Dirut BEI : Kabinet Jokowi-JK Siap Bekerja

Dirut BEI : Kabinet Jokowi-JK Siap Bekerja

Dirut BEI : Kabinet Jokowi-JK Siap Bekerja

Jakarta - Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Ito Warsito menilai bahwa susunan Kabinet Kerja Joko Widodo-Jusuf Kalla merupakan sosok yang siap bekerja dalam menjaga stabilitas perekonomian Indonesia.

"Saya lihat kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang siap kerja langsung, kerjanya bagus atau tidak kita lihat nanti," ujar Ito Warsito di Jakarta, Rabu (29/10/2014).

Menurut Ito Warsito, pekerjaan rumah (PR) yang pertama bagi pemerintahan saat ini yakni menaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi untuk memperbaiki defisit APBN dan defisit neraca perdagangan Indonesia, dan neraca transaksi berjalan.

"Tetapi itu 'necessary but not sufficient', artinya itu cukup dilakukan tapi tidak cukup membaik dengan sendirinya," ujarnya.

Ito Warsito mengharapkan bahwa pertumbuhan ekonomi pada 2015 mendatang dapat lebih tinggi dari perkiraan. Dengan asumsi makro ekonomi Indonesia 2015 mendatang yang meliputi pertumbuhan ekonomi di kisaran 5,4-5,7 persen, laju inflasi di kisaran 5,50-5,75 persen, dan kurs rupiah sebesar Rp 12.000 per dolar AS, maka BEI memproyeksikan rata-rata nilai transaksi harian saham sepanjang 2015 mencapai Rp 7 triliun.

Dalam Rencana Kerja dan Anggaran Tahunan (RKAT) 2015, BEI memproyeksikan memperoleh total pendapatan sebesar Rp900,93 miliar atau meningkat dibandingkan total pendapatan pada RKAT 2014 senilai Rp783,50 miliar.

Selain itu, diproyeksikan Biaya Usaha BEI untuk tahun 2015 adalah sebesar Rp 772,73 miliar (termasuk biaya iuran OJK sebesar Rp 118,15 miliar) sehingga laba sebelum pajak menjadi Rp 128,21 miliar. Setelah dikurangi estimasi beban pajak sebesar Rp 46,50 miliar maka perkiraan nilai laba bersih BEI di 2015 sebesar Rp 81,71 miliar.

"Target BEI cukup tinggi dan optimis, karena itu BEI harus bekerja keras. Kalau targetnya mudah, kerja sebentar akan tercapai," ucap Ito Warsito.

Ia mengemukakan bahwa BEI memiliki cita-cita pada akhir tahun 2020 total perusahaan tercatat di pasar modal domestik mencapai 750 emiten. Saat ini, jumlah emiten sebanyak 502.

"Berarti kalau dirata-ratakan maka setiap tahunnya sebanyak 40 emiten yang melakukan IPO," katanya.

Untuk mencapai itu, dia mengungkapkan bahwa BEI akan terus melakukan edukasi pasar modal ke calon-calon emiten potensial dan membangun basis investor.

"Emiten bisa berkembang jika investor banyak, likuiditas pada akhirnya meningkat. Di dalam pasar modal ada istilah bahwa likuiditas akan mendorong likuiditas, makin likuid pasar maka akan menarik investor dan calon emiten," ujar Ito Warsito. (AY)

.

Categories:Ekonomi,
Tags:nasional,