Warga Muslim Minta Kios Mereka Segera Dibangun

Warga Muslim Minta Kios Mereka Segera Dibangun

Tolikara - Warga Muslim yang menjadi korban insiden kekerasan di Tolikara, Papua, mengharapkan agar kios dan musala mereka yang terbakar dapat segera dibangun kembali.
 
"Itu yang sangat diharapkan pemilik kios," kata Jackson Johan, salah-seorang warga Muslim sekaligus pengurus musala Tolikara yang ikut terbakar, kepada wartawan BBC Indonesia, Heyder Affan, Kamis (23/07).
Menurutnya, sebagian besar pemilik kios ingin tetap menjalankan bisnis di wilayah itu.
 
"Sebagian kecil ingin pulang (ke asalnya) karena mungkin trauma," kata pria kelahiran 1975 ini. Dia mengaku, insiden ini merupakan yang kedua setelah Pilkada 2012 lalui.
 
Sejauh ini, sekitar 250 orang warga Muslim masih mengungsi di tenda darurat di depan Markas Koramil Tolikara. Rencananya mereka akan direlokasi ke kantor lama Bupati Tolikara.
 
Jackson dan warga Muslim lainnya tidak memasalahkan rencana pemindahan lokasi kios dan musala ke tempat lain seperti yang telah ditetapkan oleh pemerintah Kabupaten Tolikara.
 
Pemerintah pusat sebelumnya telah menjamin tersedianya anggaran untuk biaya rekonstruksi akibat insiden tersebut.
Kementerian Sosial menjanjikan akan merenovasi semua kios dan musala yang terbakar.

Situasi keamanan

Di tempat terpisah, Kapolda Papua, Inspektur Jenderal Yotje Mende, mengatakan, situasi keamanan di Tolikara saat ini telah kondusif.
 
"Semua aktivitas masyarakat sudah berjalan normal. Kios-kios dan toko-toko sudah dibuka," kata Yotje Mende.
Rabu (22/07), perwakilan masyarakat Muslim dan pimpinan Gereja Injili Di Indonesia (GIDI) di Tolikara telah menggelar upacara perdamaian di dekat lokasi kejadian.
 
Lebih lanjut Jackson Johan mengatakan, dirinya berharap perdamaian kedua pihak itu akan berimbas kepada aspek keamanan di Tolikara.
 
"Asal jangan ada yang terprovokasi. Kita masih khawatir apalagi dalam waktu dekat ada pilkada," kata pria kelahiran Jayapura, tetapi keluarga besarnya berasal dari Sulawesi Selatan ini.
Menurutnya, sebelum insiden, warga Muslim di Tolikara tidak pernah konflik dengan warga Kristen yang mayoritas.

'Hanya dua jam'

Secara terpisah, perwakilan pemuda Gereja Injili Di Indonesia (GIDI) Papua, yang tidak mau disebutkan namanya, mengatakan situasi di Tolikara "sudah aman" dua jam setelah insiden tersebut.
 
"Hanya dua jam saja itu, setelah kegiatan itu berjalan seperti semula. Semua aman-aman saja, semua sudah jalan baik," katanya, saat dihubungi melalui saluran telepon dari jakarta.
 
Sementara itu, situasi keamanan di Kabupaten Tolikara, Papua, sudah "sangat kondusif".
"Di mana antara masyarakat yang tadinya bertikai sudah beraktivitas seperti biasa," kata Bertha, yang melaporkan dari Tolikara, Kamis (23/07).
 
Secara umum, aktivitas perkantoran dan bisnis di Tolikara sudah berjalan seperti sedia kala. "Jadi, kios-kios yang tidak terkena insiden sudah buka seperti biasanya," ungkapnya seperti dilansir BBC.(Ode)**
.

Categories:Daerah,
Tags:daerah,