Kondisi 11 Waduk di Indonesia Masih Normal

Kondisi 11 Waduk di Indonesia Masih Normal

Kondisi 11 Waduk di Indonesia Masih Normal

Jakarta - Kementerian Pekerjaan Umum (PU) menyebutkan, 11 dari 16 waduk utama di Indonesia kondisinya masih normal, sedangkan empat lainnya defisit dan satu kering. "Waduk dalam kondisi normal adalah Djuanda/Jatiluhur (Jawa Barat), Kedungombo, Sempor dan Wadaslintang (Jawa Tengah), Sermo (D.I. Yogyakarta), Sutami, Lahor, Selorejo, Bening dan Wonorejo (Jawa Timur) dan Bili-Bili (Sulawesi Selatan)," kata Direktur Bina Operasi dan Pemeliharaan Direktorat Jenderal (Ditjen) Sumber Daya Air (SDA) Kementerian Pekerjaan Umum (PU), Hari Suprayogi, kepada pers di Jakarta, Jumat (24/10/2014). Sementara itu waduk yang dalam kondisi defisit adalah Keuliling (NAD), Batutegi (Lampung) serta Saguling dan Cirata (Jawa Barat). Sedangkan yang kering adalah Waduk Wonogiri (Jawa Tengah). "Kondisi tersebut berdasarkan status per 13 Oktober 2014," katanya. Dijelaskannya, normal dapat diartikan elevasi pantau di atas elevasi rencana, sedangkan defisit artinya elevasi pantau di bawa elevasi rencana, sedangkan kering artinya elevasi pantau dibawah elevasi rencana dan juga dibawah elevasi kekeringan artinya defisit 3 meter dari elevasi. "Yang kering di Wonogiri itu mestinya 130,86 meter sekarang tinggal 127,48 meter sedangkan dilihat dari volume seharusnya 145 juta meter kubik saat ini 68,46 juta meter kubik," katanya. Hari melanjutkan, dari 162 waduk kecil/embung, sebanyak 132 waduk/embung diantaranya masih dalam kondisi normal, 11 waduk/embung dalam kondisi defisit sedangkan 19 waduk/embung dalam kondisi kering. Untuk antisipasinya, Hari mengungkapkan diantaranya dengan melakukan efisiensi dan melakukan pembatasan-pembatasan dalam penggunaan air. Sementara itu, Hari mengungkapkan bahwa di setiap Balai Besar Wilayah Sungai/Balai Wilayah Sungai yang tersebar di seluruh Indonesia sudah disiagakan 641 pompa kekeringan di 10 BBWS/BWS. Sementara itu, Direktur Pengembangan Air Minum Ditjen Cipta Karya Kementerian PU M.Natsir mengungkapkan, kekeringan yang menyebabkan kekurangan air bersih atau air minum memang terdapat di daerah yang belum memiliki jaringan air minum. Hal tersebut terlihat bahwa sampai saat ini pihaknya belum mendapatkan dilaporan dari PDAM-PDAM di daerah. "Kondisi cuaca yang anomali, sebagian wilayah Indonesia mengalami kekeringan sebelum masanya. Kekeringan yang disebabkan kurangnya curah hujan di bawah normal dalam satu musim dan menurunnya muka air tanah dan surutnya beberapa sumber air baku yang memadai memicu keterbatasan dalam pemenuhan kebutuhan air bersih,” kata Natsir. Natsir juga menyebutkan, beberapa Kabupaten/Kota yang mengalami kekeringan di tahun 2014 ini diantaranya di Provinsi Banten di beberapa desa di 5 Kabupaten/Kota, Provinsi Jawa Tengah di 19 Kabupaten, Provinsi Jawa Barat di 9 Kabupaten, Provinsi Jawa Timur di 26 Kabupaten, Provinsi D.I. Yogyakarta di 4 Kabupaten dan Provinsi Nusa Tenggara Timur di 22 Kabupaten/Kota. Natsir mengatakan pola penanganan kekeringan terbagi menjadi dua, yaitu darat dan permanen struktural. Untuk penanganan darurat adalah dengan penyaluran Mobil Tangki Air (MTA) dan Hidran Umum (HU) selain itu juga dengan IPA/RO Mobile. Sedangkan penanganan permanen struktural untuk daerah yang masih memiliki sumber air adalah dengan membangun SPAM kawasan rawan air dan SPAM regional. Untuk daerah yang tidak memiliki sumber air adalah dengan membangun embung ataupun sistem penyulingan air laut. "Saat ini Kementerian PU telah melakukan upaya penanganan tanggap darurat kekeringan dengan menempatkan sebaran barang atau peralatan di setiap provinsi, yang sewaktu-waktu dapat dimobilisasi ke lokasi kekeringan apabila diperlukan,” katanya.. Barang dan peralatan tersebut diantaranya di DKI Jakarta (25 MTA dan 1.237 HU), Banten (13 MTA dan 82 HU), Jawa Barat (64 MTA dan 298 HU), Jawa Tengah (79 MTA dan 344 HU), DIY (12 MTA dan 266 HU), Jawa Timur (43 MTA dan 450 HU) dan NTT (5 MTA dan 36 HU), total tersebar 202 MTA dan 2.713 HU. (AY) .

Categories:Nasional,
Tags:nasional,