Gubernur Jabar Targetkan BJB Masuk 12 Besar di Tahun 2016

Gubernur Jabar Targetkan BJB Masuk 12 Besar di Tahun 2016

Bandung -- Bank Jabar Banten (BJB) ditargetkan tahun depan masuk kelompok 12 besar bank nasional di Indonesia, melampaui sejumlah BUMN perbankan dan kian kokoh sebagai BUMD perbankan terbaik di kelompok elit tersebut. 
 
Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan (Aher) sekaligus pemegang saham pengendali BJB mengatakan, target tersebut realistis dengan merujuk pencapaian hingga triwulan III tahun ini. 
 
"Kalau posisi tahun ini rangking 14 nasional, namun melihat kinerja BJB yang malah bertahan dan naik saat perlambatan ekonomi, kemungkinan dapat laba bersih 2015 lebih tinggi dari tahun lalu, maka wajar jika BJB tahun depan naik ke 12 atau 13 besar nasional. Insya Allah, ada kenaikan," katanya melalui siaran persnya, pada CikalNews.com di Surabaya, Sabtu (7/11/2015). 
 
Menurut dia, kinerja BJB sudah berhasil melampaui BUMN perbankan maupun swasta seperti BTN dan BTPN. Khusus BUMD perbankan, sudah makin kokoh menjadi yang terbaik dalam beberapa tahun terakhir. 
 
Dalam catatan, pada tahun 2014 lalu, BJB mencatat laba bersih sebesar Rp 1,120 triliun dengan total aset mencapai Rp 75,8 triliun. Total aset Bank BJB tersebut meningkat sebesar 6,9 persen (year on year). Selain aset, pertumbuhan pun terjadi pada dana pihak ketiga (DPK) sebesar Rp 57,7 triliun atau meningkat sebesar 15,5 persen (yoy). 
      
Dari sisi kredit, bank plat merah ini mengalami pertumbuhan sebesar 9,5 persen, dengan total kredit mencapai Rp 49,6 triliun. Peningkatan kredit salah satunya didukung pertumbuhan kredit konsumer sebesar 16,4 persen atau setara dengan Rp 33,5 triliun. 

Berbagai kendala berat sejak awal tahun ini, seperti fenomena perlambatan pertumbuhan ekonomi, inflasi dan kenaikan BI rate, dan persaingan ketat industri perbankan, ternyata membuat kinerja BJB meningkat. 
 
Teranyar, sebagaimana dipaparkan Dirut BJB Ahmad Irfan per 29 Oktober 2015 lalu, pada Triwulan III/2015, Bjb membukukan laba bersih sebesar Rp 864 miliar, atau naik 20,6% year on year (yoy). Penyumbang laba terbesar berasal dari pendapatan bunga bersih yang tumbuh 8,4% yoy dan fee based income (tumbuh 46,4% yoy).
Seiring meningkatnya laba perusahaan, total aset Bank Bjb per 30 September 2015 juga naik sebesar 21,5% (yoy) hingga mencapai Rp 95,6 triliun. Kontribusi terbesar berasal dari kenaikan Dana Pihak Ketiga (DPK) sebesar 26,8% menjadi Rp 81,9 Triliun. 
Situasi per triwulan III 2015 ini juga tidak terlepas dari stabilnya Net Interest Margin pada level 6% dan pengelolaan biaya operasional yang sehat serta penurunan NPL menjadi sebesar 3,5%. 
Ahmad Irfan mengatakan kredit konsumer, masih mendominasi portofolio kredit yang disalurkan Bank Bjb sepanjang triwulan III/2015. Dari total kredit yang disalurkan pada periode tersebut yang mencapai Rp 54,5 triliun, komposisi kredit konsumer mencapai Rp 37,2 triliun. 
Pertumbuhan kredit konsumen pun terus meningkat mencapai 13,8% dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Kondisi tersebut turut mendukung pertumbuhan keseluruhan portofolio kredit Bank Bjb. Kredit konsumer juga akan terus dipertahankan sebagai captive market Bank Bjb.
 
Apresiasi Manajemen 
Heryawan menambahkan, pihaknya sangat mengapresiasi manajemen di bawah kepemimpinan Dirut Ahmad Irfan yang baru mendapuk jabatan sejak Desember 2014 lalu. Di bawahnya, kendali perusahaan dianggap lebih solid sehingga bisa menuai prestasi pada fase perlambatan ekonomi global. 
 
"Tiada lain tiada bukan, kalau labanya malah makin naik, kinerjanya makin bagus, saya melihatnya sebagai peningkatan kemampuan manajerial. Sebelum-sebelumnya, soliditas manajemen ini tak sekuat sekarang," katanya. 
 
Situasi ini pun membuat ekspansi kantor layanan BJB bisa kembali agresif dilalukan, setelah sempat dihentikan sementara beberapa waktu lalu. Dengan perluasan tadi, maka target mencapai 12 besar nasional akan terdorong sendirinya. 
 
Heryawan menegaskan, pihaknya juga sangat mendorong Bjb turut berupaya mendukung pemerintah mengatasi pelemahan pertumbuhan ekonomi. Yakni dengan mempercepat kebutuhan infrastruktur dan penyerapan Anggaran APBN/APBD tercermin dari penyaluran kredit korporasi dan komersial yang tumbuh 27,6% dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya. (Ode)**
.

Categories:Perbankan,
Tags:,