2 Muktamirin Diseret Keluar, Sidang Pleno Ricuh

2 Muktamirin Diseret Keluar, Sidang Pleno Ricuh

Jombang - Sidang Pleno Pembahasan dan Pengesahan Tata Tertib Muktamar ke-33 NU berlangsung ricuh. Dua muktamirin pun diseret keluar dari ruang sidang.
 
Bermula ketika memasuki pembahasan Rencana Tata Tertib Muktamar NU Bab VIII, tentang Pemilihan Rais Aam dan Ketua Umum. Pada Pasal 19 menyebutkan, Pemilihan Rais Aam dilakukan secara musyawarah dengan sistem Ahlul Halli Wal Aqdi (Ahwa). Sidang berlanjut dengan hujan interupsi dari sejumlah muktamirin.
 
Salah seorang muktamirin terpaksa diseret keluar oleh sejumlah Banser yang berjaga di lokasi, karena saat itu ia yang berasal dari Riau mengusulkan agar sistem Ahwa tidak diberlakukan. Jika menemui jalan buntu, harus dikembalikan kepada Anggaran Dasar Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) NU.
 
Situasi mulai memanas, kericuhan pecah ketika muktamirin asal Riau itu mengeluarkan pernyataan yang menyinggung kyai. "Sebenarnya kami ini Tawaduk kepada Kyai. Sayangnya Kyai-kyai tidak bisa ditawaduki," katanya.
 
Pernyataan itu jelas memancing emosi muktamirin lainnya hingga terjadi kericuhan. Sempat terjadi aksi pemukulan kepada muktamirin itu hingga akhinya diseret keluar. Untuk mendinginkan suasana,  muktamirin lain melafalkan Salawat Badar hingga akhirnya situasi tenang dan sidang dilanjutkan kembali.
 
Saat sidang dilanjutkan kembali, muktamirin asal Kepri (Kepulauan Riau) lainnya diberikan waktu untuk berpendapat terkait Ahwa. Muktamirin itu tetap meminta kepada peserta sidang untuk tetap mengacu AD/ART untuk menjaga Marwah NU.
 
Pasalnya, kata muktamirin asal Kepri itu , sistem Ahwa jika diterapkan pada muktamar kali ini akan menabrak AD/ART. Hal itu tentu melunturkan Marwah para Kyai. Penyataan muktamirin  itu memancing kericuhan kembali, lantaran ia melontarkan pernyataan ada politik uang untuk merayu para muktamirin agar mau menyetujui sistem Ahwa diberlakukan pada Muktamar kali ini.
 
"Apakah ini cermin menjaga Marwah NU jika ada politik uang yang mengiming-imingi muktamirin. Saya melihat sendiri ada rekan saya yang datang membawa kantong berisi uang agar turut menyetujui sistem Ahwa," katanya. (Jr.)**
.

Categories:Nasional,
Tags:,