Widyawati : “ Film Adalah Hidup Saya”

Widyawati : “ Film Adalah Hidup Saya”

Widyawati - Foto: WaOde

Diusianya yang sudah kepala 6, Widyawati masih tanpak cantik. Masih  lembut, dan  penuh dedi kasih, disiplin dan tetap bergairah. Satu lagi kemauannya keras.  Orang sering menyebutnya sangat  profesional.
 
Meski sudah malang melintang di dunia akting hingga tiga generasi, Tante Widya, demikian akrab disapa, sampai hari ini  masih mengaku tetap rajin belajar tentang apa saja yang bisa menjadikan sesuatu lebih baik demi akting dan kehidupannya.
 

“ Ya, sampai hari ini saya tidak pernah berhenti  belajar. Belajar itu tak pernah mengenal waktu, usia, kapanpun yang terpenting niat kita, mau melakukannya dengan sunguh-sungguh,”

kalimat inilah yang mengawali percakapan saya  dengan sosok perempuan yang kuat dan terbiasa dengan  kedisiplinan.
 
Apa yang dilakukan selama ini, khususnya di dunia film rasanya, kata Widyawati, masih belum ada apa-apanya. Masih kurang.  “Tetapi saya selalu bersyukur, diusia yang memasuki 65 tahun ini,  masih diberikan kesempatan menjadi bagian dari perfilman  Indonesia.  Kadang  saya bertanya, apa sih yang sudah saya perbuat, apa yang saya berikan, apa yang sudah saya lakukan, apa  peran saya untuk film Indonesia?”  ungkap  Widyawati seraya menghela napas panjang. 
 
Rasa rendah hati inilah yang mungkin tidak banyak diketahui orang lain. Disaat ribuan orang mengaguminya, dia masih mengaku belum berbuat sesuatu  untuk dunia perfilman nasional yang sudah membesarkan namanya itu. 
Tetapi Wid, demikian rekannya biasa memanggilnya,  ada hal yang mengikat  saat bersentuhan dengan perfilman. Secara spontan Widyawati mengatakan bahwa  film telah merubah hidupnya.   
 
“Ya, betapa tidak, awalnya  saya  diperkenalkan oleh ibuku sendiri,  Aryati, yang juga pemain film pada masanya. Ibulah yang mendorong  saya untuk terjun kedunia akting ini.  Saya masih duduk dibangku SD, disuruh datang ke Surabaya untuk lakukan syuting film ‘Mendung Disenja Hari’ (Hitam Putih), karena telat datang ke lokasi, aku digantikan orang lain. Wah mau nangis  deh rasanya. Ibuku juga main di film ini, membujukku agar tidak patah semangat,” kisah Widyawati mengenang  peristiwa penolakkan dirinya hanya karena  datang terlambat ke lokasi syuting.
 

Bertemu Jodoh

 
Peristiwa itu ternyata  cukup membekas,  secara perlahan  tetapi pasti, membentuk karkaternya untuk disiplin waktu. Menghargai  komitmen.  Dia pun menganggap film sudah sangat sulit terpisahkan dalam hidupnya.
“Karena di film juga aku bertemu dengan jodohku,  belahan jiwaku, bersama Mas Sophan Sophiaan aku dipertemukan untuk selamanya, sampai akhirnya almarhum meninggalkan kita. Kami bertemu  dalam film ‘Pengantin Remaja’ arahan sutradara Wim Umboh, ini bukan film pertama saya, tetapi pertama berpasangan dengan Mas Sophan Sophiaan. Karena  saya  sebelumnya mulai main film  untuk  ‘Bunga-bunga Berguguran’, jadi film gak akan bisa terampas dari akar hati saya,” ungkap ibu 2 anak dan 4 cucu yang tumbuh sedang lucu-lucunya ini.
 
 
Widyawati menghela napas panjang. Dia lalu melanjutkan,  Sebagai  seseorang, Widyawati selalu memiliki keyakinan yang kuat. Bahwa meski ia sudah  rencanakan secara matang, jika muncul  hambatan ia tidak pernah menyesalinya. “Karena saya yakin  betul Tuhanlah yang menentukan semua ini. Ketika saya udah jauh-jauh datang ke Surabaya, dan gak jadi main film, itu juga karena rencana Tuhan.  Mungkin belum tentu saya ambil bisa bagus untuk saya. Karena itu untuk melupakan peristiwa  film, saya dan kakak-kakak malah membentuk Trio Visca yang diambil dari singkatan bintang kami masing-masing yakni Virgo, Scorpio dan Cancer, karena kami juga ternyata hobi menyanyi,”  kisah Wadyawati.
 
