Prihatin, Pendidikan Indonesia Peringkat 69 dari 76 Negara

Prihatin, Pendidikan Indonesia Peringkat 69 dari 76 Negara

Jakarta - Ternyata perkembangan pendidikan di Indonesia masih terpuruk, bahkan jauh tertinggal dibandingkan dengan negara lain, meski di kawasan Asia Tengara sekalipun. Tak hanya menyangkut soal budi pekerti, masalah sains dan teknologi pun nyaris masuk yang paling buruk di dunia.
 
"Dari 76 negara, Indonesia menduduki peringkat ke 69. Indonesia hanya lebih baik dari Oman, Maroko, Honduras, Afrika Selatan dan Ghana," demikian hasil survei soal sekolah global beberapa waktu lalu, yang diluncurkan Organisasi Kerjasama dan Pembangunan Eropa (Organization for Economic Cooperation and Development - OECD).
 
Lebih parah lagi, lima negara di Asia masuk dalam peringkat yang terbaik. Negara dengan pendidikan terbaik di dunia ditempati Singapura diikuti Hongkong dan Korea Selatan. Sedangkan Jepang dan Taiwan menyusul di posisi empat. Bahkan, kalau dibandingkan dengan Finlandia misalnya, negara di daratan eropa itu hanya menempati urutan keenam.
 
Sementara Amerika Serikat ( AS)  berada di posisi 28. Pencapaian tersebut menunjukkan, pendidikan di Asia sudah mulai meninggalkan Eropa dan Amerika Serikat.  
 
Yang mengejutkan, Vietnam mampu menyodok  keurutan 12, jauh meninggalkan Indonesia dan Amerika Serikat. Padahal negara ini masih lebih muda dari Indonesia. Puluhan tahun lalu Vietnam hancur lebur karena perang. Sedangkan kalau berkaca pada Singapura.
 
Tahun 1960-an  di Singapura masih banyak warganya yang masih buta huruf. Kenapa sekarang bisa melejit menjadi nomor satu? Berbagai kriteria penilaian yang diukur antara lain menyangkut penguasaan bahasa, sains dan matematika bagi para siswa di bawah usia 15 tahun.  Menurut Direktur Pendidikan OECD Andreas Schleicher, kunci meningkatnya kyalitas pendidikan di Asia adalah sosok guru.
 
 "Negara-negara itu juga sangat pandai dalam merekrut guru-guru yang berbakat untuk mengajar di ruang kelas yang paling menantang, sehingga setiap siswa diberi akses ke guru-guru terbaik." Sementara itu, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan pun membeberkan pendidikan di Indonesia masih jauh dari kata ideal. Menurut Anies, setting sekolah di Indonesia sekarang ini masih seperti abad 19. 
 
Artinya, guru-gurunya hidup di abad 20 dan anak-anaknya hidup di abad 21. Pada sisil ain, infrastruktur pun masih cukup memprihatinkan. Masih banyak sekolah di Tanah Air yang berkutat pada  persoalan atap bocor dan bangunan nyaris roboh. Hal tersebut makin diperburuk dinia pendidikan Indonesia.
 
Belum lagi masalah korupsi di dunia pendidikan masih marak terjadi. Dalam kaitan itu masalah kualitas guru pun jadi sorotan.  Seorang guru Bahasa Inggris di Jakarta bercerita, dia diserahi tugas tambahan untuk mengajar sejarah oleh pihak yayasan. Padahal, seumur hidup dia tak pernah membaca buku sejarah. Andalannya hanya panduan kurikulum dan buku teks wajib yang digunakan oleh pihak sekolah. Bisa dibayangkan, bagaimana proses belajar mengajar akan sangat tidak menarik.  
 
Potret seperti itu memang sering terjadi. Karena keterbatasan dan lebih sering karena enggan belajar, guru hanya mengajar ala kadarnya. Pada sisi lain murid-muridnya sudah terbiasa menggunakan akses internet, tv kabel serta mengunduh berbagai informasi dan buku lewat tablet mereka. (Jr.)**
.

Categories:Pendidikan,
Tags:,