Rupiah Tembus 14 Ribu, Peran BI Dipertanyakan

Rupiah Tembus 14 Ribu, Peran BI Dipertanyakan

Jakarta -  Peran Bank Indonesia (BI) sebagai regulator moneter dipertanyakan karena belum maksimal, menyusul nilai tukar rupiah sudah di atas Rp 14.000 per dolar AS. BI dinilai tidak bisa menjaga rupiah untuk tidak melewati level psikologis.

"Rupiah sampai level Rp14.000 begini, penjaganya ke mana?" kata analis dari Investa Saran Mandiri, Kiswoyo Adi Joe di Jakarta, Senin(24/8/2015). BI kemungkinan takut akan cadangan devisanya terus tergerus akibat menguatnya dolar AS. Meski begitu, dia memperkirakan rupiah dalam minggu ini akan terus tertekan.
 
Seperti diberitakan, rupiah meneruskan tren pelemahannya terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Bahkan hari ini sempat menyentuh level Rp14.000 per dolar AS. Pelemahan mata uang garuda itu, tentu sangat berpengaruh terhadap pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), sehingga para pelaku pasar menaruh harapan besar terhadap pemerintah untuk menyelamatkan rupiah.

Sementara itu, analis dari OSO Securities Supriyadi membenarkan hal itu. Menurutnya, nasib rupiah sebenarnya ada di tangan pemerintah dalam hal penyerapan anggaran. "Ini tergantung pemerintah dalam mengoptimalkan budget mereka. Namun ternyata tidak maksimal. Pelakupasar pun butuh bukti," tegas Supriyadi.
 
Meski begitu, ia meyakini jika pemerintah bisa menunjukkan bukti penyerapan anggaran yang optimal, hal itubisa menyelamatkan rupiah. Terlepas dari sentimen negatif dari kondisi global, serta  ancaman kenaikan suku bunga The Fed. "Kalau pemerintah bisa menggunakan budget-nya sekita 80 persen pada Oktober, saya yakin rupiah bisa bangkit kembali," katanya.
 
Pada bagian lain, Presiden Jokowi berkilah, perlambatan ekonomi yang terjadi bukan hanya melanda Indonesia, tapi hampir semua negara mengalami perlambatan ekonomi yang lebih berat. Tercatat, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II-2015 hanya 4,67 persen.
 
"Memang tidak hanya negara kita yang mengalami, hampir semua negara mengalami perlambatan ekonomi yang lebih berat, negara-negara di dekat kita, tetangga kita juga mengalami," kata Jokowi di Ruang Garuda, Istana Kepresidenan Bogor, Senin (24/8/2015).
 
Ia menjelaskan, perlambatan ekonomi yang melanda Indonesia dan hampir semua negara ini dikarenakan adanya gangguan ekonomi global, seperti krisis Yunani hingga devaluasi mata uang Cina, Yuan. "Baik karena krisis Yunani beberapa bulan lalu, baik karena (rencana) kenaikan suku bunga di AS, baik karena depresiasi yuan di Cina dan sehari dua hari ini berpengaruh terhadap ekonomi karena ramainya Korea Selatan dan Korea Utara," tegasnya.
 
Oleh karena itu, perlambatan ekonomi yang melanda Indonesia harus segera diantisipasi bersama. Jangan sampai ada yang keluar koridor dari arah yang sudah ditentukan. "Perlu diantisipasi bersama, semuanya harus memiliki pemikiran bersama, dan kepatuhan terhadap garis yang akan kita sampaikan, jangan sampai kita sudah berikan garis, ada yang di luar garis," tambahnya. (Jr.)**
.

Categories:Perbankan,
Tags:,