Deddy Mizwar Bacakan Puisi buat Wartawan Peliput Pemprov

Deddy Mizwar Bacakan Puisi buat Wartawan Peliput Pemprov

Deddy Mizwar membacakan puisi untuk wartawan, di Bandung, Senin (17/8).

Bandung - Wakil Gubernur Jawa Barat Deddy Mizwar membacakan puisi karya KH Ahmad Mustofa Bisri atau Gus Mus berjudul "Rasanya" untuk para wartawan peliput Pemprov Jawa Barat, di Gedung Sate Bandung, di sela-sela Peringatan HUT Ke-17 Kemerdekaan RI Tahun 2015, Senin (17/8/2015).


"Saya mau membacakan puisi karya Gus Mus yang baru diterima beberapa saat lalu," kata Deddy Mizwar yang mengenakan pakaian dinas upacara berwarna putih.

Dengan nada yang lantang dan tegas, pemeran utama film "Nagabonar" tersebut membacakan bait demi bait puisi tersebut hingga selesai.

Usai membacakan puisi, Deddy Mizwar sempat menyinggung tentang makna kemerdekaan Republik Indonesia yang sudah berusia 70 tahun.

"Kita harus optimistis karena kondisi saat ini lebih baik, dulu kita tidak ada uang adem kehidupan juga adem, tapi kita tidak punya kemerdekaan karena di bawah Belanda. Kalau sekarang beda kondisinya karena kita punya SDM bagus, tinggal melangkah bersama saja," kata dia.

Berikut adalah puisi berjudul "Rasanya" karya Gus Mus yang dibacakan oleh Deddy Mizwar:.

Rasanya

Baru kemarin Bung Karno dan Bung Hatta

Atas nama kita menyiarkan dengan seksama

Kemerdekaan kita di hadapan dunia.

Rasanya Baru kemarin.

Padahal sudah tujuh puluh tahun lamanya.

Pelaku-pelaku sejarah yang nista dan mulia

Sudah banyak yang tiada. Penerus-penerusnya

Sudah banyak yang berkuasa atau berusaha

Tokoh-tokoh pujaan maupun cercaan bangsa

Sudah banyak yang turun tahta

Rasanya

Baru kemarin

Padahal sudah lebih setengah abad lamanya.

Petinggi-petinggi yang dulu suka korupsi

Sudah banyak yang meneriakkan reformasi.

Tanpa merasa risi

Rasanya baru kemarin

Rakyat yang selama ini terdaulat

sudah semakin pintar mendaulat

Pejabat yang tak kunjung merakyat

pun terus dihujat dan dilaknat

Rasanya baru kemarin

Padahal sudah tujuh puluh tahun lamanya

Pembangunan jiwa masih tak kunjung tersentuh

Padahal pembangunan badan

yang kemarin dibangga-banggakan

sudah mulai runtuh

Daging yang selama ini terus dimanjakan

kini sudah mulai kalap mengerikan

Ruh dan jiwa

sudah semakin tak ada harganya



Masyarakat yang kemarin diam-diam menyaksikan

para penguasa berlaku sewenang-wenang

kini sudah pandai menirukan



Rasanya

Baru kemarin

Padahal sudah lebih setengah abad kita merdeka.



Pahlawan-pahlawan idola bangsa

Seperti Pangeran Diponegoro

Imam Bonjol, dan Sisingamangraja

Sudah dikalahkan oleh Sin Chan, Baja Hitam

dan Kura-kura Ninja dan artis idola

Rasanya

Baru kemarin

Tokoh-tokoh angkatan empatlima

sudah banyak yang koma

Tokoh-tokoh angkatan enamenam sudah

banyak yang terbenam

Tokoh-tokoh angkatan selanjutnya

sudah banyak yang tak jelas maunya

Rasanya

Baru kemarin

Negeri zamrud khatulistiwaku yang manis

Sudah terbakar nyaris habis

Dilalap krisis dan anarkis



Meeka yang kemarin menikmati pembangunan

Sudah banyak yang bersembunyi meninggalkan beban

Mereka yang kemarin mencuri kekayaan negeri

Sudah meninggalkan utang

dan lari mencari selamat sendiri

Mereka yang kemarin

sudah terbiasa mendapat kemudahan

Banyak yang tak rela sendiri kesulitan

Rasanya baru kemarin

Ternyata sudah tujuh puluh tahun kita

Merdeka

Ingin rasanya

aku sekali menguak angkasa

dengan pekik yang lebih perkasa:

Merdeka !!!!!(Ode)**
.

Categories:Bandung,
Tags:,