10 Siswa EGS Dapat 'Reward' Belajar ke Australia dan AS

10 Siswa EGS Dapat 'Reward' Belajar ke Australia dan AS

10 siswa berprestasi yang akan berangkat ke Australia dan Amerika Berfoto bersama orang tuanya. (Putri/Istimewa)

Bandung  -  Ada yang berbeda pada pembagian raport bagi siswa-siswi Edu Global School (EGS), jika dibandingkan dengan sekolah lainnya, Selasa (16/6/2015) hari ini. Suasana haru dan menegangkan tampak dari raut wajah para siswa dan orangtua siswa, yang hadir pada pagi tadi. 
 
Ya, para siswa-siswi EGS tidak hanya mendapatkan hasil dari pembelajaran selama satu semester, yang bisa ditunjukkan kepada orangtua mereka. Namun, bertepatan dengan pembagian raport tersebut, EGS memberikan "reward" kepada 10 besar siswa-siswinya yang berprestasi, berupa "homestay" di Australia. 
 
Founder EGS, Oki Earlivan Sampurno menuturkan, Edu Global School memberikan reward ini tidak semata-mata dilihat dari prestasi bidang akademik para siswa-siswinya. Namun juga dilihat dari nilai-nilai yang mencakup karakter, tahfidz, toefl, talent serta student of the year.  
 
Suasana haru sekaligus menegangkan tampak menyelimuti semua yang hadir pada pembagian raport tersebut. Apalagi ketika Oki Earlivan Sampurno memanggil kesepuluh nama siswa-siswi yang berprestasi, untuk maju ke atas panggung dengan didampingi oleh para orangtua mereka. 
 
Siswa-siswi EGS yang berhasil mendapatkan reward, di antaranya Tasya Ayu Rahmi, Shidqi Fajri Romadhon, Wanondya Gute Ulayya, Faisal Azzani, Daffa Zharfan, Crisnanda R Mardiantien, Refina Dwie Mayhestie, M Faiz Azhari, Rahma Salsabilla, Lely Ayu Kusumabakti. Sedangkan untuk M Nur Imaduddin mendapatkan beasiswa ke Amerika.
 
"Anak-anak yang akan berangkat nanti tentunya bukan hanya untuk main-main. Namun mereka akan mencuri ilmu dan mencari pengalaman di negara maju tersebut," kata Oki, di sela sambutannya di Kampus EGS, Jalan Kalimantan No. 7 Kota Bandung.
 
Suasana haru bercampur bahagia tampak orangtua Tasya Ayu, yang tidak kuasa menahan linangan air mata yang membasahi mukanya. Dia tampaknya begitu merasa terharu dan merasa bangga, ketika melihat anaknya bisa meraih peringkat pertama, selama menempuh pendidikan di EGS, yang merupakan salah satu unit/divisi di bawah naungan Edu Global Indonesia (EGI).
 
Apalagi, dalam sambutannya Oki membeberkan prestasi Tasya, di mana semua aspek kurikulum Tasya mampu mendapat nilai yang bagus, hingga dinobatkan sebagai "Ambassador EGS". Tasya sendiri mengaku, dirinya sama sekali tidak menyangka akan masuk 10 besar, apalagi mendapat peringkat pertama.
 
"Sebab, Tasya kan mungkin di kelasnya ada yang lebih pintar, ya cuman mungkin apa yang dicapai Tasya agak merata di semua tempat. Sebab kalau di sekolah lain sepertinya lebih ke akademik. Saya nggak kepikir kalau Tasya bisa mempersatukan semua itu. Ternyata di sini semua dinilai, ya ada karakter dan segala macemnya. Alhamdulillah,” ungkap Ibu Puti saat ditemui di lokasi yang sama.
 
Untuk siswa-siswi yang akan berangkat ke Australia direncanakan pada bulan Oktober nanti, dan mereka akan beradan di negeri Kanguru selama tiga minggu. Sementara M Nur Imdadudin akan berangkat pada bulan Agustus, dan akan berada di Amerika selama satu tahun.
 
"Bisa pergi ke Amerika rasanya campur aduk. Seneng dapet pengalaman baru tapi juga sedih harus pisah sama keluarga dan temen-temen. Nanti saya di Amerika tinggal selama setaun dan akan tinggal sama orang lokal di sana,” ujar pria berkacamata ini, yang merupakan siswa pindahan dari pesantren.
 
Sementara itu, Shidqi Fajri sebagai peringkat kedua yang dinobatkan sebagai Ambassador EGS menuturkan, dirinya senang bisa sekolah di EGS karena sistem pembelajaran yang berbeda dibandingkan dengan sekolah lainnya. Sekolah di sini dilihat dari tiga aspek, jadi pihak sekolah bisa lebih leluasa dalam menilai, yang tidak terbatas hanya dari aspek akademik.
 
"Pastinya seneng banget, bener-bener saya nggak nyangka. Soalnya kalau liat dari hasil sebelumnya memang bimbang, naik turun hasilnya, Namun overall senang bisa banggain orangtua,” tuturnya. (Jr.)**
.

Categories:eduglobal,
Tags:pendidikan,