Kritis, Rupiah Dekati Titik Terendah dalam 17 Tahun

Kritis, Rupiah Dekati Titik Terendah dalam 17 Tahun

Jakarta - Kurs rupiah anjlok menuju titik terendah dalam 17 tahun terakhir ini, yang disebabkan oleh aksi jual yang dilakukan oleh kalangan investor asing. Sebagian besar investor asing melepas kepemilikan mereka di obligasi, setelah melihat realisasi pertumbuhan ekonomi di Semester I 2015 ini sebagai yang terendah sejak akhir 2009.
 
Berdasarkan laporan Bloomberg, Jumat (7/8/2015) rupiah diperdagangkan pada level Rp 13.534 per dolar AS. Pada perdagangan sebelumnya, rupiah ditutup di level Rp 13,529 per dolar AS. Sedangkan pada pembukaan hari ini, rupiah berada di level Rp 13.535 per dolar AS. Sepanjang pagi hingga siang ini, rupiah berada di kisaran Rp 13.510 per dolar AS hingga Rp 13.548 per dolar AS. 

Sementara kurs tengah Bank Indonesia (BI) mencatat, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS melemah 7 poin menjadi Rp 15.536 per dolar AS dari Rp 13.529 per dolar AS pada perdagangan kemarin. Sejak awal tahun ini, nilai tukar rupiah terus tertekan. Di awal Januari 2015,  rupiah berada di level Rp 12.474 per dolar AS. Jika dihitung, rupiah telah melemah 8,5 persen. 

Posisi rupiah ini memang belum terlalu buruk jika dibandingkan dengan 1998 lalu. Saat itu, rupiah sempat menyentuh level Rp 15.000 per dolar AS. Namun dalam kurun waktu 17 tahun terakhir, nilai tukar rupiah belum pernah tertekan cukup dalam seperti yang terjadi saat ini. 

Ada beberapa sentimen yang mempengaruhi pelemahan rupiah. Pertama tentu saja penguatan dolar AS karena ada ekspentasi rencana kenaikan suku bunga The Fed. "Ekspektasi tersebut juga menekan beberapa mata uang lain seperti Ringgit Malaysia," kata Kepala Divisi Riset dan Analisis PT Monex Investindo (MIF), Ariston Tjendra. 

Namun selain sentimen dari luar, sentimen dari dalam negeri juga turut mempengaruhi. Pengumuman pertumbuhan ekonomi yang kembali melemah juga menekan nilai tukar rupiah karena investor melakukan aksi jual rupiah. "Dari sebelumnya hanya wait and see menjadi akhirnya mengambil posisi," tegas Ekonom PT Bank Saudara Tbk, Rully Nova.

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal II 2015 sebesar 4,67 persen atau turun dari realisasi kuartal sebelumnya 4,72 persen. Hingga semester I, ekonomi Indonesia hanya tumbuh 4,7 persen, turun dari periode yang sama tahun lalu sekitar 5,17 persen.
 
Level itu melambat karena dipicu lesunya perekonomian global, termasuk negara mitra dagang Indonesia dan pelemahan harga komoditas. "Pertumbuhan ekonomi di kuartal II ini sebesar 4,67 persen dibanding periode sama 2014 (Year on year) dan 3,78 persen secara Q to q. Dengan besaran Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal II 2015 atas dasar harga konstan Rp 2.293,3 triliun," kata Kepala BPS Suryamin‎. (Jr.)**
.

Categories:Ekonomi,
Tags:,