Babak Baru Pembangunan Tol Cileunyi-Tasikmalaya

Babak Baru Pembangunan Tol Cileunyi-Tasikmalaya

Bandung - Beberapa hari usai Hari Raya Idul Fitri 1436 Hijriah/2015 Masehi, Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan menyampaikan gagasan pembangunan jalan tol yang diharapkan bisa menjadi pemecah kemacetan arus lalu lintas di jalur selatan wilayah ini.

Kemacetan arus lalu lintas di wilayah selatan Provinsi Jabar itu, terutama terasa pada masa mudik dan balik Lebaran, sehingga tercetus gagasan untuk membangun Jalan Tol Cileunyi-Tasikmalaya.

Sebagai babak awal dari pembangunan Jalan Tol Cileunyi-Tasikmalaya tersebut, orang nomor satu di Pemprov Jabar tersebut menyatakan akan mendaftarkan rencana pembangunan jalan tol tersebut ke Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT).

"Kalau untuk sekarang sudah ada pra-feasibility study dan kami segera mendaftarkan ke BPJT supaya lekas masuk ke dalam rencana pembangunan tol nasional," kata Aher, sapaan akrab Ahmad Heryawan, di Bandung, beberapa hari lalu.

Selain itu, pihaknya juga telah memerintahkan Dinas Bina Marga, Dinas Perhubungan dan PT Jasa Sarana untuk segera membuat perencanaan pembangunan Jalan Tol Cileunyi-Tasikmalaya yang bertujuan memecah kemacetan arus lalu lintas di jalur selatan Jabar.

"Segera koordinasi dengan pemerintah pusat karena jalan tol harus masuk ke induk perencanaan pusat yakni ke Badan Pengelolaan Jalan Tol. Masuk ke situ segera kita kelola mudah-mudahan cepat ada langkah perencanaan pembangunannya," kata dia.

Dalam konteks pembangunan jalan tol tersebut pihaknya ingin membuat sebuah gebrakan dalam pembangunan jalan tol.

"Bahwa merencanakan pembangunan jalan tol itu tidak harus sampai 10 atau hingga 12 tahun. Mudah-mudahan tidak lama perencanaannya, jadi dari mulai perencanaan sampai jadi itu paling empat sampai lima tahun kira-kira jangan sampai 10 tahun," ujarnya.

Menurut dia, mulai tahun ini perencanaan pembangunan jalan tol yang akan memiliki panjang sekitar 60 kilometer ini segera dilakukan.

"Kalau perencanaan pembangunannya tahun ini nah untuk pembebasan lahannya mulai tahun depan, mudah-mudahan tidak lama perencanaannya," ujarnya.

Namun, kata Aher, membangun sebuah jalan tol di kawasan selatan Jawa Barat tidak semudah membangunan di kawasan utara wilayah ini.

"Cileunyi-Tasikmalaya itu memang tidak terlalu panjang. Tapi jalan tol di utara 60 km dengan di selatan itu beda. Di selatan Jabar itu bisa berkelok-kelok, menembus gunung, menghubungkan dua bukit, itu lain ceritanya, beda sama utara yang lurus. Mungkin di selatan akan sedikit agak lama karena kondisinya pegunungan," katanya.

Pihaknya telah memiliki rencana dan studi kelayakan, serta telah berkomunikasi dengan Kementerian PU sejak 2013 untuk pembangunan tol di jalur selatan ini.

Sempat beredar kabar bahwa rencana Gubernur Jabar Ahmad Heryawan akan memakai skema crowd funding atau menghimpun dana dari pegawai negeri sipil untuk pembangunan jalan tol ini.

Kabar tersebut langsung dibantah oleh Aher, "Enggak, enggak pakai sistem itu (crowd funding). Enggak begitu, saya hanya mencontohkan saja. Insya Allah tidak berat, mudah-mudahan. Toh kalau iuran juga bisa, saya begitu saja," katanya.

Sementara itu, anggota Komisi III DPRD Jawa Barat Sunatra mengkritik jika ide pembangunan jalan tol Cileunyi-Tasikmalaya menggunakan dana yang didapat dari iuran pegawai negeri sipil dari seluruh Indonesia, karena hal tersebut merupakan sesuatu yang tidak bijaksana.

"Jangan sampai membebani PNS untuk iuran Rp100 ribu per bulan selama dua tahun dengan adanya skema 'crowd funding'," kata Sunatra.

Menurut dia, jika skema itu diterapkan berarti selama 24 bulan PNS akan dipotong gajinya.

"Wah ini ide tidak bijaksana, PNS harus iuran Rp2,4 juta untuk bangun tol," kata politisi dari Fraksi Partai Gerindra DPRD Jabar tersebut.

Ia menuturkan, seharusnya dalam pembangunan sebuah infrastruktur tidak perlu melibatkan atau membebani PNS mengingat masih banyak cara untuk mencari uang untuk membangun tol itu.

"Contohnya bisa dari dana silpa APBD Jabar yang rata-rata tiap tahun Rp4,5 triliun atau mengintensifkan pajak kendaraan bermotor," katanya.

