Indonesia Bertumpu pada Pebulutangkis Muda

Indonesia Bertumpu pada Pebulutangkis Muda

Ilustrasi.(Foto:Net)

Jakarta - "Yang muda-muda memang harusnya sudah mulai tampil. Mungkin sekarang masih yang senior-senior, tetapi yang muda juga harus mulai muncul, harus berani," kata pebulu tangkis ganda putra andalan Indonesia Mohammad Ahsan.

Regenerasi, itulah satu kata yang ditemakan oleh Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI) pada tahun ini. Hal ini mengingat atlet-atlet pebulu tangkis andalan Indonesia tidak selamanya bisa sejago di kala muda saat usianya beranjak tua.

Siapa tidak kenal duo jagoan di ganda putra Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan dan duet di ganda campuran pasangan Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir. Dua sektor andalan Indonesia di ajang turnamen bulu tangkis dunia itu telah menorehkan berbagai pencapaian di bermacam kejuaraan.

Namun, Indonesia tidak bisa selamanya bertumpu pada Ahsan/Hendra dan Owi/Butet dalam berbagai gelaran bulu tangkis dunia. Indonesia pernah jaya pada masanya dalam olahraga bulu tangkis. Kembalinya kejayaan itulah yang diharapkan oleh Ibu Pertiwi.

Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi PP PBSI Rexy Mainaky mempersiapkan kemampuan para pemain muda dengan menurunkannya di kejuaraan kelas dunia BCA Indonesia Open Super Series Premier 2015 yang didukung oleh Bakti Olahraga Djarum Foundation tersebut pada awal Juni lalu. Kejuaraan yang diikuti oleh para pemain top dunia itu menjadi arena menjajal raket bagi pebulu tangkis muda.

"Ini sebagai persiapan Olimpiade dan Thomas Cup," kata Rexy saat konfrensi pers sebelum kejuaraan dimulai.

Lantas dia mengatakan, "Siapa yang tahu? Ini 'sport'. Semoga mereka dapat membuat kejutan dengan mengalahkan pemain unggulan." Ucapan mantan peraih emas Olimpiade Atlanta 1996 tersebut ternyata bukan cuma sekadar kata. Ini olahraga, ini bulu tangkis, tiada yang tahu angin berembus ke arah mana dan memihak pada shuttle cock (kok) siapa.

Sektor tunggal Indonesia yang didominasi oleh pemain muda dari pelatnas PBSI menampilkan kejutan demi kejutan. Turun pertama kali di kejuaraan berlabel Super Series Premier sejumlah atlet muda tunggal putra Indonesia: Jonatan Christie, Anthony Ginting, Ihsan Maulana Mustofa, dan Firman Abdul Kholik memulainya lewat babak kualifikasi terlebih dahulu. Begitu pula, dengan sejumlah pemain di nomor tunggal putri, seperti Lindaweni Fanetri, Hanna Ramadhini, Maria Febe Kusumastuti, dan Ruselli Hartawan turun melalui jalur kualifikasi.

Hasilnya, Jonatan Christie dan Anthony Ginting melaju ke babak utama BCA Indonesia Open Super Series Premier 2015 beserta Linda, Maria Febe, dan Ruselli di nomor tunggal putri.

Lebih dari itu, tunggal putra dan putri Indonesia bahkan melaju ke babak delapan besar BCA Indonesia Open Super Series Premier 2015 dengan mengalahkan pemain-pemain unggulan.

Anthony mengalahkan pemain peringkat empat dunia asal India K. Srikanth dengan skor 14-21 22-20 21-13, dan Linda pun melakukan hal yang sama dengan mengalahkan unggulan keempat asal Taipei Tai Tzu Ying dengan dua set langsung 21-18 22-20. Sementara itu, Jonatan mengalahkan peringkat tujuh dunia asal Taipei Chou Tien Chen dua set langsung 21-18 21-19 dan Maria Febe pun mengalahkan Yip Pui Yin dengan telak 21-17 21-4.

Jonatan, Anthony, Linda, dan Maria Febe menjadi pemain debutan yang berhasil lolos mencapai babak perempat final dari babak kualifikasi. Ya, hanya mereka berempat pemain babak kualifikasi yang berada di delapan besar! Dari hasil tersebut, Rexy mengatakan bahwa pencapaian para pemain muda melebihi harapan. "Cukup 'surprise' juga, saya cuma berharap mereka bisa lolos kualifikasi, tetapi pemain-pemain ini bisa sampai ke delapan besar itu cukup menggembirakan. Bukan hanya pencapaian saja, melainkan juga performa mereka," kata Rexy.

Bahkan, Rexy mengakui penampilan para pemain muda bisa melebihi pemain senior. "Penampilannya cukup bisa menunjukkan perbedaan dari senior-senior kita. Penampilan mereka itu cukup lebih menjanjikan ke depannya," kata dia.

