Terkuak, Bukti Margriet atas Pembunuhan Angeline

Terkuak, Bukti Margriet atas Pembunuhan Angeline

Margriet Megawe dinilai otak pembunuh anak angkatnya, Angeline.(Net)

Denpasar - Majelis Hakim Tunggal Achmad Petensili menyatakan, penolakan permohonan ibu angkat Angeline, Margriet Christina Megawe dalam sidang lanjutan gugatan praperadilan di Pengadilan Negeri (PN) Denpasar, didasarkan atas beberapa alasan.
 
Antara lain kesesuaian barang bukti, kesaksian para saksi dan hasil laboratorium forensik dengan jasad Angeline. "Yakni Tali oranye, gulungan tali warna biru yang telah disulut korek api, serta gulungan tali warna cokelat. Terakhir pisau dengan gagang cokelat dilakban," kata Parwata, kuasa hukum Polda Bali, Senin (27/7/2015).

Selanjutnya, termohon telah melakukan pemeriksaan TKP dan menemukan  darah di sekitar TKP. "Pencarian barang bukti berupa hasil otopsi yang telah dilakukan tim forensik RSUP Sanglah Denpasar, berupa seutas tali plastik warna merah dengan ukuran panjang 40 centimeter dalam keadaan rangkap dengan ujungnya tersimpul dan tercerabut," kata Parwata.

Kemudian seutas tali plastik warna biru berukuran panjang seikat pinggang dan boneka Barby. Ada pula celana dalam warna oranye, baju daster tanpa kerah warna putih motif bunga. "Dari hasil kesimpulan pemeriksaan pendahuluan dapat disimpulkan, barang bukti di kamar Margriet, di dapur, dan baju daster adalah benar terdapat noda darah yang tengah dianalisis untuk mendapatkan profil DNA-nya," katanya.

Ia juga menyebut, tali warna merah dan biru adalah benar memiliki kesamaan warna, diameter dan bentuk tali dengan yang terdapat di leher korban. Pada salah satu tali berwarna merah ada kesamaan bekas potongan yang berserabut. Sedangkan pada tali yang berwarna biru terdapat kesamaan potongan bekas dibakar seperti yang terdapat di leher korban. "Lubang tempat korban dikuburkan dalam keadaan basah dan berair," tegasnya.

Lalu tanda kematian Angeline berupa penyabunan pada seluruh tubuh, alat gerak bawah dan jari-jari lengan tangan kiri sudah mengalami skeletonesianisasi, yakni hilangnya jaringan lunak. "Luka-luka pada dahi samping kanan, enam sentimeter pada garis ukuran 5x5 sentimeter pada pangkal dan seluruh hidung depan terdapat luka memar kehitaman ukuran 5x2 sentimeter, pada pipi kiri 4 centimeter dari garis pertengahan depan di bawah sudut mata terdapat luka memar 2x3 sentimeter," katanya.

Sedangkan pada pipi kiri enam sentimeter dari garis pertengahan depan setinggi lubang telinga terdapat luka memar kehitaman ukuran 5x4 sentimeter.

Dari hasil pemeriksaan DNA, darah Angeline cocok dengan darah Hamidah dan Achmad Rosidik yang merupakan orangtua kandungnya. "Selanjutnya, dari keterangan Dokter Dudut, ahli kedokteran forensik Bareskrim Polri menyebutkan, korban mengenakan daster putih motif batik bunga-bunga warna hijau terdapat pendarahan di otak," kata Parwata.

"Selanjutnya keterangan Komisaris Besar Lukas Budi Santoso ahli poligraf yang menyatakan, Agus memberi pengakuan jika Margriet memerintahkan mengambil tali saat Angeline tergeletak di lantai dengan jari tengah dan manis bergerak," ujarnya.

"Agus mengambil tali berwarna cokelat dan biru mengikat korban. Kemudian tali dikalungkan ke leher korban dan tali ditarik dengan keras dan kepala Angeline terangkat. Agus melakukan hal itu atas inisiatif sendiri karena diiming-imingi uang," tambah Parwata.

Ia pun menyebut, keterangan saksi seperti Fancky A Marinka, Rahmat Handono dan Susiani serta sejumlah saksi lainnya bersesuaian dengan kondisi Angeline, saat pertama kali ditemukan tak bernyawa terkubur di dekat kandang ayam halaman belakang rumahnya. (Jr.)**
.

Categories:Nasional,
Tags:kriminal,