Pemerintah Kian Tak Tanggap atas Pelemahan Rupiah

Pemerintah Kian Tak Tanggap atas Pelemahan Rupiah

Jakarta - Pemerintah tidak tanggap untuk menghadapi tanda-tanda anjloknya rupiah sejak akhir tahun lalu. Terbukti dengan terus terseok-seoknya rupiah hingga hampir tembus ke level Rp 13.800 per dolar AS.
 
Menurut Analis NH Korindo Sekuritas Indonesia, Reza Priyambada, "Rupiah kayak gitu gara-gara pemerintah selalu merasa aman. Makanya dari ketika pergerakan rupiah dari akhir tahun lalu di Rp 12.000 per dolar AS itu, kami sudah lihat bahwa ke depan ada potensi pelemahan," katanya, Rabu  (12/8/2015).
 
Ia menjelaskan, pemerintah menjadikan asumsi sentimen dari Federal Reserve AS yang akan menaikkan suku bunganya sebagai alasan. Ditambah program pemerintah yang belum terlihat hasilnya, sehingga imbasnya nilai tukar mata uang Tanah Air tumbuh negatif.
 
Dengan kondisi yang diperparah oleh imbas yuan, kata Reza  membuat rupiah semakin parah. Saat ini semua amunisi untuk menyerang dolar AS yang tengah berkuasa malah membuat dolar AS menguat. "Kalau di perdagangan valas, seperti ada yang menang dan kalah. Diperkirakan dari dolar AS hanya bisa dilawan dengan mata uang yang memiliki nilai yang kuat. Euro, yen, rubel, yuan. Yuan baru kali ini untuk hadapi dolar AS. Dari ke-empat ini kalah terhadap dolar AS," tegasnya.
 
Reza memaparkan, yuan yang turut hadir melemahkan mata uangnya dolar AS, tetapi tidak melihat efek samping emerging market.
"Yuan juga tidak mempan, karena pengaruh internal. Ekspornya turun, konsumsi masyarakat turun sehingga yang mereka lakukan sama dengan Jepang, yaitu melemahkan mata uang supaya ekspor meningkat karena utuk genjot trigger PDB (pertumbuhan domestik bruto). Tapi, di sisi lain mereka tidak melihat dampaknya," katanya.
 
Berdasarkan kurs tengah Bank Indonesia, rupiah jatuh ke level Rp 13.758 per dolar AS, pada hari ini. Mata uang rupiah melemah Rp 217 dibandingkan hari  kemarin yang berada di level Rp 13.541 per dolar AS. (Jr.)**
.

Categories:Nasional,
Tags:,