Bareskrim Geledah Klinik Penjualan Ginjal di Bandung

Bareskrim Geledah Klinik Penjualan Ginjal di Bandung

Bareskrim geledah klinik penjualan ginjal di Kota Bandung. (foto - ilustrasi)

Bandung - Salah satu klinik di Kota Bandung digeledah Bareskrim Polri, terkait dengan sindikat perdagangan organ manusia khususnya ginjal. Sebelum penggeledahan dilakukan, Bareskrim Polri berkoordinasi dengan Polrestabes Bandung.
 
Menurut Kapolrestabes Bandung Kombes Pol Angesta Romano Yoyol, pihaknya terus berkoordinasi dengan Bareskrim. Meski begitu, Yoyol pun tidak menampik, jika ada salah satu klinik di wilayah hukumnya yang dicurigai melakukan transaksi jual beli organ manusia, khususnya ginjal.

"Memang betul. Ada penyelidikan di klinik di Kota Bandung, kami pun mengecek salah satu klinik tersebut," katanya kepada wartawan di Sat Narkoba Polrestabes Bandung, Kamis (28/1/2016).
 
Menurut Yoyol, ia masih menunggu koordinasi lebih lanjut dari Bareskrim karena pihaknya hanya berstatus membantu. "Sedikitnya ada 3 anggota Polrestabes diperbantukan. Saya belum bisa katakan, karena Bareskrim yang melakukan pengembangan sekaligus punya kewenangan," katanya. Penggeledahan sebagai tindak lanjut dari penangkapan HKS (60) pada Minggu 17 Januari 2016. Ia diduga salah pelaku dari komplotan penjual ginjal.
 
Sebelumnya, terkait terungkapnya kasus pedagangan organ nginjal yang melibatkan tiga pelakunya sebagai tersangka yang ditangkap di Bandung, Jawa Barat beberapa waktu lalu, Direktorat Tindak Pidana Umum Bareskrim Polri juga melakukan pendalaman di Jakarta.
 
Kepala Subdirektorat III Tindak Pidana Umum Bareskrim Polri Kombes Umar Surya Fana menjelaskan, dalam kasus tersebut dokter dan pihak rumah sakit melewatkan proses wawancara terhadap korban yang menjadi pendonor ginjal.
 
Pihak dokter dan rumah sakit pun dianggap melakukan malapraktik bila melewatkan proses yang seharusnya dijalankan sesuai Standard Operacional Procedure (SOP). "Kami sedang dalami apakah RS tahu mekanismenya seperti ini. Namun ini sudah jelas malapraktik karena SOP tidak dilaksanakan," katanya di Jakarta.
 
Dalam wawancara sebelum operasi transplantasi ginjal, lanjutnya seharusnya dapat diketahui jika korban merupakan seorang pekerja keras, dan memiliki hubungan yang sedarah. Bila diketahui terdapat pantangan itu, maka operasi pun tak bisa dilakukan.
 
Umar pun menduga, sudah ada kongkalingkong antara tersangka HR atau HS yang berperan sebagai pihak yang menjembatani rumah sakit di Jakarta, dengan pendonor yang sudah direkrut tersangka DD dan AG. "Permintaan indikasinya muncul dari rumah sakit. Rumah sakit kontak HR kemudian HR kontak DD dan AG untuk direkrut," tegasnya. (Jr.)**
.

Categories:Bandung,
Tags:,