Sutioso, Ancaman kepada Indonesia Makin Asimetris

Sutioso, Ancaman kepada Indonesia Makin Asimetris

Jakarta - Calon Kepala BIN, Letjen Purn TNI Sutiyoso mengatakan, bentuk ancaman yang membahayakan eksistensi keutuhan, keamanan dan kepentingan nasional Indonesia semakin kompleks dan bersifat asimetris atau tidak terpola.

"Ini sejalan dengan sangat dinamisnya perubahan lingkungan global dan regional yang dihadapi Indonesia. Sumber ancaman semakin beragam dan sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang makin canggih," kata Sutiyoso dalam penyampaian visi dan misi saat uji kepatutan dan kelayakan di Komisi I DPR RI, Jakarta, Selasa (30/6/2015).

Di tingkat global, kata mantan Gubernur DKI Jakarta itu, politik pertahanan dan keamanan dunia semakin banyak diwarnai perang proxy. Hal itu bisa dilihat dengan gamblang dengan adanya berbagai konflik di timur Tengah, Asia Selatan dan pecahan Uni Soviet.

"Semakin meningkatnya ancaman terorisme global tidak lepas dari perang proxy. Contoh terakhir adalah tiga serangan teroris di Perancis, Tunisia dan Kuwait,” katanya.

Di sisi lain, pertumbuhan penduduk dan perekonomian dunia membuat persaingan global semakin diwarnai perebutan penguasaan sumber energi, mineral dan kekayaan alam lainnya.

Globalisasi ekonomi dan keuangan dunia membuat perang ekonomi, keuangan dan industri antar negara dan antar korporasi multinasional semakin keras. Terjadi perebutan penguasaan teknologi mutakhir di berbagai bidang termasuk teknologi informasi dan telekomunikasi.

"Kompleksitas di atas diperburuk oleh krisis Ukraina yang membawa kembali sebagian suasana perang dingin. Ketegangan AS-Barat, versus China-Rusia cenderung meningkat di berbagai bidang. Kita melihat adanya perang sanksi ekonomi, friksi pasokan energi hingga ke perang siber,” kata mantan Pangdam Jaya itu.

Di tingkat regional, sambungnya, terjadi peningkatan ketegangan di Laut China Selatan terutama di Kepulauan Spratly. Akibatnya kawasan Asean semakin  menjadi bagian dari titik panas potensial di dunia. Dampak dari persaingan pengaruh antara AS atau Jepang dengan China terhadap kawasan tidak bisa dipandang remeh.

“Konflik di beberapa negara telah menimbulkan masalah imigran ilegal dan manusia perahu yang kompleks,” kata Sutiyoso.(Ode)**

.

Categories:Nasional,
Tags:,