Stok Ayam Ditambah Antisipasi Pedagang Mogok Jualan

Stok Ayam Ditambah Antisipasi Pedagang Mogok Jualan

Bandung - Pemkot Bandung akan mengantisipasi rencana mogok jualan pedagang daging ayam potong. Walikota Bandung Ridwan Kamil pun akan mengerahkan sejumlah pihak untuk memenuhi pasokan daging ayam bagi warga Bandung.

"Kita akan berupaya memasukkan supply (persediaan) daging ke warga, itu tidak menjadi masalah. Operasi pasar  menjadi opsi, karena konsumsi ayam di Bandung tinggi. Terbukti, ternyata setelah beberapa hari (operasi pasar daging sapi beberapa pekan yang lalu) kan normal lagi," kata Ridwan Kamil di  Bandung, Jawa Barat, Selasa (18/8/2015).

Emil berharap, pedagang ayam potong mengurungkan niat mogok berjualan akhir pekan ini. Meski begitu, pihaknya sudah menyiapkan sejumlah rencana guna mengantisipasi kelangkaan daging ayam jika aksi mogok tetap dilakukan. "Tapi kalau itu dilakukan, itu hak masing-masing. Pemerintah tetap akan memastikan supply kepada warga tidak akan berkurang. Sebagai antisipasi juga akan ada sidak. Dianalisa dulu macetnya di mana. Kita pastikan ibu-ibu yang khususnya pembeli tidak kerepotan. Dan yang rugi pasti pedagang sendiri," ujarnya.


Menata Tataniaga
 
Sementara itu, Komisi II DPRD Jawa Barat berharap rencana Persatuan Pedagang Ayam Bandung yang akan mogok berjualan selama beberapa hari yakni mulai Kamis (20/8) karena tingginya harga daging dari tingkat bandar ayam, tidak jadi dilakukan oleh mereka. "Nanti saya akan koordinasi dengan Dinas Peternakan dan Disperindag. Ya mudah-mudahan tidak demikian (tidak mogok berjualan)," kata Ketua Komisi II DPRD Jawa Barat Ridho Budiman Utama.

Ia menduga, tingginya harga daging ayam di pasar dikarenakan dampak dari kelangkaan daging sapi beberapa waktu lalu. "Jadi pasca kenaikan daging sapi kemarin, banyak warga yang berpindah ke daging ayam. Ketika permintaan terhadap ayam ini tinggi maka otomatis akan naik," katanya.

Politisi dari Fraksi PKS DPRD Jawa Barat ini berharap pemerintah pusat dan daerah mulai menata tataniaga daging sapi dan sapi impor, agar tidak berdampak pada komoditas lain seperti daging ayam. "Kami juga minta kepada Disperindag dan dinas peternakan untuk segera membahas hal ini, karena sebenarnya hal ini sudah diprediksi akan terjadi," katanya.

Ditanyakan apakah mahalnya harga daging ayam di pasar dikarenakan permainan kartel atau oknum tertentu melakukan penimbunan, Ridho mengatakan kenaikan itu  bukan karena permainan kartel belum. "Saya belum menduga ke situ, kalau sapi itu memang dari polisi yang menyatakan ada kartel yang memainkan harga. Tapi kalau untuk ayam ini sepertinya tidak demikian," tegasnya.

Ia menuturkan, kemungkinan besar tidak akan terjadi permainan kartel untuk komoditas ayam karena pasukan ayam di Jawa Barat dinilainya telah mencukupi. "Jumlah pasukannya ayam di Jawa Barat itu aman, karena kan sejumlah daerah jadi penyuplai seperti Tasikmalaya dan Ciamis," katanya.

Sebelumnya, Persatuan Pedagang Ayam Bandung berencana melakukan mogok jualan selama beberapa hari karena tingginya harga komoditas tersebut di pasar yakni Rp 40- Rp 45 ribu/kg.  "Jadi harga jual ayam yang terjadi saat ini merupakan rekor tertinggi sejak dirinya menjadi pedagang pada 1980 lalu," kata Ketua Persatuan Pedagang Ayam Bandung Yoyo Sutarya.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Barat Ferry Sofwan Arief menyatakan, pihaknya telah mendapatkan informasi mengenai aksi mogok dari para pedagang daging ayam di Kota Bandung. "Buat kami, ya kalau mau demo silahkan saja, itukan aspirasi masyarakat, tapi ya jangan lama, kasihan masyarakat," katanya. Oleh karena itu, pihaknya akan segera melakukan antisipasi terkait rencana aksi mogok dari penjual daging ayam tersebut. (AY)
.

Categories:Ekonomi,
Tags:,