Masyarakat Bawah Terdampak Krisis Ekonomi Era Jokowi

Masyarakat Bawah Terdampak Krisis Ekonomi Era Jokowi

Jakarta - Meski para menteri bidang perekonomian merasa yakin ekonomi Indonesia saat ini dinyatakan aman-aman saja, masyarakat kalangan bawah terkena langsung dampak ekonomi nasional yang bisa dibilang sudah memasuki pada tahap krisis.
 
"Kalau krisis tahun 1998 yang terkena kelas menengah atas dibabat habis, maka tahun ini masyarakat kita di lapisan bawah yang kena," kata Ketua Umum Partai Persatuan Indonesia (Perindo) Hary Tanoesoedibjo di Hotel Sari Pan Pacific Jakarta, Selasa (28/7/2015).

Memang kondisi ekonomi terus berubah pada kurun waktu beberapa tahun ini. Namun pada tahun 70-an Indonesia tertolong oleh kelebihan minyak yang bisa diekspor, sehingga jadi masukan pembangunan. Kemudian era 80-an dan 90-an era industri berkembang pesat khususnya sektor manufaktur.  "Kita harus menciptakan ladang ekonomi besar sehingga menjadi penopang ekonomi kini," katanya.

Berbagai program pemerintah, katanhya seharusnya bisa menyentuh masyarakat menengah bawah yang sifatnya makro. Perlu juga program mikro yang diarahkan ke UMKM, karena jumlahnya begitu banyak yang sebentar lagi mereka dihadapkan pada perdagangan bebas MEA. 

Pada sisi lain, hampir tidak ada produk ekonomi kuat yang mampu menopang kondisi ekonomi saat ini. Menurutnya Indonesia rutin mengimpor 600 ribu barel minyak bumi. Angka impor tersebut akan terus meningkat, karena kebutuhan masyarakat terus bertambah.

"Krisis minyak akan terus berkembang karena generasi muda kita jumlahnya besar. Industri kita sudah mulai melemah, kita bergeser dari ekonomi berbasis industri menjadi berbasis ekonomi. Lapangan kerja lebih sedikit daripada kebutuhan kerja," tegasnya.

Oleh karena itu, keterpurukan ekonomi yang lebih dirasakan oleh masyarakat bawah sekarang ini perlu penyelesaian yang cepat dan tepat sasaran. Apabila pemerintah terus mengabaikan masalah tersebut, kemungkinan akan merembet ke masalah sosial. (Jr.)**
.

Categories:Ekonomi,
Tags:,