Kekeringan Parah di Indonesia Dampak El Nino Kuat dan IOD

Kekeringan Parah di Indonesia Dampak El Nino Kuat dan IOD

Bandung - Peneliti Pusat Sains dan Teknologi Atmosfer (PSTA) Lapan, Eddy Hermawan menyatakan dampak kekeringan parah di Indonesia merupakan akibat fenomena El Nino kuat (indkes +2,03) dan Indian Ocean Dipole (IOD) positif (indeks +1,13) yang terjadi secara bersamaan.

El Nino kuat menunjukkan terjadinya anomali suhu permukaan laut di Samudra Pasifik yang lebih hangat dari biasanya. Anomali menghangatnya suhu laut di Pasifik ini turut mempengaruhi kondisi atmosfer di atasnya, kata Eddy saat memberikan materi Karakteristik Iklim Indonesia pada acara Bimtek Cuaca dan Iklim untuk Guru dan Jurnalis di Kantor PSTA Lapan Bandung, Senin (28/9/2015).

"Hal ini mengakibatkan pelemahan sirkulasi angin Walker yang dalam kondisi normal seharusnya bertiup dari Samudra Pasifik menuju Indonesia," katanya. Dengan terjadinya ElNino kuat, sirkulasi Walker pun melemah karena "kolam hangat" (warm pool) yang seharusnya terbentuk di lautan Indonesia berpindah ke Pasifik. Akibatnya, pembentukan awan dan hujan yang seharusnya terjadi di Indonesia pun berpindah ke Samudra Pasifik.

Pada sisi lain, IOD positif menunjukkan suhu permukaan laut di Samudra Hindia di dekat Afrika lebih hangat dibandingkan dengan suhu permukaan laut di Samudra Hindia dekat Sumatra. Akibatnya, terbentuk tekanan rendah di dekat Afrika sehingga pusat konveksi pun berpindah dari Sumatra menuju Afrika.

"Baik ElNino maupun IOD sama-sama berdampak pada kekeringan di Indonesia karena kedua fenomena ini telah menggeser pusat-pusat konveksi di Indonesia menuju Samudra Pasifik dan Samudra Hindia dekat Afrika," katanya.

Menurut Ketua Tim Variabilitas Iklim PSTA Lapan Erma Yulihastin berdasarkan prediksi 17 model global, El Nino kuat dengan indeks lebih besar dari +2 akan terus berlangsung hingga Februari 2016. "Puncak El Nino kuat ini akan terjadi pada bulan November dan Desember 2015 dengan indeks mencapai +2,5. Sedangkan IOD positif berdasarkan prediksi akan berlangsung hingga November 2015," kata Erma.

Bahkan, berdasarkan konsensus prediksi probabilitas ENSO yang dirilis oleh CPC/IRI (Climate Prediction Center/International Research Institute for Climate and Society) El Nino memiliki peluang lebih dari 95 persen terjadi hingga Februari 2016.

Namun bergabungnya dua El Nino kuat dan IOD positif itu, diprediksi Indonesia akan mengalami kekeringan hingga November bahkan hingga akhir tahun 2015. Meski demikian, kata dia berdasarkan prediksi model CCAM yang dijalankan oleh Lapan. Pola angin monsun baratan yang menunjukkan musim hujan mulai terbentuk secara stabil pada Desember 2015. (AY)

.

Categories:Bandung,
Tags:,