Jokowi Hanya Manis Ucapan, Samar dalam Kenyataan

Jokowi Hanya Manis Ucapan, Samar dalam Kenyataan

Jakarta -  Berbagai pernyataan yang dilontarkan Presiden Jokowi agar mengedepankan kesatuan kesantunan berpolitik serta tatakrama hukum dan ketatanegaraan, masih tampak samar alias kabur.
 
Menurut penilaian Direktur Eksekutif Lingkar Madani untuk Indonesia (Lima), Ray Rangkuti, politik santun tampak tidak jelas lantaran ungkapan itu sudah sering digaungkan oleh rezim orde baru di bawah kepemimpinan almarhum HM Soeharto. Namun pada kenyataannya banyak terjadi pelanggaran HAM yang beragam.
 
"Sedangkan definisi politik santun itu sendiri sepertinya masih kabur. Begitupun kata-kata santun juga banyak dipakai oleh rezim orde baru, tapi sebagaimana kita ketahui rezim itu ditopang dengan pelanggaran HAM yang sangat beragam,” kata Ray di Jakarta, Sabtu (15/8/2015).
 
Jika melihat fakta yang terjadi saat ini, katanya berbagai ungkapan yang tepat dialamatkan kepada Jokowi adalah sangat ‘kering’ dari kenyataan. Pasalnya, masih tetap membiarkan pasal penghinaan presiden masuk dalam revisi Undang-Undang KUHP.
 
"Dia menyebut mengedepankan politik santun, tetapi membiarkan pasal yang dapat mengkerangkeng kebebasan warga muncul dalam revisi UU KUHP. Dia juga membiarkan adanya upaya gangguan terus menerus terhadap KPK, dalam mengemban tugas memberantas korupsi," beber mantan aktivis 98 ini.
 
Lebih jauh, mantan Walikota Solo itu  menekankan, jika pada kenyataannya orang nomor satu di republik ini masih tetap diam atas upaya pelemahan KPK serta pembungkaman terhadap rakyat yang kritis, maka politik santun yang digaungkan hanya sebatas di mulut saja.
 
“Apabila Jokowi tetap bersikap diam, itu artinya politik santun Jokowi hanya manis dalam ucapan, pahit dalam kenyataan,” tambahnya. (Jr.)**
.

Categories:Politik,
Tags:,