Saat menjadi penyanyi, kata Widyawati, mereka sempat mengeluarkan satu piringan hitam untuk lagu “Black Is Black” . “Ini juga di luar rencana kami, malah bikin grup trio di dunia musik, sempat menikmati jadi penyanyi . Hingga tahun 80-an saya justru rekaman sendiri  di JK Record untuk lagunya Pance Pondaag  dalam format kaset, lagunya sempat masuk anak tangga lagu di radio-radio lho,”  kenangnya bahagia.
 
Terjun ke dunia film ibarat hanya memenuhi kesenangan belaka.  “Ya ketika muda dulu, main film itu ibarat hanya sebagai kesenangan, dan bisa terkenal, hanya sekedar itu. Seiring berjalannya waktu,  belakangan terpikirkan kalau  hidup  ini benar-benar saya  dedikasikan untuk dunia seni peran, saat itulah mampu meyakinkan bahwa inilah dunia yang selama ini saya cari. Dunia yang telah memberiku hidup, cinta dan  kesaksian  bahwa dunia film inilah dunia saya yang sesungguhnya, passion saya,” katanya dengan suara tertahan.
 
Widyawati mengatakan, siapapun Anda, apapun pekerjaan Anda, lakukanlah, berbuatlah yang terbaik. Agar memberikan hasil yang baik. Prinsip ini dia selalu terapkan dan berbagi dengan orang lain.  “Bekerja secara profesional akan memperoleh  dampak yang baik, positif bagi lingkunganmu  sekecil apapun itu. Mungkin saya terlalu keras ya, tetapi maksudnya baik, memberikan yang terbaik memang  tidak mudah , butuh pertanggungjawaban, sikap hidup dan komitmen tinggi,” ungkapnya.
 

Jiwa Sosial

 
Tak hanya dunia film yang mampu menggiring hatinya untuk selalu mencintai pekerjaannya. Termasuk pekerjaan sosial pun dia sudah jatuh hati. Ketika seorang koleganya mengajak untuk aktif di Yayasan yang bergerak dibidang kesehatan berkaitan dengan tuber colosis, Widyawati tak bisa menolaknya. 
“Saya melihat banyak penderita tuber colosis yang harus dibantu, toh ini hanya tenaga saja, kenapa kita tidak berbuat? 
 

Bangga  FFB

 
Sejenak Widyawati tertegun, ketika  tim Pengamat Festival Film Bandung (FFB) mengabarkan untuk menerima penghargaan Lifetime Achievement  FFB 2015. Selain itu juga menjadi Pengamat Tamu FFB 2015. 
 
“Saya bangga dipercaya menjadi penerima  penghargaan Lifetime Achievement dari FFB 2015, selain saya berterima kasih, perlu juga bertanya sedikit. Mengapa harus saya? Masih banyak tokoh yang lebih pantas untuk menerima penghargaan setinggi ini,  seperti yang tadi saya bilang, aku ini belum berbuat apa-apa untuk film Nasional, masih hanya sebagai pemain saja, tidak seperti suamiku, sudah sempat move on menjadi sutradara selain menjadi pemain pada awalnya. Perasaan saya,  sangat luar biasa merasa terhormat dipilih menjadi penerima Lifetime Achievement. Padahal apa yang dilakukan masih kurang, belum ada apa-apanya,  tetapi saya bersyukur  diusia seperti sekarang (65) masih menjadi bagian dari film Indonesia,” papar Widyawati terharu. 
 

Semua Genre Dimainkan

 
Sejenak Widyawati  membawa kita kekehidupan awal-awal menyelami dunia perfilman nasional.  Saat itu kata dia, diajak untuk memperkuat film “Segenggam Tanah Diperbatasan” (Tidar Film) dia main sebagai adiknya Dicky Suprapto. Film ini semi documenter pemeran utamanya saat itu adalah Rachmat Hidayat dengan sutradara kalau tidak salah Mualim (Mus Mualim suami Titiek Puspa?). Lalu berkelanjutan  diminta lagi untuk main di film “The Big Village”, “Adventur In Bali” di tahun 70-an, dan film-film lainnya.
“Saya bangga karena semua genre film sempat saya mainkan, dari percintaan sampai film silat. Bangga juga karena sampai akhirnya saya bertemu suami di film  dan akhirnya berpisah juga di film. Film terakhir saya dengan Mas Sophan (baca sofan) adalah di film  “Love”, ini film  terakhir kami beradegan satu frame,  hingga akhirnya Mas Sophan pergi untuk selama-lamanya.  Sebelumnya ada film “Arini, Masih Ada Kereta yang Akan Lewat”, “Buah Hati Mama”, dan banyak lagi,” ungkapnya.
Bahkan dia sempat berada juga dibalik layar  film, dipercaya oleh sutradara dalam hal ini Sophan Sophiaan untuk menjadi Art Director di film “Widuri”.  Untuk Art Director, Widyawati membawahi  bidang costume, dan make up yang berada dalam satu kesatuan lingkaran Art Director.
 
