Warga akan Bertahan Sampai Mati

Warga akan Bertahan Sampai Mati

Warga mengamuk saat akan dieksekusi aparat di Jalan Stasiun Bandung Kamis (11/6/2015).(TrisDoddy)

Bandung - Berbagai pernyataan warga terlontar setelah eksekusi yang dilakukan oleh PT KAI melalui bantuan aparat TNI, Polri dan Polsuska berujung ricuh dengan warga di Jalan Stasiun Barat, Kamis siang (11/6/2015). Warga bersikeras tidak mau dieksekusi, pasalnya mereka mengaku sudah lama menempati lahan tersebut.

Seperti diungkapkan Nurjanah (49), pemilik kios di Jalan Stasiun Barat. Dia mengaku PT KAI tidak bisa membuktikan kepemilikan lahan Stasiun Barat ini, sehingga perusahaan alat transportasi milik negara ini tidak bisa seenaknya mengeksekusi kios dan bangunan di area jalan tersebut.

"Sudah berapa kali warga dan PT KAI bertemu dan membicarakan masalah ini, namun tetap mereka kalah karena pihak PT KAI sendiri tidak bisa membuktikan kepemilikan lahan ini, Mereka memberikan sertifikat yang alamatnya di Kelurahan Cicendo Kecamatan Pasirkaliki, sedangkan dari dulu lahan ini terletak di Kelurahan Kebon Jeruk Kecamatan Andir," bebernya kepada wartawan

Wanita yang mengaku telah puluhan tahun tinggal di lokasi tersebut tidak gentar saat dikabarkan secara tiba-tiba PT KAI mengancam untuk membongkar sendiri bangunan apabila tidak digubris. PT KAI akan membongkar paksa dengan bantuan aparat TNI dan kepolisian, namun warga memilih berontak dan bertahan.

"Kami bertahan walaupun diancam akan dieksekusi paksa PT KAI, kami pantang mundur berani mati, kenapa harus takut ini tempat milik kami PBB juga kami bayar," paparnya berapi-api.

Selain itu dia mengatakan, Badan Pertanahan Nasional sudah jelas mengatakan, apabila lahan sudah ditempati lebih dari 20 tahun berarti telah menjadi hak milik.

"Keluarga saya tinggal di sini dari tahun 82, sekarang sudah turun ke saya jadi kuatlah kalau soal kepemilikan tanah. PT KAI hanya bisa menunjukan sertifikat tanah yang itu-itu saja, tidak bisa menunjukkan sertifikat yang asli," jelasnya.

Selain itu, akibat bentrokan warga dan aparat keamanan yang membantu eksekusi lahan di  Jalan Stasiun Barat tersebut, membawa korban 5 warga dan 3 anggota Polsuska mengalami luka-luka berat dan ringan.

Maman (69) linmas wilayah, salah satu korban bentrokan menyatakan tidak terima dengan kekerasan pihak Polsuska terhadap warga dalam bentrokan tersebut.

"Saya tadinya mau melerai, malahan dipukul oleh pihak Polsuska yang pakai baret orange, yang saya lihat awal ada yang lempar aqua ke warga sehingga akhirnya bentrok, selanjutnya enggak tau," tandasnya.

Menurut informasi yang dihimpun CikalNews.com, 5 orang warga yang menjadi korban dalam bentrokan tersebut yaitu Hj wasito, Ipan, Budi, Hendra, dan Maman. Hj Wasito sendiri saat ini telah dilarikan ke RS setelah terkena lemparan di kepala. (AY)

.

Categories:Bandung,
Tags:bandung,