Melawat ke Malaka Kota Warisan Budaya Dunia

Melawat ke Malaka Kota Warisan Budaya Dunia

Melawat ke Malaka Kota Warisan Budaya Dunia

MENTARI pagi bersinar cerah menyinari kawasan Melaka River Cruise, sebuah sungai kecil di tengah Kota Malaka, Malaysia, tetapi dipenuhi dengan taman-taman bunga, lampu-lampu hias, serta aneka bangunan tua yang dibentuk sedemikian rupa.

Sebanyak 19 orang anggota Forum Silaturahmi Kulaan Banjar Banua (FSKB), melakukan lawatan ke negeri penuh dengan warisan budaya dunia itu.

Pekan lalu, rombongan FSKB itu berjalan kaki dari penginapan menuju tepian sungai yang berada di tengah-tengah bangunan bersejarah, kemudian masuk dalam sebuah tempat khusus untuk membeli tiket atau karcis.

Tiketnya seharga 15 ringgit Malaysia atau sekitar Rp60 ribu rupiah untuk masuk di sebuah dermaga Sungai Malaka untuk ikut dalam wisata susur sungai.

Setelah semua rombongan membeli tiket, akhirnya rombongan masuk ke sebuah kapal yang dirancang sedemikian rupa dan dinakhodai seorang wanita melayu berjilbab.

Selama sekitar 40 menit perjalanan susur sungai, rombongan bisa menikmati aneka pemandangan dari lokasi tersebut seraya mendengarkan sebuah suara pemandu wisata yang tampaknya hanya dari sebuah kaset rekaman (tape recorder) yang menjelaskan satu per satu bangunan atau taman dan apa saja yang dilalui dalam wisata unik itu.

Patut diduga demikian (kaset rekaman), sebab dalam kapal wisata berupa spead boat yang dirancang sedemikian itu selain penumpang hanya ada seorang nakhoda yang tampak tidak berucap apa-apa.

Kapal wisata ini berlayar tidak terlalu laju menyusuri sungai yang di kiri dan kanan terdapat berbagai perkampungan yang disebut sebagai Kampung Morten, yaitu perkampungan melayu asli Malaka.

Menurut penjelasan rekaman yang dibunyikan di kapal tersebut, Kampung Morten adalah perkampungan tradisional Melayu yang sampai sekarang masih eksis. Yang paling kentara tentu saja dari arsitektur perumahan Melayu.

Konon, masyarakat kampung ini pun masih mengamalkan cara hidup tradisional Melayu, karena itu kampung ini disebut-sebut sebagai museum hidup dan dinamakan Kampung Morten dari seorang JF Morten yang dulunya membangun kampung ini.

Selain kampung Melayu itu, dilalui pula Jonker Walk, China Town, Kampung India, dan beberapa kampung lagi yang semuanya memberikan kesan menyenangkan.

Dalam pelayaran ini, pengunjung bisa melihat replika The Eye on Malaysia, yaitu kincir. Konon The Eye on Malaysia dulunya berada di Kuala Lumpur. Namun pada tahun 2008, kincir ini dipindahkan ke Melaka.

Akibat terjadi sengketa antara pemerintah Malaysia dengan pemiliknya, sebuah perusahaan Belgia, maka pada 2010 kincir ini berhenti beroperasi.

Karena yang dipajang di pinggir sungai Malaka sekarang ini adalah replikanya, tentu saja bagi pelancong yang datang ke Malaka tetap bisa menjajal kincir ini. Namun terlihat tinggi replika ini tidak setinggi kincir aslinya yang mencapai 60 meter.

Selain replika kincir air dan benteng di pinggir sungai lengkap dengan meriam yang mengelilingi benteng, terdapat pula replika kapal Portugis bernama Flor De La Mar.

Mohamad Ary, ketua rombongan FSKB yang dikenal sebagai anggota Forum Komunitas Hijau (FKH) Banjarmasin saat pelayaran tersebut menyatakan salut atas pembenahan sungai di kota peradaban Melayu itu.

"Nah ini kota di Malaka yang memakai konsep kota hijau (green city) di mana-mana terlihat taman-taman kota, termasuk di pinggir sungai yang kita lalui ini, terdapat jalan sepeda, terdapat ruang terbuka hijau, dan pembenahan sungai menjadi green river," kata Mohamad Ary.

Melihat kenyataan ini sudah selayaknya kota Banjarmasin, ibukota Provinsi Kalimantan Selatan, Indonesia, yang dikenal dengan sebutan "kota seribu sungai" dibenahi seperti layaknya sungai di Malaka ini.