“Ini bukan suami saya yang pilih, tetapi rekomendasi dari ibu Tin Samantha istri Ratno Timur, beliau yang melihat aku punya kans untuk bisa berbuat, bukan hanya sebagai pemain belaka,” kenang Widyawati.
Lagi-lagi dia selalu bersyukur, di tengah pergeseran zaman, dia masih bisa satu frame dengan anak-anak muda saat ini. Dimatanya, pemain saat ini banyak yang bagus-bagus, memahami persoalan kalau dia bermain film. Karena sebelum syuting ada workshop, ada reading dulu. “Kalau dulu langsung on the spot,  sehingga pemainlah yang harus bisa menyesuaikan diri dengan karakter yang diberikan,” kata Widyawati.
 
Seharusnya bahkan idealnya seorang pemain, kata dia, ada baiknya kalau ditambah dengan observasi karakter terlebih dahulu sebelum masuk pada karakter atau tokoh yang dimainkan.  “Sejauh ini memang belum pernah saya lakukan, seperti orang lain, kalau pun ada saya ingat untuk film ‘Kemilau Kemuning Senja’ saya disitu  harus jadi dokter. Saya pernah sih nanya-nanya ke teman yang berprofesi sebagai  dokter, itu mungkin observasi yang dilakukan,” ujarnya tertawa. 
 
Bahkan untuk keluar dari zona nyamannya, suatu hari Widyawati pernah meminta pada sutradara wanita Ida Farida untuk main di film yang judes, yang antaganonis. “Tetapi aku dipatahkan duluan, ah lu gak cocok,” kenang Widyawati sambil tertawa akan ucapan sutradara wanita itu. 
 
Karena itu kata Widyawati, jika ada karakter yang menurut kata hatinya tidak cocok dengan dirinya, dia akan menolaknya tanpa tedeng aling-aling. Syarat lainnya  adalah menghindari suasana syuting di larut malam. “Oh ya, itu betul, saya harus tahu diri dengan usia saya yang sudah kepala 6 ini, enggak boleh lewat dari jam 22.00 sudah harus beres syuting. Baik film dan untuk syuting kepentingan sinetron. Mau dikasih honor tinggi pun enggak akan saya terima kalau keluar dari komitmen  yang sudah saya terapkan. Karena saya bisa ngukur kemampuan kok, kalau saya sakit, orang lain mana mau tahu? Mendingan kitanya sendiri yang menjaga konsisi, agar tidak jatuh sakit, kalau udah sakit, uang  yang banyak juga akan terkuras untuk biaya kesehatan, untuk berobat,” selanya meyakinkan.
 
Ada baiknya kata Widyawati, semua tayangan harus bermuatan edukasi, termasuk berita-berita di televisi, seharusnya bisa mengedukasi, jangan berita kriminal, kebrutalan malah ditayangkan. Buat apa gunanya coba? Di televisi lebih sensitive karena dilihat oleh semua orang tanpa ada sensor usia lagi. “Karena itu ini pilihan, saya juga harus menentukan, bukan sombong lho, segala sesuatunya sudah ada yang mengaturnya termasuk rezeki yang kita peroleh ini,” katanya mantap sekali.
Rasa syukur pula, dia bisa menerima tawaran film untuk syuting di luar negeri. Film “Surat Dari Praha” berperan sebagai ibu bernama Sulastri. Film terbaru Widyawati  mayoritas syutingnya dilakukan di Praha dan rencananya film ini baru akan beredar tahun depan atau akhir tahun iniTak bisa diragukan lagi, diusianya yang kian senja tetapi semangatnya masih menyala di dunia film yang dicintainya.  (WA ODE RATNA DJUWITA).**
 

Biodata:

Nama Lengkap : Widyawati
Tempat tanggal : Jakarta, 12 Juli 1950
Profesi : Artis pemain film 
Mulai aktif : 1967- sekarang.
Nama Suami /anak/ cucu : Sophan Sophiaan/ Romi dan Roma/  Julia (10), Jemima (7), Andjani (4), dan Arundhati (2)
Menikah : 9 Juli 1972 di Masjid Al-Azhar Jakarta 
 

Filmografi

 

  

 

Sinetron
Iklan
.

Categories:Sosok,
Tags:,

terkait

    Tidak ada artikel terkait