Masjid Hunto, Mahar Islam ke Gorontalo

Masjid Hunto, Mahar Islam ke Gorontalo

Masjid Hunto, Gorontalo.(Net)

Meski salat zuhur telah usai, beberapa lelaki berbaju koko dan peci tampak lalu lalang memeriksa beberapa bagian masjid Hunto yang merupakan tempat ibadah Islam tertua di Gorontalo tersebut.

Mereka sedang melakukan pembenahan menyambut Ramadan dan Lebaran. Selain mempercantik struktur bagian gerbang masjid, takmirul atau pengurus masjid juga melakukan pengecatan di beberapa sisi dinding.

Masjid Hunto di Kelurahan Biawu, Kecamatan Kota Selatan, itu terletak persis menghadap sebuah persimpangan jalan sehingga arus lalu lintas di sekitarnya cukup padat.

Saat pertama kali dibangun pada tahun 1495 Masehi atau 899 Hijriah, struktur bangunan hanya berukuran 12 x 12 meter dan setelah renovasi berkali-kali kini luasnya menjadi 17x12 meter dengan penambahan ruang shalat bagi jamaah perempuan di sisi utara.

Meski telah direnovasi, namun pengelola masjid secara turun temurun berupata tetap mempertahankan bentuk dan ukuran bangunan utama masjid.

Keempat tiang masjid semua terbuat dari kayu kelapa dengan tinggi enam meter. Namun saat ini seluruh bangunan telah dibuat dari beton.

Mahar Pernikahan Ketua Takmirul Masjid Hunto Syamsuri Kaluku (64) mengungkapkan masjid itu dibangun oleh Raja Amai, penguasa Gorontalo kala itu.

Bagi masyarakat Gorontalo, masjid tersebut adalah simbol masuknya Islam ke Gorontalo sekaligus memiliki kenangan romantika yang selalu dirawat melalui kisah orang-orang terdahulu.

Saat itu Sultan Amai ingin mempersunting seorang puteri bernama Boki Autango, anak dari Raja Palasa yang memerintah di Moutong, daerah perbatasan antara Gorontalo dan Sulawesi Tengah.

Raja Palasa yang juga seorang Muslim kemudian mengajukan dua syarat agar pinangan tersebut diterima yakni Raja Amai harus menganut agama Islam dan membangun sebuah masjid di Gorontalo sebagai mahar pernikahan.

"Syarat diajukan karena pada masa itu Raja Amai dan seluruh rakyatnya masih menganut animisme," katanya.

Syarat tersebut langsung dipenuhi oleh Amai. Sang Raja mengucapkan dua kalimat syahadat sebagai syarat menjadi seorang Muslim dengan dibantu seorang aulia Maulana Syeh Syarif Abdul Azis.

"Syeh Syarif diketahui datang langsung dari tanah Arab demi membantu masuknya Islam ke daerah ini. Dia menetap hingga meninggal di Gorontalo," kata Syamsuri.

Tak hanya itu, Raja Amai yang kemudian diberi gelar Sultan Amai juga turut mengislamkan seluruh rakyat yang dipimpinnya.

Sultan segera membangun sebuah masjid dan memberinya nama Hunto yang berasal dari kata Ilohuntungo berati basis atau pusat perkumpulan dan penyebaran Islam.

Ia lalu menggelar pesta tujuh hari tujuh malam untuk menyambut pernikahannya dengan Boki Autango. Rakyat Gorontalo mengucapkan sebuah sumpah dengan kalimat, "Bolo yingo-yingondiyolo monga boyi" yang berarti hari ini terakhir makan babi.

"Dalam kenduri itu Sultan masih memperbolehkan rakyatnya berbuat maksiat, makan babi, hingga minum arak. Tapi setelah hari itu Raja melarang semua perbuatan dosa dilakukan, jika tidak maka yang bersangkutan dianggap melanggar sumpah," urainya.

Pelanggaran sumpah adat tersebut dikenal dengan "bito". Sejak mengucapkan sumpah, rakyat diharapkan takut berbuat dosa karena akan ditimpa bencana seperti penyakit lepra dan dikucilkan oleh warga lainnya.

Pada abad berikutnya, Hunto menjadi pusat keagamaan yang turut melestarikan sejumlah budaya seperti modikili, turunani hingga bela diri langga.

Modikili merupakan tradisi melantunkan dzikir dan shalawat dengan syair berbahasa Arab maupun Gorontalo untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Sedangkan Turunani merupakan budaya yang digelar seminggu sebelum pesta pernikahan berlangsung, dengan menabuh rebana raksasa dan melantunkan syair berisi nasihat kepada masyarakat.

Langga sendiri adalah pencak silat ala Gorontalo yang saat itu diikuti oleh para pendekar dari kampung dan bertanding di kompleks Masjid Hunto.

"Yang dilarang oleh Sultan adalah modayango, tradisi untuk mengobati orang sakit dengan memanggil setan dan memberikan sesajen," katanya.

Cagar Budaya Sultan Amai yang bergelar adat "Tta Olongia Lopo Isilamu" (Raja yang Mengislamkan) lahir pada 1460 dan meninggal pada 1535. Makamnya berada di bagian depan dekat ruangan mimbar masjid, namun dibatasi oleh sebuah dinding.

Sekitar dua meter di sebelahnya, terdapat makam Syeh Syarif Abdul Azis yang memiliki gelar adat "Ta Dihu-dihu Uundhi Lo Ka'aba" (Yang Memegang Kunci Ka'bah).

Di sekitar kedua makam terdapat tiga makam berukuran sama milik anggota keluarga raja.

Masjid tersebut telah ditetapkan sebagai cagar budaya oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya Gorontalo, karena masih terdapat beberapa peninggalan bersejarah di dalamnya.

Sebuah mimbar terbuat dari kayu dan beton masih berdiri kokoh di bagian depan ruang utama. Mimbar tersebut memiliki ornamen yang diduga berasal dari India, karena masuknya Islam ke Gorontalo juga merupakan pengaruh dari masuknya pedagang-pedagang Islam dari India, Pakistan dan Bangladesh.

Sebuah beduk kecil yang terbuat dari kulit randu masih tersimpan dan baru ditabuh oleh pengurus masjid bila ada petinggi atau pemimpin daerah yang datang ke masjid.

Di samping ruang shalat terdapat sumur yang dibangun bersamaan dengan masjid. Sumur yang konon terbuat dari kapur dan putih telur Burung Maleo itu memiliki mata air yang tak pernah kering. Kala itu, sumur Hunto merupakan sumber air utama bagi masyarakat Gorontalo.

Kini masjid penuh kisah itu masih menjadi pusat dakwah bagi umat Muslim. Sehari-hari masjid tak hanya digunakan untuk shalat, tetapi ruangan lainnya berfungsi menjadi taman pengajian Alquran, sekolah taman kanak-kanak, pengajian kitab kuning, hingga buka puasa bersama pada bulan Ramadan. (AY)

.

Categories:Daerah,
Tags:daerah,