"Banjarmasin 'kan terdapat 74 sungai yang masih baik, dan itu hendaknya diciptakan sebagai konsep kota hijau seperti layaknya di Malaka ini, yakni pembenahan sungai sesuai peruntukannya selain drainase, alat transportasi, tempat wisata, dan keindahan kota melalui taman-taman bunga pinggir sungai," kata Wakil Ketua FKH Banjarmasin ini.

Pernah kumuh Belum lagi bangunan yang ada di kiri dan kanan sungai dibentuk dengan konstruksi sedemikian rupa, terutama bermuka rumah kemuara sungai, sehingga bangunan rumah atau bangunan lain bukan menciptakan kekumuhan, tetapi justru memperindah sungai.

Saat pelayanan susur Sungai Malaka tersebut, pengunjung disuguhi aneka pemandangan, seperti rumah-rumah penduduk yang diberi aneka warna, jembatan-jembatan melengkung.

Beberapa jembatan tersebut disebut jembatan Tan Boon Seng Bridge, Chan Boon Cheng Bridge, Ghostbridge of Malaka, Old Market Bridge dan Jalan Hang Tuah Bridge.

Jembatan-jembatan inilah saksi bisu kejayaan Malaka sampai dengan jatuh bangunnya Malaka dalam pendudukan para penjajah.

Selain itu juga banyak terdapat bangunan-bangunan "guest house", juga terlihat Menara Taming Sari yang menjadi kebanggaan kota Malaka.

Dalam perjalanan ke kota ini rencananya rombongan FSKB menyinggahi menara Taming Sari ini, tetapi karena desakan waktu, maka singgah ke menara ini pun diurungkan.

Berdasarkan ceritanya, Menara Taming Sari ini adalah gyro tower pertama dan masih satu-satunya di Malaysia.

Pengunjung setelah membeli tiket seharga 20 Ringgit Melaysia bisa memasuki sebuah ruangan bundar yang berporos pada tiang menara. Ruangan inilah yang membawa pengunjung untuk naik ke atas menara.

Ruangan ini bisa berputar 360 derajat untuk mengakomodasi pengunjung agar bisa menikmati pemandangan panorama kota Malaka. Beberapa bangunan heritage seperti Stadhuys dan St Paul Church bisa dilihat dari atas menara.

Selain itu, pemandangan Selat Malaka, Sungai Malaka, dan gedung-gedung tinggi juga terlihat menarik dari atas menara Taming sari.

"Duduk di atas ruangan menara yang ber-AC sambil melihat pemandangan-pemandangan tersebut merupakan pengalaman yang mengasyikkan," kata Zainal Wahab warga Negeri Perak menceritakan pengalamannnya naik Menara Taming sari kepada Antara saat bersama-sama dalam wisata susur sungai.

Di kota yang tidak terlalu luas tetapi diwarnai dengan kehidupan para turis yang berdatangan dari berbagai penjuru dunia ini, pendatang bisa pula menikmati naik becak khas Melaka.

Becak di kota ini dirancang hanya untuk wisatawan, maka becak diberi banyak asesoris dan bunga warna-warni dan aneka bentuk hingga terlihat unik oleh pengunjung, dan setiap becak dilengkapi dengan tape rekorder yang menyetel aneka lagu melayu atau lagu negara lainnya secara full music.

Atau, bagi wisatawan yang suka jalan kaki, bisa kemana-mana di kota ini hanya berjalan kaki, karena jarak antar wilayah relatif tak terlalu jauh, selain itu disediakan sarana jalan untuk para pejalan kaki.

Untuk penginapan seperti hotel cukup menjamur di kota ini, ditambah tersedianya banyak penginapan berupa guest house murah meriah tersebar di sepanjang Sungai Malaka.

Pada malam hari, penginap bisa nikmati duduk di kafe pinggir sungai atau di belakang guest house seraya menikmati tenangnya Kota Malaka.

Berdasarkan sebuah cacatan lagi, sekitar abad 15, sungai Melaka ini memiliki arti penting untuk transportasi barang-barang perdagangan. Kejayaan kerajaan Melaka tidak bisa dipisahkan dari sejarah panjang sungai ini.

Sungai Malaka ini tidak serta merta menjadi secantik sekarang. Ternyata sungai ini pernah kumuh, kotor, dan jorok. Namun karena keseriusan pemerintah dan masyarakat Malaka, sekarang para wisatawan yang datang ke Malaka bisa ikut merasakan nostalgia sejarah sungai ini dalam paket wisata Malaka River Cruise.

Hal yang bisa dilihat keseriusan pemerintah dalam merawat dan mempercantik sungai ini adalah walaupun sudah banyak bangunan-bangunan modern yang berada di pinggir sungai, tetapi tetap saja ada deretan pepohonan mangrove di tepi sungai. (AY)

.

Categories:Wisata,
Tags:wisata,