Jamaah Haji Kloter I Indonesia Disambut Suhu 45 Derajat

Jamaah Haji Kloter I Indonesia Disambut Suhu 45 Derajat

Para jamaah calon haji di tengah suasana panas Kota Madinah

Madinah - Jamaah calon haji Indonesia Kelompok Terbang (Kloter) I Embarkasi Ujungpandang (UPG) atau Makassar, Sulawesi Selatan yang berjumlah 436 jamaah yang tiba di Bandara Amir Muhammad bin Abdul Aziz (AMAA), Kota Madinah langsung disambut cuaca panas yang menccapai 45 derajat Celsius, Jumat (21/8/2015) pukul 13.30 Waktu Arab Saudi (WAS).

Panasnya suhu udara di Madinah sehubungan dengan akan memasuki puncak panas tertinggi di Tanah Suci akhir Agustus ini Cuaca baru mulai 'bersahabat', biasanya pada akhir September atau awal Oktober. Saat penyambutan kloter pertama, Konsuler Jenderal Republik Indonesia di Jeddah, Dharmakitri Syaelendra Putra mengingatkan, agar jamaah menjaga kondisi kesehatan selama menjalani ibadah di Madinah dan Arafah.
 
"Untuk para jamaah agar tekun beribadah dan jangan lupa untuk menjaga kesehatan, karena cuaca di Madinah cukup panas sekitar 45 derajat (Celsius), sedangkan pada malam hari bisa mencapai 38 derajat. Kondisi panas ini harus betul-betul disikapi dengan banyak istirahat," katanya.
 
Untuk itu, para calon haji pun disarankan menghemat tenaga saat beraktivitas. Ada baiknya jamaah selalu siap membawa handuk basah untuk menyeka wajah, dan tubuh sehingga kulit tetap mendapatkan oksigen dan menjaga tubuh tetap stabil. Mererka juga sebaiknya membawa botol semprot kecil yang bisa diisi air zamzam. Botol semprot ini sangat membantu terutama di tengah teriknya Tanah Suci.
 
Berkisar 42 hingga 47 derajat
Sebelumnya diberitakan, Kepala Kesehatan Daerah Kerja (Daker) Bandara, dr. Purwokaning Purnomo Agung melaporkan, para calon haji agar menjaga kondisi dan tercukupinya cairan tubuh, karena saat ini suhu di Arab Saudi mencapai 42-47 derajat Celsius.
 
“Jamaah haji wajib mewaspadai serangan panas, salah satu manifestasinya adalah heat stroke. Untuk pencegahannya jamaah haji dianjurkan minum banyak, banyak makan buah-buahan, menghindari aktivitas matahari secara langsung. Saat berada di Kota Makkah dan Madinah, para calon haji juga mesti menghindari aktivitas di siang hari," katanya.
 
Ia menjelaskan, heat stroke itu merupakan kondisi yang disebabkan oleh meningginya suhu hingga terasa panas. Penderita akan mengalami dehidrasi, keringat habis, suhu tubuh menaik. Hingga mencapai batas tertentu sistem tubuh akan kacau. “Tidak ada batasan usia. Siapa pun bisa kena heat stroke. 
 
Dua ciri orang yang mengalami heat stroke, yaitu suhu tubuh panas karena cuaca tinggi dan kekurangan cairan. Secara otomatis semua fungsi tubuh akan mengalami gangguan, yang pada puncaknya akan mengalami gangguan kesadaran dan bisa sampai meninggal,” ujarnya.
 
Heat Stroke, kata Purnomo diawali dengan kondisi yang sama dengan saat orang terkena dehidrasi seperti badan lemas, kepala pusing bahkan berkunang-kunang sampai pingsan. Namun, terkadang gejala ini juga tidak dikenali. Yang paling mudah adalah mengenali warna air seni.
 
“Jika cairan cukup maka air seni bening. Sedangkan makin pekat ke arah kuning kecokelatan dan semakin keruh berarti tubuh kita semakin kekurangan cairan. Untuk kondisi yang ringan akan diberi minum. Secara umum diselesaikan dengan menurunkan suhu tubuh menggunakan kompres. Sementara untuk kasus berat akan diberi infus dan dikendalikan faktor penyulitnya. Tergantung kondisi dan seberapa cepat kasus ditemukan,” tegasnya. (Jr.)**
.

Categories:Internasional,
Tags:,