untuk mengurus izin MD. Jadi pedagang tidak diberikan sanksi, kita akan bekerjasama dengan pihak PD Pasar dan BPOM untuk masalah sanksi pelanggaran pemasok," jelas dia.


Dinkes Kota Bandung mengambil beberapa sampel olahan panganan seperti tahu, mi, baso, otak-otak, kwetiaw dan kerupuk. Nantinya sampel tersebut akan diuji laboratorium di Dinkes Kota Bandung.


"Akan kita tes lagi, kita enggak mau gegabah menyampaikan kalau ada zat kimia. Kita lakukan uji laboratorium berulang, sehingga menimbulkan hasil otentik," ungkap dia. (AY)
.

Categories:Bandung,
Tags:,