Polisi Hongkong Tahan 9 Orang Pembuat Bom

Polisi Hongkong Tahan 9 Orang Pembuat Bom

Hongkong - Polisi Hongkong menahan sembilan orang dan menyita bahan-bahan yang diduga bahan peledak, kata pihak berwenang, Senin (15/6/2015), saat kota tersebut bersiaga menghadapi pemungutan suara dalam paket reformasi pemilihan umum yang didukung Tiongkok, yang memicu unjuk rasa luas pada 2014.

Serbuan pada malam hari yang melibatkan sejumlah petugas itu dilakukan tiga hari setelah polisi memperingatkan bahwa mereka memantau aktivitas dalam jaringan untuk mengendus siapapun yang berencana memicu kekerasan.

Puluhan petugas berpatroli, Senin, di dekat gedung-gedung pemerintah dimana pagar-pagar besi juga sudah didirikan, sebelum debat mengenai paket itu dimulai pada Rabu.

Sembilan tersangka itu ditahan atas dugaan konspirasi untuk membuat bahan peledak, kata polisi.

Berbagai tulisan di media sosial mempertanyakan waktu dilakukannya serbuan itu, yang rincian mengenai hal itu dibocorkan ke media Hongkong.

Saat ditanya untuk menyebutkan nama kelompok dan tujuan konspirasi itu, Superintendan Au Chin-chau mengatakan polisi masih menyelidiki hal itu dari segala sisi.

"Selama operasi, polisi menemukan bahan kimia, komputer, selebaran, beberapa peta ... topeng muka, bahan pengencer dan beberapa senapan angin serta komputer tablet dengan instruksi pemasangan peledak dan formula kimia untuk membuat granat asap," katanya.

Bekas koloni Inggris yang dikembalikan ke Tiongkok pada 1997 itu tengah bersiap menghadapi pemungutan suara soal bagaimana memilih pemimpin pada 2017.

Partai Komunis Tiongkok yang berkuasa mengusulkan pemilihan langsung, namun hanya kandidat pro-Beijing yang sudah diseleksi yang akan diperbolehkan maju.

Para pengunjuk rasa mengatakan usulan itu memalsukan hak pilih universal yang sudah dijanjikan sebagai tujuan akhir.

Sebuah jajak pendapat pada akhir pekan lalu menunjukkan dukungan publik telah beralih menentang paket itu, di tengah mulai munculnya kembali aksi jalanan oleh pengunjuk rasa pro-demokrasi.

Namun pejabat senior Tiongkok mengungkapkan keyakinannya bahwa Hongkong akan meluluskan paket itu, dan membuka jalan terjadinya unjuk rasa yang berpotensi lebih melumpuhkan di pusat keuangan Asia itu.

Polisi tidak ambil risiko Ketegangan di kota itu sudah kembali meningkat, dimana kelompok radikal Hongkong Indigenous mendesak para pendukungnya, Minggu, untuk menggelar aksi di dekat lokasi penguburan pendukung Beijing Yeung Kwong, salah satu pemimpin kerusuhan anti-Inggris pada 1967.

Kelompok itu meminta pengunjuk rasa "melemparkan nenas", merujuk pada bahan peledak produksi rumahan dan meneriakkan istilah jalanan di era 1960-an, ketika kota itu diguncang dengan unjuk rasa Maois.

Para pemimpin senior Hongkong dan pejabat Tiongkok menghadiri pemakaman Yeung.

Polisi tidak mengambil risiko menyusul bentrokan saat demonstrasi menentang paket itu. Lebih dari 100 ribu orang turun ke jalan saat unjuk rasa pada 2014, sehingga melumpuhkan kawasan-kawasan utama di kota itu. Aksi pada Minggu itu hanya diikuti oleh beberapa ribu orang.

Senior Superintendan Brian Lowcock mengatakan lebih dari 100 polisi terlibat dalam serbuan itu.

Jajak pendapat yang dilakukan sebelum dan sesudah debat antara tiga legislator demokratik dan tiga pendukung Beijing menunjukkan, banyak penonton berubah menentang usulan pemerintah setelah mendengarkan argumen kedua belah pihak, demikian dilaporkan media Hongkong.

Sebelum debat tersebut, 49 persen dari 188 orang dalam jajak pendapat itu meyakini para legislator harus memveto usulan itu, sementara 42 persen mendukungnya, demikian dilaporkan South China Morning Post.

Setelah debat, 54 persen mengatakan paket itu harus ditentang, dan 38 persen menyuarakan dukungan.

Para pegiat pro-demokrasi berencana menggelar aksi di luar kantor pemerintah sebelum paket itu masuk dalam ajang debat, dan pemungutan suara diperkirakan berlangsung pada akhir pekan.

Beijing menekan legislator pro-demokrasi untuk mendukung cetak biru pemilu itu. Paket itu memerlukan duapertiga dari 70 kursi parlemen atau 47 suara untuk diluluskan.

Sekitar 27 legislator pro-demokrasi bertekad untuk memveto paket itu dan mengatakan bahwa setiap optimisme dari pejabat senior Tiongkok menjadi upaya terakhir untuk membingungkan mereka.

Inggris mengembalikan Hongkong ke Tiongkok dengan janji bahwa kebebasan dasar personal, sosial dan komersial, didukung oleh sistem hukum Inggris, akan dilindungi selama 50 tahun.

Sentimen anti-Beijing meningkat di Hongkong, dimana para pendukung sepakbola mencemooh lagu kebangsaan Tiongkok saat dimainkan sebelum pertandingan kualifikasi Piala Dunia melawan Bhutan pekan lalu. (AY)

.

Categories:Internasional,
Tags:,