Debus, Permainan Rakyat yang Mengandung Unsur Magis

Debus, Permainan Rakyat yang Mengandung Unsur Magis

Debus, Permainan Rakyat yang Mengandung Unsur Magis.

BERBAGAI adegan yang diperlihatkan dalam permainan debus, 
seringkali membuat penonton berteriak histeris. Terutama jika 
permainan debus ini, ditonton oleh kaum wanita. Namun tidak 
sedikit pula kadangkala penonton pria pun ikut-ikutan berteriak 
saat menyaksikan atraksi yang ditampilkan oleh pemain debus 
tersebut. 

Adegan seperti leher dipotong, dipisahkan antara kepala dan 
tubuhnya kemudian disambungkan lagi, itu sudah merupakan hal yang 
biasa dalam permainan debus. Begitu pun halnya dengan atraksi 
lainnya seperti menggoreng telur di atas kepala, membalur badan 
dengan pecahan kaca, serta sejumlah atraksi lainnya yang dapat 
dipastikan akan membuat jantung berdetak lebih keras pada saat 
menyaksikan adegan tadi.

Saat ini, seni permainan debus pun nampaknya sudah banyak 
mengalami pergeseran. Kalau sebelumnya hanya orang Banten yang 
menguasai seni permainan debus ini, namun sekarang orang-orang di 
luar Banten pun, sudah banyak yang menguasai seni permainan debus 
ini.

Salah seorang seniman debus di luar Banten yang sudah cukup 
dikenal adalah Tatang Darya, seorang seniman yang berasal dari 
kawasan Bandung Selatan. Seniman yang akrab dipanggil Atang ini 
pernah mengatakan, semua hal yang terjadi dalam atraksi yang ditampilkan 
di debus, sebenarnya hanyalah permainan semata.

Beberapa permainan debus yang dikuasai dan pernah ditampilkan di 
atas panggung diantaranya, potong lidah, menyincang kol di atas 
perut, minum dan mandi air keras, makan beling, tidur di atas 
duri salak, tidur di atas paku, tidur di atas besi empat biji, 
potong leher, makan kalajengking, minum air satu drum dan masih 
banyak lagi yang lainnya.

Pria kelahiran Kampung Bojongpeuteuy Desa Langonsari Kecamatan 
Pameungpeuk Kabupaten Bandung ini, sudah cukup lama 
menggeluti seni tradisional debus melalui perkumpulan Pencak 
Silat Gelar Pusaka Sunda. Dulu memang Atang sempat berguru di Banten tepatnya di Baduy Dalam pada saat usianya menginjak 12 tahun.

Waktu itu menurut Tatang sekitar tahun 1960-an, saat ia mulai 
menginjakkan kakinya di wilayah Banten. Dengan tekad dan 
keberanian yang dimilikinya, dia menelusuri semua tempat yang ada 
di Banten. Perjalanan Atang akhirnya sampai ke sebuah goa yang 
berada di tutugan Bojong Manik. Di sanalah ilmu debus dipelajari 
dan diperdalam oleh Atang. Walaupun sejuta godaan dan rintangan 
datang menghadang, namun tekadnya sudah bulat untuk mendapatkan 
ilmu debus. 

Upaya yang dilakukan Atang akhirnya berhasil juga. Namun upaya 
yang dilakukannya tidak hanya sampai di sini, sebab Atang 
diketahui memiliki rasa tidak cepat puas dan rasa ingin tahu yang 
tinggi. Dengan semangat yang membara, akhirnya dia meneruskan 
lagi perjalanannya ke kawasan Baduy Luar. Memasuki wilayah ini, 
pakaiannya pun diganti dengan warna serba hitam, mulai dari 
kampret, ikat kepala serta sarung, semuanya berwarna hitam. Pada 
saat penjelajahannya, tak lupa Atang membawa sebuah golok bernama Bedog Gablogan.

Golok tersebut bukan untuk membunuh atau memenggal kepala orang, 
melainkan sudah merupakan suatu adat dan keharusan bagi orang- 
orang yang memasuki daerah Baduy waktu itu, ujar Atang. Dari 
Baduy Luar, akhirnya Atang sampai juga ke Baduy Dalam yang waktu 
itu sangat jarang dijamah orang luar. Memasuki wilayah Baduy 
Dalam ini, Atang harus berganti pakaian dengan warna yang serba 
putih.

Dari sini kemudian Atang melanjutkan perjalanannya ke wewengkon 
Empat Puluh Suhunan. Disebut demikian karena rumah di sana tidak 
boleh bertambah atau berkurang. Jika penduduk melahirkan atau 
melebihi kategori yang telah ditentukan, maka harus pindah ke 
wilayah Baduy Luar. Mereka melakukan itu karena semata-mata 
mentaati adat, tradisi dan keyakinannya terhadap puun (tetua).

Setelah memasuki Baduy Dalam (40 suhunan) untuk menyempurnakan 
ilmu, ia harus dimandikan dengan cai kawedukan. Mata air cai 
kawedukan ini, letaknya berdampingan dengan cai kahuripan. Kedua 
nama ini, merupakan tempat pemandian yang harus ditempuh oleh 
setiap jawara (jaro) dalam menyelesaikan pendidikan (ulikan). 
Agar ilmu yang diperdalam tadi dapat menyatu dengan jiwa orang 
tersebut, maka perlu dilakukan panyipuhan (disipuh). (AY)

.

Categories:Unik,
Tags:unik,