Djokovic Tatap Wimbledon Setelah Kekecewaan di Paris

Djokovic Tatap Wimbledon Setelah Kekecewaan di Paris

Petenis Asal Serbia, Novak DJokovic

London  - Novak Djokovic bersikeras kekalahannya pada final Prancis Terbuka yang sangat mengecewakan telah ditelan sejarah, saat dia memulai pertahanan gelarnya di Wimbledon pada Senin (29/6/2015).

Petenis nomor satu dunia itu keluar dulu dari sorotan sejak kekalahannya di Roland Garros oleh Stan Wawrinka, yang mengakhiri upaya dia melengkapi gelar Grand Slam, lapor AFP.

Tapi petenis Serbia itu mengatakan dia bersemangat untuk mempertahankan gelar Wimbledonnya seperti ketika pada 2011 saat dia merebut gelar pertamanya di London itu.

"Saya perlu istirahat beberapa saat, lebih secara mental ketimbang fisik," kata juara Grand slam delapan kali Djokovic, yang akan menghadapi petenis peringkat 33 dunia asal Jerman Philipp

Kohlschreiber pada pertandingan pertama yang sulit pada Senin.

"Saya sadar mungkin akan berguna bermain sepasang pertandingan resmi di lapangan rumput, tapi ini bukan untuk pertama kalinya saya langsung masuk Wimbledon," katanya.

Kekalahan Djokovic dari Wawrinka di Paris hanya merupakan kekalahan ketiganya dalam 44 pertandingan tahun ini.

Dengan gelar Australia Terbuka sudah digenggamnya, kekalahan di Paris mengakhiri peluangnya untuk menjadi orang ketiga dalam sejarah --dan yang pertama sejak 1969-- untuk merebut gelar-gelar dalam satu kalender Grand Slam.

Tapi kekecewaan seperti di Paris itu sebelumnya bercampur dengan keberuntungannya.

Kekalahan pada semifinal 2011 dari Roger Federer di Roland Garros mengakhiri 41 kemenangan pertandingan secara beruntun pada tahun itu.

Tapi bagaimanapun juga, tepat empat pekan kemudian, dia mengalahkan Rafael Nadal untuk mengamankan gelar pertamanya di Wimbledon dan kemudian meraih gelar AS Terbuka pertamanya.

Djokovic juga merupakan pemain papan atas yang paling konsisten pada turnamen utama itu -- terakhir kali dia gagal mencapai setidaknya perempat final turnamen Grand Slam adalah di Roland Garros pada 2009.

Sementara itu petenis peringkat dua dunia dan juara Wimbledon tujuh kali Federer, yang memenangi gelar terakhir dari 17 gelar Grand Slam dia di All England Club pada 2012, ditempatkan untuk bertemu Djokovic pada final 12 Juli mendatang.

Dia akan berusia 34 tahun pada Agustus --pemain tertua yang memenangi Wimbledon pada era modern adalah Arthur Ashe yang saat berusia 31 tahun dan 11 bulan menjadi juara di All England Club pada 1975.


Incar Gelar Kedelapan

Federer sungguh yakin bahwa gelar juara lagi di Wimbledon bukan di luar jangkauanya dan dia didukung dengan keberhasilannya meraih gelar kedelapanya di Halle akhir pekan lalu.

"Jika saya melihat tahun lalu, saya melihat lebih pada yang positif ketimbang kekalahan yang mengecewakan di final," kata Federer, yang dikalahkan dalam pertandingan lima set oleh Djokovic pada 2014.

Federer akan memulai upayanya untuk meraih sukses dengan melawan petenis Bosnia Damir Dzumhur, yang dikalahkannya pada putaran ketiga Prancis Terbuka.

Sementara itu Andy Murray, juara 2013, menyaksikan upayanya dihadang oleh kombinasi sakit punggung dan penampilan bersemangat Grigor Dimitrov pada perempat final.

Tapi petenis peringkat tiga dunia berusia 28 tahun itu, yang baru saja menjuarai Queens Club untuk keempat kali, yakin dia akan bermain lebih baik dibanding saat dia mengamankan gelarnya di Wimbledon yang bersejarah.

Juara dua kali Rafael Nadal menjadi unggulan ke-10, posisi paling bawahnya dalam satu dasawarsa ini.

Juara Prancis Terbuka sembilan kali itu kalah hanya untuk kedua kalinya dalam karirnya di Prancis Terbuka oleh Djokovic.

Dia kemudian meraih gelar lapangan rumput Stuttgart, yang sepertinya merupakan kebangkitan palsu karena beberapa hari kemudian petenis 29 tahun itu dikalahkan Alexander Dolgopolov pada pertandingan pertama Queens Club.

Di antara petenis 10 besar dunia, petenis Spanyol David Ferrer terpaksa mundur pada malam turnamen itu karena cedera siku.(Ode)**
.

Categories:Olahraga,
Tags:olahraga,