'Warning' bagi Jokowi, Angka Kemiskinan Membengkak

'Warning' bagi Jokowi, Angka Kemiskinan Membengkak

Jakarta -  Satu tahun usia pemerintahan Jokowi dan Jusuf Kalla (JK), membuat beberapa pihak memberikan catatan yang perlu diperhatikan. Pemerintah perlu mewaspadai adanya kenaikan angka kemiskinan, karena pada periode September 2014 hingga Maret 2015 terjadi kenaikan.
 
"Warning BPS kepada pemerintah Jokowi terkait naiknya angka kemiskinan. September sampai Maret, yakni terdapat penambahan 860 ribu orang miskin baru," kata Rektor Universitas Paramadina, Firmanzah apada seminar publik di Paramadina Graduate School Jakarta, Rabu (21/10/2015).
 
Firmanzah mengatakan, perlu adanya upaya khusus yang tepat untuk mengurangi kemiskinan. Sebab, program pengentasan kemiskinan sama pentingnya dengan pembangunan infrastruktur yang menjadi fokus pemerintah saat ini.
 
"Pengentasan kemiskinan sama pentingnya dengan program infrastruktur. Efek infrastruktur kan baru terasa dua hingga tiga tahun ke depan. Jadi pengentasan kemiskinan perlu jadi skala prioritas," tegasnya. 
 
Utang mencapai di atas empat ribu triliun
Sementara itu, Bank Indonesia (BI) mencatat posisi Utang Luar Negeri (ULN) pada Agustus 2015 turun 700 juta dolar AS. Utang saat ini sebesar 303,2 miliar dolar AS atau Rp 4.162,4 triliun, jika mengacu kurs Rp 13.728 per dolar AS. Sedangkan posisi Juli 2015 sebesar 303,9 miliar dolar AS, atau setara Rp 4.171,9 triliun.
 
Hal itu karena adanya penurunan ULN baik sektor publik maupun swasta. Posisi ULN sektor publik turun 500 juta dolar AS, terutama disebabkan turunnya ULN Pemerintah. Sedangkan posisi ULN sektor swasta turun 100 juta dolar AS, terutama disebabkan oleh turunnya ULN Bank.
 
"Pangsa ULN sektor swasta tercatat 55,8 persen atau 169,3 miliar dolar AS, lebih besar dari ULN sektor publik sebesar 44,2 persen atau sebesar 134,0 miliar dolar AS," demikian seperti dilansir dari keterangan tertulis BI, Rabu (21/10/2015).
 
Berdasarkan jangka waktu asal, posisi ULN Indonesia pada Agustus 2015 didominasi ULN jangka panjang yang mencapai 85,2 persen dari total ULN. ULN jangka panjang sebagian besar berasal dari ULN sektor publik 50,7 persen dari total ULN jangka panjang, sedangkan ULN jangka pendek didominasi ULN sektor swasta 93,7 persen dari total ULN jangka pendek.
 
Pertumbuhan ULN berjangka panjang pada Agustus 2015 sebesar 5,3 persen yoy, lebih rendah dari pertumbuhan Juli 2015 sebesar 5,5 persen yoy. Sementara ULN berjangka pendek masih mengalami kontraksi sebesar minus 3,1 persen yoy. (Jr.)**
.

Categories:Ekonomi,
Tags:,