Liga Sepakbola Lingerie Menuai Kecaman Warga Inggris

Liga Sepakbola Lingerie Menuai Kecaman Warga Inggris

Salah satu klub Lingerie, di mana Liga ini dikecam warga Inggis. (foto - ist)

Manchester - Keterampilan kaum wanita di dunia sepakbola wanita terus berkembang hingga membuat pertandingannya pun semakin menarik. Untuk itu, sejumlah pelatih sepakbola wanita dan kaum feminis di Inggris berusaha membawa sepakbola wanita ke level yang lebih menghibur. 
 
Ya, mereka melakukannya dengan menggambungkan keindahan permainan dengan kemolekan tubuh para punggawanya lewat Liga Sepakbola Lingerie yang digelar di Manchester. Turnamen yang digagas oleh Gemma Hughes tersebut bertekad untuk melawan ketidaksetaraan gender, sekaligus meningkatkan kesadaran atas kesenjangan upah berdasarkan gender dalam sepakbola. 
 
Seperti dilansir The Sun, baru-baru ini para pemain nantinya mengenakan berbusana minim mirip para pemain voli lapangan atau bahkan  voli pantai. Tujuannya untuk lebih menonjolkan sisi feminitas para pemain. Untuk laga perdana akan digelar di atap Hotel Football milik eks pemain Manchester United, yang tergabung dalam Class of 92, Phil Neville, Gary Neville, Nicky Butt, Paul Scholes, dan Ryan Giggs (minus David Beckham). 

Namun sepertinya tidak begitu mudah bagi Hughes untuk mewujudkan gagasan tersebut. Sebab, upayanya justru dianggap sebagai salah satu bentuk eksploitasi terhadap kaum wanita, dan dianggap sebagai kemunduran. 

Tracey Halpin, seorang pelatih Denton Phonix Girl, misalnya. Menurutnya, Sepakbola Lingerie tersebut sama sekali tidak memberikan kesan yang baik bagi wanita-wanita muda, yang ingin ambil bagian dalam olahraga ini. "Saya pikir beberapa alasannya adalah seputar seks," kata Halpin. "Alasan pria mau datang hanya untuk sekadar melihat perempuan bermain dengan lingerie." tambahnya. 
 
Sementara itu, Sports Mail, baru-baru ini melaporkan, penampilan para wanita itu disinyalir hanya bagian dari taktik untuk menarik perhatian terutama dari kalangan sponsor. Namun, pemain wanita yang terlibat tetap sebagai para pesepakbola wanita profesional. Mereka bukan sekadar kelompok wanita berbaju minim, yang berlarian tanpa arah di lapangan sepakbola.
 
Disebutkan, para penggagas bersikeras tidak bermaksud menjadikan wanita sebagai objek. Mereka mengklaim, sebenarnya turut memperjuangkan persamaan dengan memberi wanita itu hak tampil feminin. "Saya berusia 23 tahun, dan tidak mau menunggu sampai 20 tahun lagi untuk melihat sepakbola wanita memperoleh pemasukan dari sponsor," kata Gemma Hughes.
 
Ia pun menyadari, idenya bisa menjadi skandal, kontroversial, namun perhatian media bisa membuat tiket terjual. "Semua pemasukan yang didapat akan ditanamkan kembali bagi sepakbola wanita dan para pemain. Ini bukan tentang pemain terlihat cantik atau seksi, tapi wanita terlihat seperti wanita."

"Anda hanya melihat tenis, bahwa wanita berpakaian seperti wanita, dan mereka mendapatkan perlakuan dan bayaran yang sama dari sponsor, seperti halnya petenis pria. Di sepakbola, wanita terikat dengan peraturan sepakbola pria," tambahnya. (Jr.)**
.

Categories:Olahraga,
Tags:,