Melayani Saudara di Tanah Haram

Melayani Saudara di Tanah Haram

Para Pimpinan Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPHI) 1436H/2015M foto bersama dengan Muassasah Asia Tenggara di Mekah, Kamis. (Kemenag)

Mekah   - Bicara dengan Bahasa Indonesia yang lancar, meski kosa kata terbatas, seorang pria berkacamata dengan logat Arab yang kental berdiri di depan podium. "

 
"Kalau kacamata kita dari sini, celana kita dari sini, tapi darah kita dari Indonesia," kata pria bergamis putih yang merupakan Ketua Muassasah Asia Tenggara Muhammad Amin Hasan Indragiri. 
 
Dari namanya saja, mungkin kita sudah mulai curiga ia memiliki kaitan dengan Indonesia, karena dalam susunan namanya ada nama salah satu di kabupaten Riau, yaitu Indragiri. 
 
"Ibu saya orang Madura, ayah saya dari Riau. Dari kecil kita diajari bahwa jamaah haji Indonesia bukan jamaah biasa, mereka saudara kita," ujarnya lagi dihadapan petugas Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) dan anggota Muassasah yang sebagian besar memiliki latar belakang yang sama dengannya yaitu keturunan Indonesia. 
 
 Jadilah pertemuan atau taaruf di Hotel Grand Al Aseel antara petugas Indonesia dengan Muassasah malam itu, Kamis, sekitar pukul 21.00 waktu Arab Saudi (WAS) atau Jumat (28/8/2015) dini hari, pukul 02.00 WIB berlangsung sangat akrab.
 
Mereka ngobrol dengan santai dan tawa yang sering kali terdengar di setiap meja dimana petugas duduk berbaur dengan keturunan Arab-Indonesia itu. 
 
Muassasah adalah semacam serikat atau asosiasi para pengusaha penyedia akomodasi haji di Arab Saudi, mulai dari pemondokan (hotel), katering, dan transportasi, serta jasa lain yang terkait dengan haji di Tanah Haram (Suci). 
 
Kementerian Agama selaku PPIH harus bekerja sama dengan mereka dalam menyediakan semua akomodasi jamaah selama di Arab Saudi. 
 

Terobosan 

Memang berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, tahun ini Menteri Agama (Menag) Lukman Hakim Saefuddin sangat menekankan peningkatan pelayanan jamaah haji Indonesia. 
 
Salah satu terobosannya adalah menyediakan makan siang sebanyak 15 kali selama jamaah berada di Makkah. Selama ini jamaah hanya mendapat makan selama di Jeddah, Madinah, dan Armina (Arafah, Muzdalifah, dan Mina). 
 
Baru tahun ini, pemerintah cq Kemenag sebagai PPIH menyediakan makan siang di Makkah tanpa pengurangan biaya hidup (living cost) yang diberikan kepada jamaah sebesar 1.500 riyal atau sekitar Rp5.500.00. 
 
Tidak itu saja, cuaca ekstrem yang memasuki musim panas pada pelaksanaan haji tahun ini juga menjadi perhatian pemerintah. Lukman Hakim secara tegas dalam beberapa pertemuan dan wawancara mengatakan akan mengusahakan ada alat pengatur suhu udara atau AC (air conditioning) dalam tenda jamaah ketika wukuf di Arafah. 
 
Pada saat wukuf yang diperkirakan jatuh pada tanggal 23 September, suhu udara di Arab Saudi menembus angka di atas 50 derajat celcius. Padahal saat ini saja dengan suhu sekitar 40-45 derajat celcius, panas terik matahari sangat menyengat kulit. 
 
Oleh karena itulah Menag meminta PPIH tahun ini menyiapkan penyejuk udara di dalam tenda. Bahkan ia meminta ada perbaikan tenda dan karpet selama di Arafah, agar 155.200 jamaah haji reguler merasa nyaman ibadah di tengah terik mentari. 
 

Maraton 

Permintaan itu tentu saja diupayakan para petugas dibawah koordinasi Ketua PPIH Ahmad Dumyathi Bashori yang secara maraton melakukan pertemuan dengan Muassasah untuk memenuhi amanah dari Menag tersebut. 
 
"Sejak beberapa bulan lalu kami secara maraton berkoordinasi dengan pihak muassasah untuk memastikan peningkatan layanan," kata dosen Universitas Islam Negara (UIN) Jakarta itu. Tidak mudah, katanya, mengingat anggaran yang terbatas. 
 
Namun ia bersyukur pihak Muassasah -- seperti yang diungkapkan Muhammad Amin Hasan Indragiri -- mau melayani "saudaranya" dari Indonesia dengan baik. Mereka antara lain menyepakati perbaikan tenda di Arafah yang selama ini dikeluhkan jamaah karena banyak cacatnya, kemudian mengganti alas tenda dari hambal ke karpet. 
 
Bahkan Muassasah menyisihkan dana investasinya untuk membeli AC baru yang akan dipasang sebanyak 60 unit per maktab. 
 
"Kami akan melakukan peninjauan, kalau (tenda) ada yang rusak akan dilaporkan untuk diperbaiki," kata Dumyathi. 
 
Komitmen dan kesepakatan telah dibuat, tinggal mengawasi implementasi di lapangan. Muhammad Amin Hasan Indragiri selaku Ketua Muassasah Asia Tenggara berjanji akan melakukan pelayanan terbaik untuk "saudaranya" dari Indonesia. 
 
"Sekarang sudah siap, kapal laut sudah berangkat. Insya Allah jamaah (Indonesia) akan senang di Mekah, Arafah, dan Mina," ujarnya.(Ode)**
.

Categories:Nasional,
Tags:,