Menteri Hanya Umbar Janji, LPE Malah Kian Melambat

Menteri Hanya Umbar Janji, LPE Malah Kian Melambat

Ilustrasi.

Jakarta - Perkembangan dunia usaha bisa terhambat yang dipengaruhi oleh perlambatan pertumbuhan ekonomi. Bisa dikatakan, para pelaku usaha yang paling sensitif terhadap melambatnya perekonomian.
 
Menurut VP Chief Economist and Strategic Planning Division Bank Negara Indonesia (BNI), Ryan Kiryanto, pelaku usaha sudah tidak betah terhadap iklim ekonomi saat ini. Mereka berharap agar pemerintah bertindak untuk mengatasi lesunya perekonomian. "Yang ditunggu dunia usaha ada take action. Tidak bisa pemerintah hanya memberikan statement, umbar janji atau komitmen. Itu enggak cukup. Pengusaha menanti itu," katanya.
 
Dengan bukti kerja dari pemerintah, selain memperbaiki iklim dunia usaha, juga bisa memperbaiki kepercayaan publik terhadap pemerintahan era Jokowi-JK. Pemerintah cukup menjalankan salah satu fungsi nawacita, yang menyatakan fokus membangun infrastruktur. Memang pembangunan infrastruktur seharusnya sudah dijalankan sejak semester pertama, namun jika bisa direalisasikan penyerapan anggaran secepatnya, maka hal itu bisa menjadi obat perekonomian.
 
"Harus dipacu. Ini bagian pemerintah untuk menggerakkan perekonomian. Kontraktor bergerak, dunia usaha juga akan bergerak. Karena ada multiple effect. kalau kontraktor sudah bekerja, meterial lainnya seperti semen, batu bata dan lain-lain akan terdorong," tegasnya.
 
Sementara itu, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat laju pertumbuhan ekonomi (LPE) Indonesia kuartal II-2015 sebesar 4,67 persen year on year (yoy). Sedangkan secara kuartalan (qoq) tumbuh sebesar 3,78 persen. Angka itu sesuai dengan prediksi banyak pihak, pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak akan berada di atas angka 5 persen.
 
"Pada triwulan II-2015 PDB kita sebesar Rp 2.866,9 triliun dan atas dasar harga konstan 2010 Rp 2.239,3 triliun, sehingga terjadi pertumbuhan 4,67 untuk year on year," kata Kepala BPS Suryamin di kantornya, Rabu (5/8/2015).
 
Menurutnya, perlambatan ekonomi global dipicu rendahnya harga berbagai komoditas secara internasional. Sebut saja harga gandum, jagung, beras, kopi, daging sapi, ikan dan gula cenderung terjadi penurunan. Untuk migas, batu bara, bijih besi, alumnium, nikel dan timah juga menurun secara global.
 
Ketidakpastian kondisi pasar keuangan, yaitu kenaikan Fed Fund Rate juga mempengaruhi. Terlebih, mitra dagang juga melambat perekonomiannya seperti Amerika Serikat dari 2,9 persen menjadi 2,3 persen di kuartal II-2015, China juga melemah atau stagnan ke level tujuh persen, dan Singapura dari 2,1 persen pada kuartal I-2015 menjadi 1,7 persen bahkan di kuartal II.
 
"Negara lain juga, seperti Inggris dan Korea Selatan enggak lebih dari tiga persen. Artinya kepada negara kita tentu ada imbasnya," tegasnya. (Jr.)**
.

Categories:Ekonomi,
Tags:ekonomi,