Meski keempat pemula di Indonesia Open tersebut seluruhnya kalah di babak perempat final, menurut Rexy, hal itu terbilang wajar lantaran para pemain muda yang minim pengalaman dibanding para atlet sepuluh besar dunia. Jonatan kalah oleh juara Indonesia Open 2014 Jan O Jorgensen, Maria Febe kalah oleh "runner up" Indonesia Open 2015 Yui Hashimoto, Anthony kalah oleh Kento Momota juara Indonesia Open 2015, dan Linda takluk oleh juara Indonesia Open 2015 Ratchanok Intanon.

"Saya sempat kaget dengan penampilan Anthony di set pertama yang bisa mengalahkan saya. Namun, dia masih harus banyak pengalaman bertanding di turnamen super series," kata Kento Momota yang dipaksa bermain "rubber set" oleh Anthony di perempat final.

Hal senada juga disampaikan oleh Rexy. Dia mengatakan, "Mereka bukan kalah di permainan, melainkan kalah di pengalaman." Regenerasi Sektor Ganda Optimistis akan regenerasi juga muncul dari pandangan pelatih ganda putra Herry Iman Pierngadi. Dia mengatakan bahwa regenerasi, khususnya di sektor ganda putra, tidak akan terpaut jauh dengan seniornya.

"Ya, tidak terlalu jauh jaraknya (antara senior dengan junior). Saya yakin pemain-pemain muda kita bisa menyulitkan pemain top dunia. Kalau untuk mempersulit, bisalah," kata Herry.

Ia lantas menyebutkan, "Ada Angga (Pratama)/Ricky (Karanda Suwardi) yang menang Singapore Open 2015, ada Berry (Angriawan)/Ryan (Agung Saputra), ada Wahyu (Nayaka)/Ade (Yusuf), sama Kevin (Sanjaya)/Gideon (Markus)." Menurut dia, regenerasi cukup bagus. "Kemarin (Singapore Open) juga sudah ada juara selain saya dan Hendra. Karena mau jadi juara, kan enggak gampang, butuh proses," kata Ahsan.

Sementara itu, atlet senior ganda campuran Tontowi Ahmad juga percaya dengan kemampuan para juniornya. "Kalau kita ngomongin ganda campuran, sudah mulai bagus. Ada Praven Jordan/Debby Susanto, ada Edi (Subaktiar)/Gloria Emanuelle, ada Riky (Widianto)/Puspita (Richi Dili) juga. Ya, kalau saya lihat regenerasi ganda campuran, sih, menjanjikan," ujar Tontowi.

Pelatih ganda putri pelatnas PBSI Eng Hian mengatakan bahwa PBSI harus membuat program khusus pelatih pelatnas agar bisa menciptakan pemain-pemain baru yang berkualitas.

Menurut dia, sektor ganda putri masih kekurangan pemain yang dapat diandalkan selain Nitya Krishinda Maheswari/Greysia Polii yang menjadi runner up BCA Indonesia Open Super Premier 2015.

"Saya lagi meminta PBSI bikin satu program yang mendukung program pelatih pelatnas. Kalau tidak, bulu tangkis Indonesia akan terus seperti ini, jadi hanya punya satu (andalan), satu (andalan), satu (andalan)," kata pelatih yang akrab disapa Didi.

Kejuaraan BCA Indonesia Open Super Series Premier 2015 bisa menjadi trampolin bagi para atlet muda untuk melompat mendapat pengalaman lebih banyak. Pertandingan yang diisi oleh para pemain top dunia itu menjadi pengalaman dan pelajaran tersendiri bagi pemain muda.

"Pastinya pengalaman berharga banget bisa bermain di kelas super series premier ini. Ini bukan sembarang pertandingan, pemain yang main juga bukan sembarang pemain, yang main di sini pemain top dunia. Pengalaman yang saya dapet sangat berharga," kata Anthony.

Saat ini para pebulu tangkis muda Indonesia itu sedang berlaga di SEA Games. Sebelumnya, Rexy memprediksi tim putra Indonesia bisa mencapai final pada gelaran olahraga Asia Tenggara tersebut. Lagi-lagi, ucapannya terbukti ketika tim putra Indonesia berhasil mengalahkan Malaysia di nomor beregu putra dengan kedudukan 3-2 dan melaju ke final melawan Thailand. Kendati demikian, regu putri kalah 1-3 pada hari Kamis (11/6) di Singapore Indoor Stadium.

Pebulu tangkis muda Indonesia yang dinilai menjanjikan, hanya butuh pengalaman untuk bisa menjadi ancaman negara lain pada masa depan. "Kita akan memberikan jam terbang lebih banyak. Saya harapkan mereka ini akan menjadi andalan kita," ujar Rexy. (AY)

.

Categories:Olahraga,
Tags:olahraga,