Perkembangan TIK Banyak Ubah Pola Hidup Masyarakat

Perkembangan TIK Banyak Ubah Pola Hidup Masyarakat

Bandung - Perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) di Indonesia sejak tahun 1950-an hingga sekarang telah banyak mengubah pola kehidupan masyarakat sehingga perlu disikapi dengan cermat, kata Guru Besar Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjajaran, Engkus Kuswarno.

"Saya merefleksikan dengan yang terjadi lima puluh tahun ke belakang, kehadiran televisi mampu merubah pola hidup masyarakat kala itu, sekarang televisi telah digantikan gawai," kata Engkus Kuswarno di Bandung, Rabu (30/9/2015).

Ia mengatakan, berdasarkan kompilasi penelitian para ahli yang dilakukan pada 2012 hingga 2015, kehadiran gawai di tengah kehidupan masyarakat saat ini juga telah banyak merubah kebiasaan dan pola hidup seseorang.

"Saat ini 69 persen pengguna gawai di Indonesia menggunakan gawainya ketika berada di tempat tidur, bahkan hingga di kamar mandi, kalau sekarang sudah seperti ini, bagaimana kondisi 50 tahun ke depan?" kata dia.

Dampak yang akan dialami masyarakat dengan fenomena candu gawai saat ini, ia mengatakan, tidak semata-mata terletak pada konten yang diakses, melainkan juga terletak pada efek yang ditimbulkan oleh kehadiran gawai itu sendiri.

"Dampak paling parah tidak hanya terletak pada persoalan konten, kehadiran gawai itu sendiri juga berpengaruh, salah satunya seperti muncul perasaan tidak percaya diri, gelisah, dan merasa tertinggal ketika tidak membawa gawai," kata dia.

Bentuk ketergantungan lainnya, ia mengatakan, tercermin dari kecenderungan orang yang mengecek pesan pada gawainya ketika baru bangun tidur dan asyik berkomunikasi di dunia maya bahkan ketika tengah bersama keluarga atau pasangannya.

"Memotret makanan sebelum makan untuk diunggah juga sudah jadi ritual yang lebih penting dibanding doa sebelum makan," kata dia.

Meski demikian, ia mengatakan, hal ini merupakan sesuatu yang tidak dapat dihindari.

"Itu tidak bisa ditolak, bukan sesuatu yang bisa dihindari, yang paling penting adalah bagaimana kita memanfaatkan perkembangan teknologi dan cerdas memfilter beribu-ribu pesan yang dapat diakses melalui gawai kita," kata dia.

Salah satu akibat ketidakmampuan masyarakat dalam memfilter diri di tengah demam gawai adalah timbulnya sifat konsumtif yang tidak didasarkan pada kebutuhan.

"Kita sudah diterpa kepentingan bisnis yang membuat banyak orang membeli produk-produk gawai baru yang sebenarnya tidak diperlukan, kalau ternyata hanya butuh sms dan telepon buat apa terus membeli keluaran terbaru? Ini tandanya kita belum cerdas," katanya.

Lebih lanjut ia menyebutkan filter yang paling penting ada diri masing-masing orang dengan berupaya menjadi pengguna gawai dan pengakses internet yang cerdas.

"Meski situs-situs porno sudah banyak yang diblokir, akan selalu ada yang bocor, sifat informasi memang seperti itu, yang paling penting adalah bagaimana kita membatasi diri sendiri terhadap hal seperti itu," kata dia.

Ia menyayangkan, kecenderungan pendidikan di Indonesia belum dapat membina masyarakat untuk mampu menyaring informasi dengan cermat.

"Pendidikan dasar kita tidak berorientasi pada pembangunan karakter, hanya fokus pada kognisi seperti menghafal dan sebagainya, yang terpenting kan karakter orangnya, kalau itu tidak dibangun dulu, akan sulit," katanya.

Ia berharap, semakin cerdas gawai yang diciptakan, semakin cerdas pula masyarakat dalam memanfaatkannya. Idelanya semakin smart alat penghantar ke dunia maya, semakin smart pula tiap pengguna dalam mengoptimalkannya. (AY)

.

Categories:Bandung,
Tags:,