28 Pimpinan UE Sepakati Perjanjian Iklim 2030

28 Pimpinan UE Sepakati Perjanjian Iklim 2030

28 Pimpinan UE Sepakati Perjanjian Iklim 2030

Brussels - Para pemimpin Uni Eropa menyepakati target perubahan iklim dunia untuk tahun 2030 dalam kesempatan pertemuan tingkat tinggi Uni Eopa di Brussels, membuka jalan bagi perjanjian global baru yang didukung PBB tahun depan .

Ke-28 pemimpin Uni Eropa mengatasi perpecahan dalam forum tersebut untuk mendapatkan kesepakatan mengenai komitmen utama untuk mengurangi emisi gas rumah kaca sedikitnya 40 persen pada 16 tahun dari sekarang, kata Presiden Dewan Uni Eropa Herman Van Rompuy.

Para pemimpin tersebut juga menyepakati target pasokan energi dan efisiensi energi terbarukan sebesar 27 persen.

"Sepakat! Setidaknya akan menurunkan 40 persen emisi sebelum tahun 2030. Ini merupakan perjanjian dunia yang paling ambisius, hemat biaya, dan adil menyangkut kebijakan energi iklim Uni Eropa 2030 yang pernah disetujui," ujar Van Rompuy pada akun Twitternya.

Uni Eropa juga ingin menyepakati target tersebut menjelang pertemuan puncak di Paris pada bulan November dan Desember 2015, diharapkan dunia akan setuju untuk fase baru dari kesepakatan iklim Kyoto yang masih berjalan hingga 2020.

Perjanjian tersebut menempatkan Uni Eropa sebagai "pemegang kendali" menjelang konferensi Paris, Ketua Komisi Eropa Jose Manuel Barroso.

Perpecahan di Uni Eropa Negosiasi tersebut kemudian memperlihatkan perpecahan antara negara-negara kaya dan yang lebih ramah lingkungan dengan negara miskin yang sangat bergantung pada bahan bakar fosil atau gas dari Rusia.

Polandia yang sebelumnya telah mengancam untuk memveto kesepakatan tersebut, menyatakan kekhawatirannya atas ketergantungan negara tersebut akan batu bara sehingga tidak dapat memenuhi target Uni Eropa.

Menghadapi tanggapan tersebut Kanselir Jerman Angela Merkel dan Presiden Prancis Francois Hollande melakukan loby dengan Perdana Menteri Polandia Eva Kovacsz di sela-sela KTT.

Kesepakatan tersebut juga mempromosikan hubungan interkoneksi baru antara negara-negara anggota yang memungkinkan mereka untuk mengekspor hingga 15 persen dari energi mereka saat mengalami suplus dan impor hingga 15 persen ketika mereka mengalami defisit.

Van Rompuy mengatakan hubungan interkoneksi ini adalah bagian penting dari pengembangan pasar energi Uni Eropa dan akan memberikan jaminan terhadap gangguan pasokan.

Bagian utama dari kesepakatan iklim ini melibatkan kesepakatan untuk mengurangi emisi gas rumah kaca yang menjadi penyebab pemanasan global hingga sebesar 40 persen dibandingkan dengan pada tahun 1990.

Perjanjian tersebut juga menentukan target sebesar 27 persen untuk energi terbarukan seperti tenaga surya dan angin, namun target 30 persen untuk peningkatan efisiensi energi yang ditetapkan pada bulan Juli oleh Komisi diturunkan menjadi 27 persen.

Perselisihan iklim tersebut terjadi di tengah kekhawatiran Uni Eropa atas ketergantungan pada pasokan gas alam dari Rusia, dengan krisis di Ukraina yang telah memperburuk hubungan dengan Moskow.

Van Rompuy juga menyatakan bahwa baik krisis Ukraina dan gejolak di Timur Tengah merupakan alasan yang baik bagi Uni Eropa untuk bertindak sekarang demi meningkatkan ketahanan energi.

Oxfam, sebuah kelompok kemanusiaan yang berbasis di Inggris mengatakan target Uni Eropa terlalu malu-malu dan mencerminkan pengaruh para pelobi energi yang mentargetkan 55 persen pengurangan emisi, 40 persen untuk penghematan energi dan 45 persen untuk energi terbarukan.

Kordinator Penanganan Ebola Sementara itu Uni Eropa menunjuk Christos Stylianides Siprus sebagai koordinator UE untuk melawan epidemi Ebola yang telah merenggut hampir 4.900 jiwa di Afrika Barat.

Stylianides adalah komisaris Uni Eropa masuk untuk bantuan kemanusiaan.

Perdana Menteri Inggris David Cameron mengatakan bahwa negara-negara Uni Eropa lainnya "perlu melakukan lebih" daripada 600 juta euro ($ 750.000.000) yang mereka janjikan untuk melawan virus Ebola.

Para pemimpin juga menetapkan untuk membahas krisis Ukraina meskipun tidak terlihat kemajuan dari usaha Uni Eropa pada gencatan senjata antara Kiev dan pasukan pemberontak pro-Moskow yang belum selesai hingga Selasa depan.

Mereka juga akan mencari jalan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan lapangan kerja di tengah kekhawatiran resesi triple-dip. (AY)

.

Categories:Internasional,