Jepang dan Korsel Meminta Maaf pada Jutaan PSK

Jepang dan Korsel Meminta Maaf pada Jutaan PSK

Jepang dan Korsel meminta maaf dan membantu dana pada jutaan PSK. (foto - ist)

Seoul - Seusai resmi meminta maaf kepada jutaan perempuan yang dipaksa menjadi "Wanita Penghibur" (PSK), pemerintah Jepang dan Korea Selatan sepakat menggelontorkan dana sekitar 5,6 juta poundsterling, atau sekitar Rp 114 miliar untuk membayar ganti rugi dan perawatan para budak seks.
 
Seperti dilansir the Sun, Jumat (1/1/2016) jutaan wanita di Jepang dan Korea Selatan menjadi korban kebijakan prostitusi paksa sejak awal 1930-an, yang berlangsung hingga akhir Perang Dunia II. Mereka ditipu untuk bekerja dan dipaksa untuk melayani tentara Jepang di rumah bordil seluruh Asia.
 
Misalnya, Chong Ok Sun sejak usia 13 diculik oleh polisi dari rumah keluarganya di Hamgyong Selatan, Semenanjung Korea. Dia dibawa ke kantor polisi dan berulangkali diperkosa sebelum dikirim ke rumah bordil.
 
Pada 1996, dia bersaksi untuk PBB dan mengatakan telah melayani lebih dari 5.000 tentara Jepang sebagai budak seks. Setiap hari, dia harus melayani hingga 40 orang. "Setiap kali saya protes, mereka memukul atau memasukkan boneka kain ke mulut saya. Kalau saya menolak, ada juga yang memasukkan batang korek api ke bagian pribadi saya sampai saya menurutnya," katanya.
 
Menurut Ok Sun, begitu seringnya diperkosa, salah satu temannya mengalami penyakit kelamin dan lebih dari 50 tentara Jepang ikut terinfeksi. Ironisnya, untuk menghentikan penularan penyakit, para wanita pembawa penyakit ini malah disiksa dengan besi panas yang dimasukkan ke organ intimnya. 
 
Rasa sakit dan penderitaan itu pun menjadi sumber ketidakpercayaan antara kedua negara sejak akhir perang. Sementara pihak lain menyebutkan, hal itu sebagai hal yang tidak benar. Seperti dituturkan profesor sejarah Jepang, Tessa Morris-Suzuki misalnya, masalah seperti itu meninggalkan beban trauma sehingga permintaan maaf atau uang tidak akan cukup. (Jr.)**
.

Categories:Internasional,
Tags:,