Sejumlah Festival Warnai Tradisi Idulfitri di Australia

Sejumlah Festival Warnai Tradisi Idulfitri di Australia

Sydney -  Kendati sebagian besar penduduk bukan muslim, suasana Lebaran di Australia cukup meriah.   Warga muslim yang berlebaran pun menggelar sejumlah festiva selama Hari Raya Lebaran. Tampaknya, festival tersebut sudah menjadi tradisi setiap Lebaran di Australia. 
 
Seperti dilansir Theholidayspot, Sabtu (18/7/2015) dimulai dari Festival Idulfitri yang diselenggarakan MEFF Konsorsium Australia di Sydney tahun 1987. Festival itu terus berkembang dan bertahan sampai sekarang, yang juga dimeriahkan oleh penduduk non-Muslim. 
 
Oleh karena itu, Festival Idulfitri kini semakin meluas sampai ke seluruh kota di Australia. Festival Idulfitri terbesar di Melbourne biasanya diadakan di Broadmeadows, yang digelar akhir pekan setelah merayakan Hari Raya Idulfitri. 
 
Sementara di Canberra, Festival Idulfitri disponsori Kepolisian Federal Australia pada Minggu setelah Hari Raya Idulfitri.  Festival Idul Fitri itu juga dilengkapi wahana untuk anak-anak dan orang dewasa. Kegiatan ini dilakukan Pemerintah Australia yang merupakan bagian dari program persatuan kultur dan budaya.   
 
Meski penduduknya bukan mayoritas muslim, Australia tetap merayakan Idulfitri dengan damai, termasuk saat Salat Id. Dalam menjalankan Salat Id, maka polisi memblokir jalan dan mengalihkan arus lalu lintas untuk melayani umat Muslim beribadah Salat Id. 
 
Lain lagi dengan di Perth, Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Perth, Australia Barat, menggelar open house Idulfitri di Wisma Indonesia di kawasan Applecross, Perth. Ajang itu menjadi wadah silaturahmi masyarakat Indonesia di negara bagian Australia Barat.
 
Menurut Konsul Jenderal (Konjen) RI untuk Australia Barat di Perth, Ade Padmo Sarwono, acara tahunan ini merupakan upaya mengakrabkan persaudaraan masyarakat Indonesia. Dengan hidangan bakso dan lontong sayur, acara itu berlangsung santai di halaman depan Wisma Indonesia, rumah dinas Konjen RI di Perth, sejak pukul 12.00 hingga 15.00 waktu setempat.

"Open house biasanya bergantian digelar di kantor KJRI, terkadang juga di Wisma Indonesia. Namun untuk tahun ini berlangsung di Wisma Indonesia agar tamu merasa lebih dekat dengan rumah untuk semua masyarakat Indonesia di sini," kata Ade Padmo Sarwono.

KJRI pada awalnya memperkirakan tamu yang akan datang sebanyak 500 orang, tapi angka itu melambung hingga mencapai 700 orang. Open house di Wisma Indonesia di Perth dihadiri  perwakilan dari berbagai organisasi masyarakat (ormas) Indonesia di Australia Barat. Ada pula mahasiswa, penduduk permanen Australia dan warga Indonesia yang telah menjadi warga negara Australia.
 
Menurut Ade Padmo, ada sekitar 52 organisasi masyarakat (ormas) terdaftar di data KJRI Perth. Ormas ini terbentuk berdasarkan suku, agama, profesi, hobi, alumni, dan universitas. "Tadi sudah datang juga perwakilan dari gereja, Konjen Vietnam di Perth, dan anggota parlemen Australia Barat," katanya.

Sejak tahun ini, lewat situs www.simpul.com, KJRI di Perth tengah mengupayakan untuk melakukan pendataan ulang terhadap jumlah orang Indonesia atau keturunan Indonesia yang bermukim di Australia Barat. "Idenya membuat semua ormas itu tercantum dan merinci data anggota mereka di simpul.com, sehingga nanti kita bisa lihat pasti berapa besar populasi komunitas Indonesia di Australia Barat," tambahnya. (Jr.)**
.

Categories:Internasional,
Tags:,