50 Tahun Mata Hitam Jeihan di Usia 77 Tahun

50 Tahun Mata Hitam Jeihan di Usia 77 Tahun

Jeihan saat memberikan sambutan pada 50 tahun Mata Hitam Jeihan di Studio Jeihan Jl Padasuka Bandung (foto Wa Ode)

Bandung- Nama Jeihan Sang Maestro dibidang perupa (pelukis) sudah tidak asing lagi. Dia salah seorang tokoh perupa terkemuka yang cukup disegani di negeri ini.  
 
Lukisannya amat khas,  figur-figur manusia ditampakkan bermata hitam tajam yang memiliki kedalaman rohani, mistis yang dinilai seolah mengisi dialog dengan penikmatnya. Seakan diajaknya untuk berkontemplasi mengembara ke masa depan. 
 
Ya Jeihan memang dikenal sebagai pelukis potret manusia bermata hitam. Ide ini lahir karena kebetulan. Mata hitam yang ditorehkannya pada figur diakuinya  sebagai hasil dari kegagalannya melukis mata yang seharusnya dikerjakan secara realistik. Itu terjadi antara 1963-1965 dari beberapa lukisan  yang seharusnya bermata tajam dan bening, berubah karena emosinya yang meninggi, ditorehkan begitu saja warna hitam legam tanpa sisa warna putih dan kebeningan. 
 
Kini hari ini Sabtu (26/9/2015), bertepatan dengan perayaan Hari Ulang Tahunnya yang ke 77, Jeihan memperingati 50 Tahun Mata Hitam karya Jeihan dan ditandai dengan Pameran Lukisan yang berlangsung sejak 26 September hingga 5 Oktober mendatang di Studio Jeihan Jl Padasuka 143-145 Pasirlayung Bandung.
 
Studio Jeihan berlantai dua itu, dipenuhi dengan karya-karya Jeihan. Begitu memasuki ruang pameran di lantai bawah berjejer potret-potret dan figur-figur yang semuanya menyimpan kisah dan perjalanan sejarahnya masing-masing karya. Begitu pun bila berada di lantai dua, semua menunjukkan aura masing-masing lukisan. 
 
Jujur, karya Jeihan kukuh mencitrakan aura meditatif. Sabtu (26/9) itu, Jeihan tak hanya mengundang koleganya untuk ikut merayakan ulang tahunnya belaka dalam pencapaian usia 77 tahun dan masih berkarya, tetapi juga sore itu, selain pembukaan pameran, juga Jeihan membagikan buku  mewah berjudul "Jeihan Sang Maestro Pemikir Penyair, Perupa" yang ditulis Prof. Jacob Sumardjo. Dengan cover lukisan Yang Mulia 6 Presiden RI Satu.   
 
"Jika melacak sejarah, lukisan-lukisannya terdapat dua lukisan pengawal yang menjadi pondasi dalam pameran ini, di dalamnya tergambar potret Jeihan tengah berdiri dengan latar belakang lanskap sederhana berjudul Diri Sendiri (1963) dan lukisan Gadis (1965). Jeihan itu memberikan dimensi visi ke depan melalui lukisannya," ujar Mikke Susanto seorang kurator seni rupa dan pengajar FSR ISI Yogyakarta ketika dimintai komentarnya sekaligus memberikan sambutan. 
 
Dia mengatakan "Mata Hitam Jeihan adalah ide brilian. Ide tidak sekedar menjelaskan persoalan kesenian, seni lukis atau sebidang persoalan kesenian. Ide ini meluas dan menjangkau pada tataran nilai yang terkait dengan esensi hidup manusia. Mata Hitam Jeihan harus diakui menjadi kekayaan intelektual untuk selalu berpikir, merenung. merefleksi dan menginterpretasikan berbagai pelajaran bagi anak bangsa," kata Mikke. 
 
Jeihan pun didaulat memberikan sambutan. Mengisahkan setiap tokoh yang dilukiskannya. "Orang banyak bertanya mengapa harus mata hitam, itulah imaji yang tertuang. Penggambaran situasi tentang banyak hal, sebuah realitas masa depan," katanya.
 
Dia pun mengisahkan bagaimana terjadinya setiap karya yang digoresnya dan semua menyimpan makna dan kisah. Pada pameran 50 Tahun Mata Hitam Jeihan, dia juga memamerkan empat lukisan baru untuk menambah lukisan yang ada. 
 
Kesimpulannya, gelap dan hitamnya mata karya Jeihan adalah petunjuk tentang hakikat hidup. Karena ujung peradaban adalah kebudayaan. Ujung kebudayaan adalah kesenian. Puncak seni adalah puisi, Puncak puisi adalah filsafat. Puncak filsafat adalah sufi, demikian Jeihan. 
 
Dimeriahkan penampilan Mukti Mukti dengan menyumbang dua lagu berjudul "Mirna" dan puisi yang dimusikalisasikan dari karya "Sapardi de Jokodemono". (Ode)**
.

Categories:Hiburan,
Tags:,

terkait

    Tidak ada artikel terkait