Hillary Clinton Tuduh Tiongkok Meretas Komputer Amerika

Hillary Clinton Tuduh Tiongkok Meretas Komputer Amerika

Kandidat presiden Amerika Serikat dari Partai Demokrat, Hillary Clinton.(Net)

Gled, N.H.  - Kandidat presiden Amerika Serikat dari Partai Demokrat, Hillary Clinton, Sabtu (4/7), menuduh Tiongkok mencuri informasi rahasia komersial dan "banyak informasi pemerintah" serta berusaha "meretas apapun yang tidak bergerak di Amerika".


Bahasa yang digunakan Clinton tentang Tiongkok itu lebih keras daripada bahasa yang biasa digunakan oleh Presiden Barack Obama--sesama politisi Demokrat.

Saat berkampanye di New Hampshire, dia menyatakan ingin melihat Tiongkok bangkit dengan damai.

"Tapi kita juga harus waspada penuh, kekuatan militer Tiongkok tumbuh sangat cepat, mereka membangun instalasi militer yang kembali membuat negara-negara lain yang menjadi sekutu kita merasa terancam, seperti Filipina, karena mereka membangun di tempat yang masih bersengketa," kata Hillary, yang menjabat sebagai Menteri Luar Negeri Amerika Serikat tahun 2009-2013.

"Mereka juga mencoba meretas semua yang tidak bergerak di Amerika. Mencuri rahasia dagang...dari kontraktor sektor pertahanan, mencuri banyak informasi negara, dan mencari selah keuntungan," kata dia seperti dilansir kantor berita Reuters.

Hillary adalah kandidat kuat dalam nominasi Demokrat untuk pemilihan presiden November tahun 2016.

Gedung Putih menolak untuk memberikan komentar mengenai tudingan yang disampaikan oleh Hillary.

Dalam kasus terkini soal dugaan aksi peretas oleh Tiongkok, pejabat pemerintahan Presiden Barack Obama menyatakan bahwa Tiongkok adalah pihak yang diduga keras melakukan peretasan ke lembaga pemerintah Amerika Serikat yang memiliki data sekitar 4,2 juta pekerja dan bekas pekerja pemerintah.

Tiongkok sudah membantah tuduhan telah meretas komputer Kantor Manajemen Pegawai Amerika Serikat.

Selain mengenai Tiongkok, dalam kampanyenya Hillary juga berbicara tentang program nuklir Iran dan menggunakan kalimat keras untuk Teheran.

Ia mengatakan bahwa meski perjanjian dengan Iran tercapai, Teheran "tidak akan meredakan agresifitasnya dan tetap menjadi negara pendukung utama aksi terorisme.(Ode)**
.

Categories:Internasional,