Lutung Jawa Kehilangan Tiga Generasi

Lutung Jawa Kehilangan Tiga Generasi

Lutung Jawa Kehilangan Tiga Generasi

Malang - Java Langur Center Batu, Jawa Timur, mencatat selama 36 tahun terakhir Lutung Jawa atau Trachypithecus Auratus telah kehilangan tiga generasi, dan populasi di habitat aslinya juga menurun sekitar 30 persen.

Project Manager JLC Iwan Kurniawan, Selasa (28/10/2014), mengatakan menurunnya populasi Lutung Jawa disebabkan perburuan liar serta menurunnya kualitas habitat.

Selain itu, populasi lutung terancam punah karena tingginya perdagangan secara ilegal di sejumlah wilayah, termasuk Jatim.

"Pada 1999, spesies Lutung Jawa ini masuk kategori konvensi perdagangan internasional tumbuhan dan satwa liar (CITES) karena populasinya mendekati terancam punah sehingga Lutung Jawa pun dilindungi keberadaannya," tegas Iwan.

Salah satu upaya untuk mencegah kepunahan jenis lutung ini, JLC melepasliarkan satu kelompok Lutung Jawa yang terdiri dari seekor jantan dan tiga ekor betina, namun sebelum dilepasliarkan di kawasan Gunung Biru Kota Batu itu, lutung-lutung tersebut dikarantina.

Lutung Jawa yang dilepasliarkan antara lain Bobby (jantan) dan Rose (betina) hasil tangkapan BKSDA, sedangkan Linseed (betina) dan Diamond (betina) berasal dari Inggris.

"Lutung Jawa ini merupakan satwa arboreal yang banyak beraktivitas di atas pohon, hidup berkelompok dengan jumlah individu antara enam sampai 23 ekor," katanya.

Bahkan, lanjutnya, JLC telah lima kali melepasliarkan Lutung Jawa dengan total 73 individu di sejumlah lokasi, mulai di Suaka Margasatwa Dataran Tinggi Hyang, Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) dan Taman Hutan rakyat (Tahrua), R Soerjo di Batu. Hasil pemantauan setelah puluhan lutung itu dilepasliarkan, ternyata bisa bertahan dan berkembang biak dengan baik.

Sebelumnya Juru Kampanye PROFAUNA Indonesia Swasti Prawidya Mukti mengatakan keberadaan Lutung Jawa di hutan-hutan Pulau Jawa, diperkirakan makin mendekati kepunahan. Perburuan manusia, perdagangan secara online dan menyempitnya habitat lutung, menjadi penyebab makin sedikitnya populasi hewan tersebut.

"Berdasarkan pengamatan kami, di wilayah Jawa Timur, lutung memang masih ditemukan di kawasan Gunung Arjuno dan hampir semua taman nasional, seperti TNBTS, di alas Purwo, namun jumlahnya sudah tidak banyak dan jika tidak ada tindakan nyata dari semua pihak, termasuk pemerintah, keberadaan Lutung Jawa ini akan punah," ujarnya.

Lutung Jawa adalah primata endemik Jawa yang dilindungi keberadaannya. Karena itu, masyarakat seharusnya bisa membantu melestarikan keberadaan lutung ini dengan tidak membeli hewan dari sumber mana pun. Berdasarkan hasil investigasi PROFAUNA selama setahun terakhir, Lutung Jawa awalnya banyak diperdagangkan di pasar-pasar terbuka, namun tren perdagangannya saat ini mengalami perubahanan, lebih banyak diperdagangkan melalui media online.

Kisaran harga Lutung Jawa yang ditawarkan dalam media online tersebut bervariasi. Untuk Lutung dewasa, biasanya ditawarkan dengan seharga Rp 500 ribu per ekor dan lutung usia bayi cenderung lebih mahal, sepeti umur di bawah satu bulan bisa dijual seharga Rp1,5 juta per ekor.

Selain Lutung Jawa yang menjadi komoditas perdagangan online, hewan liar dan dilindungi lainnya juga diperdagangkan secara bebas, seperti Elang dan Kukang.  (AY)

.

Categories:Nasional,
Tags:nasional,