Kasus Supersemar, Tidak Benar Ahli Waris Soeharto Dihukum Denda Triliunan

Kasus Supersemar, Tidak Benar Ahli Waris Soeharto Dihukum Denda Triliunan

Jakarta - Berbeda dengan pemberitaan berbagai media, putusan Peninjauan Kembali (PK) Mahkamah Agung (MA) hanya mengoreksi angka denda yang dijatuhkan untuk Yayasan Supersemar namun tidak menghukum mendiang Soeharto dan ahli warisnya, padahal para pengacara keluarga Soeharto sudah siap berkumpul di Cendana.
 
Kepada juru bicara MA, Suhadi, BBC Indonesia meminta kepastian apakah mendiang Soeharto dan ahli warisnya termasuk yang dihukum untuk membayar denda Rp4,4 triliun.
 
"Tidak. Yayasan Supersemar saja (yang dihukum)," tegas Suhadi.
 
"Itu sudah jelas. Memang dalam perkara itu, H. Muhammad Soeharto sebagai tergugat I dan Yayasan Supersemar sebagai tergugat II. Namun oleh putusan dari tingkat pertama Pengadilan Negeri Jakarta Selatan sampai kasasi (MA) yang dinyatakan melakukan perbuatan melawan hukum adalah Yayasan Supersemar (saja)," tambah Suhardi pula.
 
Jadi mendiang presiden Soeharto sebagai pendiri Yayasan Supersemar tidak pernah dinyatakan melawan hukum, tidak pula dijatuhi hukuman.
 
"Peninjauan Kembali (PK oleh Kejaksaan Agung sebagai wakil pemerintah) diajukan hanya terkait kekeliruan angka dalam jumlah hukuman denda yang dijatuhkan," tandas Suhadi.

Reaksi Cendana

Yang dimaksud adalah kesalahan dalam putusan 8 Juli 2015, yang kekurangan tiga digit dalam menuliskan angka kerugian negara sebesar Rp139,438 miliar.Aksi-aksi rakyat menuntut pengusutan terhadap Supersemar marak. 
 
Adapun jumlah keseluruhan denda Rp4,4 triliun harus dibayar hanya oleh Yayasan Supersemar saja, dan tidak oleh Soeharto dan ahli warisnya.
 
Putusan ini menimbulkan kesimpangsiuran, karena berbagai media memberitakan bahwa para ahli waris Soeharto juga turut dihukum membayar denda itu.
 
"Jangankan Anda, saya juga bingung," kata M. Assegaf, pengacara keluarga Soeharto, kepada BBC Indonesia.
"Kami para pengacara, sudah dihubungi oleh keluarga Pak Harto, mungkin Mamiek (salah satu puteri Soeharto), untuk berkumpul membahas masalah ini," papar Assegaf.
 
"Sedianya, Selasa malam kami akan bertemu di rumah keluarga Soeharto di jalan Cendana. Tapi sesudah diperiksa lagi dengan teliti, jelas bahwa yang dihukum itu Yayasan Supersemar. Sedangkan almarhum Pak Harto tidak ada sangkut pautnya," tegas Assegaf pula.

Berikutnya: eksekusi

Betapapun, putusan itu sudah bisa dieksekusi karena sudah berkekuatan hukum tetap, jubir MA, Suhadi menegaskan.
"Pelaksanaannya nanti merupakan kewenangan Ketua Pengadilan Negeri Jakarta Selatan (tempat perkara ini diajukan)," papar Suhadi.
Jaksa Agung yang mewakili pemerintah menyatakan siap untuk memproses eksekusi terhadap putusan MA terakhir.
 
Kepada wartawan yang mencegatnya di Istana Bogor, Jaksa Agung HM Prasetyo menyebutkan akan segera mempelajari putusan MA tersebut.
 
"Kami akan mencermati dulu, menyangkut masalah jumlah dan aneka ragam aset," kata Prasetyo.
Jika Yayasan Supersemar langsung membayar denda yang ditentukan, perkaranya selesai. Namun jika tidak, penyitaan aset bisa dilakukan.

Sesudah gagalnya pidana

Emerson Yuntho dari Indonesian Corruption Watch menyayangkan bahwa dalam kasus ini Soeharto lolos.
Betapapun, katanya, gugatan perdata ini merupakan bagian dari upaya untuk membidik Soeharto setelah upaya mempidanakannya gagal karena pengadilan waktu itu menyatakan mendiang Soeharto tidak cukup sehat untuk menjalani pengadilan.
 
Perkara ini diajukan pada tahun 2007, oleh pemerintah yang menggugat Soeharto dan Yayasan Supersemar atas dugaan penyelewengan dana beasiswa.
 
Dalam gugatannya, Kejaksaan Agung menyebut, dana Supersemar seharusnya disalurkan kepada siswa dan mahasiswa, namun sebagian diberikan kepada sejumlah perusahaan seperti Bank Duta sebesar US$420 juta, PT Sempati Air Rp 13,173 miliar, serta PT Kiani Lestari dan Kiani Sakti Rp150 miliar.
 
Hasilnya, mulai vonis pengadilan negeri hingga kasasi dan kemudian PK Mahkamah Agung, hanya menghukum Yayasan Supersemar sebagai tergugat II dan melepaskan Soeharto sebagai Tergugat I seperti dilansir BBC.(Ode)**
.

Categories:Nasional,
Tags:,