Penemu Obat Herbal Cina Diganjar Nobel Kedokteran

Penemu Obat Herbal Cina Diganjar Nobel Kedokteran

Youyou Tu.

Beijing - Salah seorang penemu obat tradisional Cina yang bisa dimanfaatkan untuk melawan malaria menjadi satu di antara tiga peraih hadiah Nobel bidang Kedokteran. Dua lainnya adalah ilmuwan dari Jepang dan Irlandia.

Ketiga peraih medali Nobel Kedokteran itu dianggap sebagai pahlawan sejati di dunia, yang mampu menyelamatkan jutaan nyawa dari penyakit malaria. Bahkan, ilmuwan dari Jepang dan Irlandia mampu menemukan obat untuk penyakit tropis lainnya.

Peraih Nobel Kedokteran pertama yang berasal dari Cina tersebut adalah Youyou Tu. Wanita itu memiliki resep kuno yang ternyata bisa mengubah herbal menjadi artemesinin. Hal itu dianggap sebagai obat paling ampuh saat ini untuk mengobati malaria.
Dikutip dari Business Insider, Kamis (8/10/2015) Tu sendiri menemukan jika senyawa dari tanaman apsintus sangat efektif melawan parasit penyebab malaria. Dia menemukannya saat mengerjakan proyek militer.

Lewat pengobatan tersebut, Tu harus berbagi hadiah sebesar 960 ribu dolar AS dengan mikrobiolog dari Jepang, Satoshi Omura, dan ilmuwan Irlandia William Campbell.

Sementara itu, Omura dan Campbell menciptakan obat bernama avermectin, yang turunannya dianggap ampuh melawan kaki gajah dan penyakit lain yang disebabkan oleh cacing parasit yang disebar oleh nyamuk dan lalat. Para penderita penyakit ini berasal dari Afrika, Amerika Latin, dan Asia, yang menjadi buta atau cacat dan tidak bisa bekerja.

"Dampak dari obat itu meningkatkan kesehatan umat manusia dan mengurangi penderitaan mereka. Ini sangat tidak terukur nilainya. Mereka pahlawan sebenarnya yang mampu menyelamatkan nyawa lewat obat yang ditemukan," kata Komite Nobel.

Tu yang kini berusia 84 tahun menjabat sebagai peneliti di Cina Academy of Chinese Medical Sciences. Pada 1969, saat menemukan obat malaria dari senyawa herbal itu, dia masih berperan sebagai peneliti junior hasil rekrutmen pemerintahan Mao, lewat sebuah proyek militer.

Campbell, berusia 85 tahun, merupakan peneliti dari Drew University, New Jersey. Dia menemukan obat itu pada 1975 saat masih bekerja di perusahaan farmasi, Merck.

Sementara itu, Omura, berusia 80 tahun merupakan profesor di Kitasato University Jepang. Omura mendedikasikan penghargaan Nobel ini justru kepada mikroorganisme. "Saya telah belajar banyak dari mikroorganisme dan saya sudah ketergantungan dengan mereka. Jadi, saya sepertinya akan memberikan hadiah ini untuk mereka, para mikroorganisme," tambah Omura. (Jr.)**
.

Categories:Pendidikan,
Tags:,