Layakah Masyarakat Jadi Pengemis lewat KIS?

Layakah Masyarakat Jadi Pengemis lewat KIS?

Warga antre menerima Kartu Indonesia Sehat (KIS), di Kantor Pos Besar, Jakarta Pusat,

Jakarta - Meluncurnya program Kartu Indonesia Sehat (KIS) disebabkan ketidakpahaman mengenai Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) dan BPJS. "Di lingkaran Presiden juga sepertinya tidak ada orang yang memahami dan mengerti tentang BPJS yang memberikan masukan," tutur Dr. Emir Soendoro di Jakarta, Rabu (5/11/2014).  

Pencetus ide Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) itupun menilai, program jaminan sosial yang diluncurkan Presiden Jokowi berupa Kartu Indonesia Sehat (KIS) justru mendidik masyarakat untuk menjadi pengemis.

"Rakyat akan berpikir bahwa itu gratis, tidak ada kewajiban warga negara untuk iuran sama sekali. Padahal konsep jaminan sosial di Indonesia itu adalah gotong royong," katanya.

Emir menilai, Presiden meluncurkan KIS karena semata-mata ingin memiliki program yang berbeda dengan pemerintahan sebelumnya. Padahal, pemerintahan sebelumnya pun telah melaksanakan BPJS yang berbeda dengan konsep awalnya.

"Ide awal BPJS itu disatukan bukan terpecah dua seperti sekarang. Sudah saatnya posisi Kepala BPJS dijadikan menteri untuk memudahkan koordinasi dengan menteri, kepala daerah dan pihak swasta," katanya.

Sebelumnya, Presiden Jokowi meluncurkan program perlindungan sosial berupa KIS, Kartu Indonesia Pintar (KIP) dan Kartu Keluarga Sejahtera (KKS). Presiden membenarkan program itu untuk mengantisipasi rencana kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi.

"Untuk menjaga daya beli masyarakat dan yang jelas untuk memberikan pelayanan kesehatan dan pendidikan," kata Jokowi.  Program KIS akan menggunakan anggaran dana BPJS Kesehatan. (Jr.)**

 

.

Categories:Ekonomi,
Tags:kesehatan,