Kekhawatiran Pemecahan Dua Kementrian Pendidikan

Kekhawatiran Pemecahan Dua Kementrian Pendidikan

Gedung Kemendiknas. Jakarta. (foto: NET)

Banjarmasin -Prof Dr HM Norsanie Darlan MS PH akademisi Universitas Palangka Raya Kalimantan Tengah  berharap, pemecahan Kementerian Pendidikan Nasional menjadi dua pada Kabinet Kerja Jokowi - JK, tidak menimbulkan masalah.

"Saya khawatir dengan adanya dua kementerian yang mengurusi pendidikan di negeri ini bisa menimbulkan kesulitan atau masalah," ujar dosen Universitas Palangka Raya (Unpar) tersebut kepada Antara Kalimantan Selatan, di Banjarmasin, Rabu (29/10/2014).

Pendapat akademisi dari perguruan tinggi negeri tertua di "Bumi Isen Mulang (pantang mundur) Kalimantan Tengah (Kalteng) itu berkaitan Kabinet Kerja Jokowi - JK yang terjadi pemecahan Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas).

Dalam Kebinet Kerja Jokowi - JK ada dua Menteri yang hampir sama atau banyak bersinggungan satu sama lain dalam tugas dan fungsi, yaitu Menteri Kebudayaan dan Pendidikan Dasar dan Menengah, serta Menteri Riset dan Pendidikan Tinggi.

Karena, menurut Guru Besar perguruan tinggi yang menjadi kebanggaan masyarakat Bumi Isen Mulang atau "Bumi Tambung Bungai" Kalteng itu, Direktorat Jenderal (Ditjen) Pedidikan Tinggi (Dikti) salah satunya bertugas memproduk profesor.

"Saya belum yakin semua profesor yang diproduk orang-orang perguruan tinggi/dosen. Siapa tahu non dosen juga bisa muncul masalah baru," tandas dosen pascasarjana Pendidikan Luar Sekolah (PLS) pada Unpar tersebut.

"Tapi saya yakin hal tersebut akan disaring, jangan asal ada usul tanpa memperhatikan seleksinya," lanjut anak desa kelahiran Anjir Serapat Kabupaten Kapuas, Kalteng yang berkaris dari mulai pegawai rendahan hingga profesor itu.

Pada bagian lain, mantan aktivis Iktan Pers Mahasiswa Indonesia (IPMI) itu menyampaikan selamat kepada 34 Meteri Kabinet Kerja Jokowi - JK yang terpilih dari 250 juta penduduk Indonesia.

Namun dia mempertanykan, apakah mereka yang terpelih menjadi Menteri dari banyak orang cerdik pandai, cendekiawan, serta profesor atau Guru Besar itu sudah sesuai dengan keahliannya.

Mengenai harapan, putra dari "Bumi Isen Mulang" (pantang mundur) Kalteng itu agar pemerintahan Jokowi - JK dapat mengubah atau lebih memajukan provinsi terluas kedua di Indonesia tersebut.

"Harapan tidak terlalu banyak, kecuali bagaimana pemerintahan Jokowi - JK membuat Bumi Isen Mulang atau 'Bumi Tambung Bungai' lebih maju lagi, setara dengan provinsi lain yang sudah maju di Indonesia," demikian Norsanie Darlan. Sebelum era reformasi Kalteng yang memiliki luas hampir satu setengah kali luas Pulau Jawa itu terbagi enam kabupaten/kota, dan kini menjadi 14 kabupaten/kota.

Kabupaten/kota di Kalteng sebelum reformasi, yaitu Kotamadya Palangkaraya, Kabupaten Kapuas, Kotawaringin Timur (Kotim), Kotawaringin Barat (Kobar), Barito Utara (Barut/Batara), dan Kabupaten Barito Selatan (Barsel).

Pada era reformasi Kabupaten Kapuas dimekarkakan menjadi tiga, yaitu Kabupaten Kapuas, Pulang Pisau dan Kabupaten Gunung Mas yang berada di hulu Sungai Kahayan.

Kemudian Kotim dan Kobar masing-masing dimekarkan menjadi tiga, yaitu Kotim, Katingan dan Kabupaten Seruyan, serta Kobar, Lamanadu dan Kabupaten Sukamara.

Sedangkan Barut dan Barsel masing-masing dimekarkan menjadi dua, yaitu Barut dan Kabupaten Murung Raya (Mura), serta Barsel dan Kabupaten Barito Timur (Bartim).(Ode)**

.

Categories:Pendidikan,
Tags:pendidikan,