Alun-alun Dijadikan Destinasi Ikon Wisata Kota Kembang

Alun-alun Dijadikan Destinasi Ikon Wisata Kota Kembang

Alun-alun Bandung

Bandung- Hamparan rumput sintesis bergradasi warna hijau tua dan muda yang melapisi taman Alun-alun Bandung seluas 4.000 meter persegi menjadi ikon wisata di Kota Kembang.
 
Alun-alun itu terus diserbu wisatawan  lokal maupun asing sejak dibuka pada akhir 2014. 
 
“Alun-Alun Bandung sekarang jauh berbeda dengan dahulu. Kalau dulu ada air mancur tapi kumuh, banyak gelandagan,” kata  Santi, seorang ibu  dari Cibuntu, Bandung, saat ditemui sedang duduk santai di rumput sintetis alun-alun itu.
 
“Sekarang  tamannya juga udah lebih baik dan desainnya indah,” kata Santi, yang datang bersama keluarganya untuk menghadiri  pengajian di Masjid Raya Bandung sekaligus  bermain di taman dan mengasuh anak.
 
Meskipun cuaca Bandung ketika siang hari terasa panas, namun tidak menyurutkan minat pengunjung untuk datang ke Alun-alun Bandung. Santi mengatakan suasana sekarang lebih enak, ada tempat bermain untuk keluarga. 
 
“Kalau bisa ‘mah’ ada tempat berteduh, panas banget soalnya kalau siang. Kan jelek ya mataharinya. Kalau pagi pagi sih enak,” katanya.
 
Selain untuk tempat beristirahat sehabis menghadiri kegiatan rutin, Santi dengan keluarga besar sengaja datang untuk main dan botram di hari Minggu walaupun dengan pantauan para petugas Linmas dan Satpol PP.
 
“Makanan gak boleh dibawa apalagi botram. Kalau ada yang botram langsung disamperin sama petugas” katanya.
 
Selain itu, terdapat sekelompok mahasiswa dari Telkom University yang sengaja berkunjung hanya untuk merasakan bagaimana empuknya rumput sintesis Alun-alun Bandung.
 
Mereka mencari informasi melalui internet tentang Alun-Alun Bandung yang sudah direnovasi. Dengan rasa penasaran, mereka langsung datang berkunjung sambil bersantai ria dengan canda tawa. 
 
“Yang bikin menarik beda aja dari taman yang lain. Kan belum pernah ada di kota lain. Di kota Medan ga pernah ada taman yang kayak gini,” kata Roby Dwi, mahasiswa rantau asal Medan.
 
Selain menikmati empuknya rumput sintesis yang dibentuk garis dan kotak yang diresmikan  Walikota Bandung Ridwan Kamil pada 31 Desember 2014, warga bisa melakukan berbagai macam kegiatan. 
 
Risa, siswa SMPN 7 Cimahi, terlihat asyik bermain dengan teman-temannya dan berlari-lari dengan penuh suka cita dan sesekali berfoto “selfie”.
 
Alun-alun Bandung tidak hanya dijadikan sebagai destinasi wisata bagi warga lokal, turis luar negeri pun memilih tempat ini sebagai wisata untuk berlibur. 
 
Anuk dan Rick, bule berasal dari Belanda, mengatakan, Alun-alun Bandung sebagai tempat yang menyenangkan karena setiap orang bisa bermain dan bersantai, terlebih mereka suka melihat anak-anak bermain di sekitar sini dengan ceria dan riang gembira.
 
“Saya pikir tempat  ini indah karena masjidnya,”,kata Anuk.
 
Anuk dan Rick memilih Alun-alun Bandung sebagai tempat bersantai selama libur dari pekerjaan. Mereka tahu dari buku panduan  bahwa alun-alun adalah tempat bagus untuk didatangi. Masjid Raya Agung yang berdiri kokoh dan besar itu menjadi spot favorit mereka. 
 
“Saya harap tempat ini bisa terus ada selama lamanya dan semoga lebih banyak taman seperti ini lagi walaupun rumput ini buatan bukan rumput asli tapi tetap bisa untuk bersantai-santai”, kata Anuk.
 
Alun-alun Bandung didesain dengan konsep ruang terbuka agar memudahkan warga   beraktivitas. 
 
Selain itu di bagian selatannya berhadapan langsung dengan Pendopo Kota Bandung. Kawasan itu menjadi lebih berwarna dengan adanya taman dan kursi-kursi.
 
Untuk menegaskan identitas alun-alun, tulisan “Alun-Alun Bandung” berwarna merah berukuran besar  menjadi tanda yang tepat bagi warga yang menunggu bus kota di kawasan tersebut.
 
Untuk memasuki area rumput sintetis, warga harus melepaskan alas kaki. Tersedia tempat penitipan sandal di sana. Juga tersedia area parkir di Basement Masjid Raya Bandung.
 
“Setiap hari tidak henti-hentinya pengunjung berdatangan, mulai dari hari-hari biasa sampai hari Minggu. Kalau dihitung lebih dari sekitar 500 sampai 1.000. Terutama kalau waktu sudah menuju ke sore dari jam 4 sore. Apalagi hari Sabtu dan Minggu sampai berdesak-desakan. Petugas juga sampai kewalahan memonitor pengunjung,” kata Nasrul, anggota Linmas Satpol PP yang tugasnya menjaga ketertiban.
 
Menurut Nasrul, memang masih ada keluhan dari pengunjung mengenai kebersihan, kenyamanan, dan kemanan di alun-alun itu. 
 
“Masih banyak pedagang dan pengunjung yang bandel melawan aturan. Masih banyak bekas minuman berserakan bahkan di buang di pohon. Pengunjung yang merokok, sudah ditegur kalau yang ngerti langsung mematikan dan minta maaf kalau yang gak ngerti malah marah balik,“ katanya.
 
Kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kebersihan dan ketertiban masih jauh, kata dia, banyak yang membuang sampah sembarangan dan merokok tidak di tempatnya walaupun petugas keamanan telah menghimbau setiap kalinya.
 
Nasrul mengatakan, aturan taman dibuat sudah jelas, seperti membuang sampah sembarang dan merokok di zona merah akan didenda. Apabila petugas keamanan lebih tegas, mereka dapat langsung menangkap pelanggar lalu menggiringya ke penyidik, dan penyidik akan memprosesnya. Jika pelanggaran tersebut menyakut sosial, maka akan digiring ke Departemen Sosial.
 
Untuk itu, kata Nasrul, ketertiban dari setiap pengunjung sangat diharapkan supaya keadaan di alun-alun itu tetep nyaman, aman, dan bersih.(Ode)**
.

Categories:Wisata,
Tags:,