6.500 Pegawai Perusahaan Tambang Terbesar Dunia Di-PHK

 6.500 Pegawai Perusahaan Tambang Terbesar Dunia Di-PHK

Perusahaan tambang terbesar dunia di Cina, Anglo American mem-PHK sebanyak 6.500 karyawan. (foto - reuters)

Beijing - Melambatnya pertumbuhan ekonomi dunia cukup berpengaruh terhadap kondisi dalam negeri salah satu negara dengan ekonomi terbesar di dunia, Cina. Ketidakpastian ekonomi global dan penurunan permintaan produk dari Cina memukul sejumlah perusahaan, hingga memicu pemutusan hubungan kerja (PHK) berbagai prusahaan.

Salah satu perusahaan tambang terbesar di dunia, Anglo American misalnya yang telah mem-PHK sebanyak 6.500 pegawai atau karyawannya. Perusahaan tambang raksasa dunia ini menyatakan ada pengurangan secara signifikan dalam bisnisnya. Mereka pun memangkas 60 persen karyawannya, menjual aset, dan menghentikan operasi penambangan nikel.

Dilansir Business Insider, Rabu (17/2/2016) restrukturisasi dilakukan untuk meningkatkan arus kas perusahaan, mengurangi utang dan persiapan perusahaan saat Cina tidak lagi melakukan pembangunan. Anglo melakukan beberapa langkah restrukturisasi. 

Antara lain:

- Memangkas aset inti dari 45 menjadi 16, memfokuskan bisnis ke berlian, platinum, dan tembaga
- Menjual 5 - 6 miliar dolar AS aset hingga akhir 2016, sementara aset senilai 2,1 miliar dolar AS sudah terjual di 2015. 
- Memangkas 1,2 miliar dolar AS biaya di tahun ini.
- Pengurangan modal kerja atau capital expenditure (capex) senilai  3 miliar dolar AS di tahun ini dan 500 juta dolar AS pada 2017. 
- Mengurangi karyawan dari 11.500 menjadi 5.000, kebanyakan disebabkan oleh penjualan aset.

Negeri Tirai Bambu itu mencoba mengubah ekonomi negara dari ekonomi berbasis produksi manufaktur ke ekonomi berbasis konsumen. Cina pun menghabiskan 10 tahun menjadi konsumen logam dan sumber daya lainnya di seluruh dunia.

Negeri Tirai Bambu itu mencoba mengubah ekonomi negara dari ekonomi berbasis produksi manufaktur ke ekonomi berbasis konsumen. Cina pun menghabiskan 10 tahun menjadi konsumen logam dan sumber daya lainnya di seluruh dunia.

Pertumbuhannya kini melambat dan menyebabkan permintaan turun drastis. Imbasnya, harga komoditas logam menurun hingga memukul prusahaan tambang tersebut. Harga saham Anglo American pun anjlok hingga 70 persen sejak Mei tahun lalu. (Jr.)**

.

Categories:Ekonomi,
Tags:,