Jembatan Cinta, Sebuah Mitos di Pulau Tidung

Jembatan Cinta, Sebuah Mitos di Pulau Tidung

Kepulauan Seribu - Jembatan Cinta menjadi objek wisata favorit ribuan wisatawan yang mengunjungi Pulau Tidung, Kepulauan Seribu, Jakarta, di hari kedua Lebaran 2015, Sabtu (18/7).

Jembatan sepanjang 800 meter yang menghubungkan Tidung Besar dan Tidung Kecil itu penuh sesak pengunjung, yang sebagian besar kaum muda-mudi yang sengaja datang. Sebab, mereka merasa penasaran dengan cerita mengenai "Jembatan Cinta" yang sudah menjadi salah satu ikon wisata itu.

"Saya tertarik datang ke sini memang karena penasaran dengan cerita mengenai jembatan ini. Dari cerita yang saya dengar, pasangan yang menyeberangi Jembatan Cinta ini akan mendapatkan cinta abadi," kata Fathya Arta, mahasiswa salah satu perguruan tinggi di Jakarta yang datang bersama tunangannya, Kukuh.

Meski tidak sepenuhnya percaya dengan mitos itu, Fathya menegaskan, tujuan utamanya adalah mengisi liburan panjang sekaligus menikmati keindahan alam yang ditawarkan oleh Pulau Tidung. "Namanya juga mitos, boleh percaya dan boleh tidak. Saya cuma penasaran saja setelah mendengar cerita teman-teman yang pernah ke sini," katanya.

Versi lain dari mitos Jembatan Cinta adalah, pasangan yang secara bersama berani melompat dari jembatan itu, hanya maut yang akan memisahkan mereka. Di salah satu bagian tertinggi dari jembatan yang dibuat melengkung setinggi tujuh meter, puluhan anak-anak muda tampak mengantri untuk melompat.

Namun, tidak sedikit yang tampak ragu-ragu dan tidak berani untuk melompat setelah berada di pinggir jembatan. "Kalau ragu-ragu, tidak usah dipaksakan melompat, nanti malah nggak bisa muncul lagi ke permukaan," kata salah seorang pengunjung mengingatkan rekannya yang sudah siap-siap dengan kamera untuk mengabadikan peristiwa itu.

Pulau Tidung yang bisa ditempuh dalam waktu sekitar satu setengah jam dari Pantai Marina Ancol, menjadi pilihan warga Jakarta yang ingin menghabiskan waktu liburan Lebaran. Jenny Ansar, seorang pemandu wisata yang ditemui di lokasi wisata itu mengakui bahwa meski ia lahir dan besar di Pulau Tidung, dirinya sama sekali tidak mengetahui cerita dibalik Jembatan Cinta tersebut.

"Saya kira nama Pulau Cinta hanya dibikin-bikin agar menarik perhatian pengunjung saja. Saya kira tidak ada cerita rakyat dari sini soal jembatan itu," kata pria kekar dan berkulit hitam legam itu. Pengunjung Pulau Tidung tidak hanya didominasi anak-anak muda, tapi juga rombongan keluarga yang terdiri atas anak-anak sampai orang tua.

Selain Jembatan Cinta, objek wisata lainnya adalah menyaksikan keindahan terumbu karang, berenang di pantai yang berpasir putih, serta permainan perahu yang ditarik kapal (banana boat). Masrio, salah seorang pengelola biro perjalanan wisata Pulau Tidung mengatakan, kunjungan wisata ke pulau tersebut tahun ini tidak sebanyak dibanding liburan Lebaran tahun lalu.

"Tahun lalu kunjungan wisatawan waktu liburan Lebaran mencapai 7.000 orang, tapi untuk tahun ini saya kira tidak lebih dari 3.000," kata pria bertato tersebut. Masrio menduga, waktu Lebaran yang berdekatan dengan tahun ajaran baru ikut menjadi penyebab penurunan itu karena para orang tua lebih memprioritaskan anggaran untuk biaya pendidikan.

Mengenai transportasi ke Pulau Tidung maupun pulau-pulau lainnya, Masrio mengaku masih menjadi salah satu kendala yang sering dikeluhkan pengunjung, selain sampah yang banyak berserakan di bibir pantai. Selain Pelabuhan Marina, Ancol, pelabuhan lain menuju objek wisata Kepulauan Seribu adalah pelabuhan Muara Angke, yang sebenarnya merupakan pelabuhan kapal nelayan.

Berbeda dengan Pelabuhan Marina yang tampak lebih modern dengan menyediakan speed boat dengan tarif Rp 200.000 sekali jalan, pelabuhan Muara Angke terlihat kumuh dan menyediakan kapal kayu yang disebut "ojek kapal" dengan tarif hanya sekitar Rp 50.000.  
 
"Yang membedakan hanyalah fasilitas transportasi, sehingga tarif paket wisata dari Marina bisa dua kali lipat dibandingkan dengan tarif dari Muara Angke," katanya. Paket wisata ke Pulau Tidung dan pulau lainnya dari Muara Angke rata-rata hanya berkisar Rp 400 ribu, sedangkan dari Pelabuhan Marina mencapai Rp 800.000. (Jr.)**
.

Categories:Wisata,
Tags:,