27 Pelajar Indonesia Berpuasa di Tengah Krisis Suriah

27 Pelajar Indonesia Berpuasa di Tengah Krisis Suriah

Ilustrasi, Pejuang Suriah

Suriah  -  Warga Suriah sepertinya tidak bisa menikmati Ramadan dalam suasana damai seperti penduduk di belahan dunia lainnya. Tahun ini menjadi Ramadan kelima yang harus dihadapi warga Suriah dalam kondisi krisis dan pemberontakan. Pengalaman serupa turut dirasakan oleh sedikitnya 27 pelajar Indonesia yang masih bermukim di sana. 
 
Salah seorang mahasiswa pasca sarjana di Universitas Kuftaro, Ahsin Mahrus menyatakan sebelum krisis menerpa Suriah, warga bebas bepergian ke mana pun dan jam berapa pun. "Bahkan, anak-anak bermain bola di lapangan hingga larut malam di musim panas ini. Tidak ada orang yang bertanya, siapa dan maksud kita apa," katanya, dalam keterangan tertulis Kementerian Luar Negeri, Minggu (21/6). 
 
Kini situasinya memang mengerikan. "Keluar malam, kita akan dicurigai. Ditanyai macam-macam oleh tentara di titik perbatasan," kata Ahsin. 
 
Sementara itu, Ketua Perhimpunan Pelajar Indonesia Suriah Ahmad Fuadi Fauzi mengatakan, dirinya bersama dan teman-temannya sebelum terjadi krisis, dia berkeliling dari satu masjid ke masjid lainnya di ibukota Damaskus. Menjelang berbuka puasa, para mahasiswa pun berburu makanan untuk berbuka yang enak di beberapa masjid tertentu. 
 
"Apalagi warga Damaskus terkenal dermawan kepada pelajar asing. Bahkan, sehabis pulang tarawih, kadang dikasih uang," katanya. 
 
Kini kondisinya sudah berubah, kesulitan ekonomi menjadi faktor utama. Beberapa masjid yang dulu jadi langganan pelajar berburu makanan sudah dikuasai oleh pemberontak, baik dari kelompok Free Syrian Army, Islamic State of Iraq and Al Sham (ISIS), Jabhat al-Nushra atau kelompok lain. Faktor keamanan yang rawan membuat mereka tidak memungkinkan untuk bepergian terlalu malam. 
 
Semua itu terungkap ketika KBRI Damaskus menyelenggarakan acara buka puasa di lobi KBRI Damaskus dengan mengundang seluruh staf dan para mahasiswa beberapa hari lalu. Ramadan tahun ini jatuh di musim panas. Artinya, warga Suriah berpuasa sekitar 16,5 jam. 
 
Subuh dimulai dari pukul 04.30 dan Maghrib pukul 20.00. Sementara, salat Isya baru dimulai pukul 21.30 dan tarawih selesai sekitar jam 23.00. Jelang tengah malam, warga baru tiba di rumah. 
 
Acara buka puasa turut dihadiri oleh Duta Besar RI untuk Suriah, Djoko Harijanto. Menurut Pelaksana Fungsi Pensosbud KBRI Damaskus, AM Sidqi, acara buka puasa diadakan sebagai sarana untuk silahturahmi antar WNI.  "Dengan kumpul dan bergembira seperti ini, kami sejenak melupakan kondisi krisis yang melanda Suriah, tanpa lupa mendoakan agar kedamaian segera terwujud di Bumi Syam ini," kata Sidqi. 
 
Rencananya, KBRI Damaskus akan merencanakan acara buka puasa sebanyak empat kali di bulan Ramadan ini. Dari data yang dimiliki oleh KBRI, sebanyak 27 orang pelajar itu terdiri atas tingkat SMA hingga pasca sarjana. 
 
Sementara sebelum krisis menerpa Suriah, total pelajar Indonesia mencapai 250 orang. Namun, akibat krisis yang berkepanjangan, pemerintah Indonesia memulangkan mereka secara bertahap. Indonesia juga memberlakukan moratorium pengiriman tenaga kerja ke Suriah sejak September 2011. (Jr.)**
.

Categories:Internasional,
Tags:perang,