Pengemis musiman "Bisa Raup Rp25 Juta Jelang Lebaran"

Pengemis musiman

Pengemis musiman yang ramai berdatangan ke kota besar menjelang hari raya Idul Fitri bisa mendapat uang Rp15 juta hingga Rp25 juta dalam dua pekan, kata Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa.
Khofifah, kepada BBC Indonesia, mengatakan ini merupakan tren yang terjadi tiap tahun dan di Jakarta saja diperkirakan ada sekitar 5.000 pengemis musiman yang datang.
 
Dalam razia yang dilakukan oleh Pemda DKI Jakarta, diketahui bahwa pengemis-pengemis itu berasal dari berbagai provinsi di Jawa dan Lampung.
"Mengapa ini terjadi? Karena ada peluang bagi mereka mengais rezeki, tidak perlu bekerja keras, tapi menghasilkan uang signifikan," jelasnya.
 
"Kalau info (tentang pendapatan yang besar itu) sampai ke tetangganya, sangat mungkin mereka mengajak tetangga-tetangganya untuk sama-sama menarik rezeki di bulan Ramadan," lanjut Khofifah.
Peluang mendapat rezeki dari mengemis ini juga disebabkan oleh banyaknya orang yang memberi zakat langsung kepada mereka, walau di beberapa daerah sudah melarang warganya memberi uang ke pengemis.

Jadi, lebih baik beri atau tidak?

BBC  bertanya kepada para pembaca terkait isu ini di Facebook dan responnya beragam.
Banyak yang mengatakan pengemis tidak perlu diberi. "Untuk apa ngasih orang yang sebenarnya mampu bahkan penghasilanya puluhan kali lipat dari saya," kata Dewi Lestari.
 
"Dilematis! Di satu sisi Islam menyuruh umatnya bersedekah. Di sisi yang lain, banyak pengemis palsu (orang mampu yang malas menyaru jadi pengemis)," kata Ayah Arminsyah.
 
Myu Munna bercerita pengalamannya, "pernah lihat pagi-pagi buta ada anak muda boncengin bapak tua terus berhenti di lampu merah. Bapak itu turun dan anak muda tadi salaman sambil cium tangan, dan gak taunya bapak itu duduk di bawah lampu merah buat minta-minta. Miris..."

"Urusan dia bohong atau malas itu serahkan sama Tuhan aja, yang penting aku ikhlas," kata pengguna Facebook.

Bagaimanapun, beberapa pengguna mengatakan sah-sah saja memberi pada pengemis.
"Tetap memberi toh memberi ke siapapun tetap sama dapat pahala dan selalu positif thinking," kataVhie-vhie Viocha.
 
"Kalau ada kasih! Urusan dia bohong atau malas itu serahkan sama Tuhan aja, yang penting aku ikhlas," kata yang lain.
 
Riqie Dzulfakkar Al-Akasyie menengahi, "memberi orang yang tidak mampu sangat dianjurkan, akan tetapi membiarkan budaya mengemis sangat memalukan."

Preventif

Kementerian Sosial mengatakan ada dua langkah yang mereka tempuh untuk mengatasi maraknya pengemis musiman. Pertama, melakukan tindakan preventif dengan memperluas jangkauan program ke kabupaten atau kota tempat asal.
 
"Ada upaya-upaya persuasi yang dilakukan untuk meyakinkan bahwa ada cara-cara produktif yang bisa dilakukan dengan vocational training dan lainnya," kata Khofifah.
 
Kedua adalah dengan melakukan edukasi ke masyarakat untuk menyalurkan bantuan ke lembaga-lembaga zakat. Di sisi lain, lembaga zakat juga diminta untuk pro aktif dengan sistem 'jemput bola'.
 
Aktivis yang juga pernah hidup menjadi anak jalanan di Bandung, Sukira, mengatakan pencegahan di kota asal memang penting dilakukan, tetapi harus berlanjut dan terus menerus - termasuk meningkatkan mutu pendidikan dan perekonomian warga.
 
Di sisi lain, gelaran razia yang dilakukan di banyak kota besar pun dinilai tidak efektif karena hanya memindahkan masalah pengemis dari kota ke kabupaten.(Ode)**
.

Categories:Nasional,
Tags:,