Menurut dia, dari silpa dua tahun anggaran saja bisa terkumpul Rp9 triliun atau menyisihkan 10 persen dari PKB tiap tahun yang rata-rata Rp3,5 triliun, maka dalam dua tahun akan terkumpul Rp7 triliun.

Apabila mengambil dari silpa APBD atau 10 persen dari PKB yang langsung disisihkan tiap tahun, kata Sunatra, maka dalam dua tahun terkumpul dana Rp16 triliun, nilai yang melebihi perkiraan dana yang diperlukan Rp14 triliun.

"Jadi dana itu belum ditambah dari APBN. Masa iya Presiden diam saja. Pasti istana membantu," katanya.

Dikatakan dia, pembangunan jalan tol tersebut memang sudah sangat mendesak karena tiap tahun warga dihadapkan pada kemacetan.

Dukungan Daerah Pembangunan Jalan Tol Cileunyi-Tasikmalaya ini didukung oleh Wali Kota Tasikmalaya Budiman karena jalan bebas hambatan tersebut dinilainya akan mendongkrak pertumbuhan ekonomi di wilayah Priangan.

"Selain akan mengentaskan masalah kemacetan di jalur selatan saat arus mudik ataupun arus balik Lebaran, jalan tol di jalur selatan itu pun akan membangkitkan kondisi perekonomian di wilayah priangan, " kata Budiman.

Menurut dia, usulan pembangunan jalan tol di wilayah selatan sudah dilakukan sejak jauh-jauh hari. Bahkan usulan disampaikan oleh enam kepala daerah di wilayah priangan timur.

"Jadi kami sudah mengusulkan bersama. Intinya di wilayah Priangan Timur seperti Tasikmalaya tentunya semua mendukung. Terakhir 2015 awal saat pembahasan Musrenbang 2016 sudah kami usulkan kepada pusat untuk segera membangun tol. Ini sudah mendesak," kata dia.

Selama ini, menurut dia, wilayah priangan timur iklim investasinya sangat terhambat karena infrastruktu padahal di wilayah tersebut sangat membutuhkan lapangan kerja.

"Seperti masalah Nagreg, gentong menjadi penghambat industri. Makanya harus ada solusi untuk mendongkrak investasi ke wilayah kami. Keberadaan jalur lingkar Gentong dan Nagreg tidak mampu mengatasi persoalan infrastruktur di selatan Jabar. Oleh karena itu, wilayah di priangan timur harus ada percepatan jalan tol," kata dia.

Sementara itu, Pengamat Transportasi dari Institut Teknologi Bandung (ITB) Ofyar Z Tamin menambahkan dalam sebelum memutuskan untuk membangunan sebuah jalan tol harus mempertimbangan sejumlah analisis yakni analisis kelayakan, analisis teknis, analisis finansial, analisis dampak lingkungan dan analisis sosial.

"Kalau semua layak maka selanjutnya tinggal dirancang, setelah itu baru di bangun," kata Ofyar.

Ia juga meminta pembangunan Jalan Tol Cileunyi-Tasikmalaya ini harus menjadi bagian jalan utuh dengan sistem aringan jalan tol lintas Selatan Jawa yakni dari Bandung ke Yogjakarta ke Madiun sampai ke Surabaya, Jawa Timur.

"Jadi yang namanya Bandung-Tasikmalaya ini tidak boleh stop atau terhenti di Tasikmalaya saja, harus terhubungan dengan jaringan jalan tol lintas selatan. yang belum tahu kapan akan dikerjakan," ujar dia.

Jalan tol tersebut, lanjut dia, jangan hanya mengandalkan pergerakan kendaraan saat arus mudik dan balik Lebaran semata, karena dikhawatirkan tidak akan ada investor yang tertarik dengan jalan tol ini.

Terkait kondisi pengaruh geografis Jabar Selatan yang berbukit-bukit terhadap pembangunan Jalan Tol Cileunyi-Tasikmalaya, ia mengatakan hal tersebut bisa diatasi dengan teknologi dan sumber daya manusia yang ada saat ini.

"Memang kondisi alam ini akan cukup berat dalam pembangunannya, tapi saya pikir ini tidak masalah yah. Ini bisa diatasi dengan adanya tekonologi. Cuma memang harus dibayar dengan biaya kontruksi yang lebih mahal saja karena kondisi alamnya demikian," kata dia.

Namun, lanjut dia, jika pembangunan Jalan Tol Cileunyi-Tasikmalaya tersebut dimaksudkan untuk mengurangi kemacetan di Jabar Selatan maka ada hal yang lebih tepat dibandingkan membangun jalan tol tersebut.

"Menurut saya kita tidak usah berpikir jalan tol dulu, karena yang namanya nasional di kabupaten/provinsi bisa diperbaiki dulu. Dan menambah jaringan jalan bukan solusi, tapi yang dilakukan saat ini ialah memperbaiki jaringan jalan yg ada, karena yang ada sekarang kapasitas jaringan jalannya menurun," kata dia. (AY)

.

Categories:Bandung,
Tags:bandung,