103 Kampus Memilih Tutup karena Tak Punya Mahasiswa

103 Kampus Memilih Tutup karena Tak Punya Mahasiswa

Sebanyak 103 perguruan tinggi swasta memilih untuk tutup karena tidak punya mahasiswa. (foto - ilustrasi)

Jakarta - Dari sekitar 3.000 perguruan tinggi swasta (PTS) yang ada di Indonesia, sebagian besar menghadapi berbagai masalah baik internal maupun eksternal. Bahkan, sebanyak 103 PTS di antaranya memilih untuk menutup kegiatan operasional kampus.

Menurut Menteri Riset dan Teknologi Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir, kampus-kampus tersebut hanya izin "tidur". "Kampus itu banyak, tapi perkuliahan tidak berjalan. Mereka hanya izin ‘tidur’," kata Nasir di Gedung Kemristekdikti, Jakarta, Rabu (24/2/2016).

Berdasarkan informasi, belum lama ini Kemristekdikti menutup 103 PTS di berbagai daerah di Indonesia atas inisiatif pengelola masing-masing. Penutupan itu dilatarbelakangi beberapa hal. "Kampus itu tidak ada mahasiswanya. Selain itu, ada yayasan yang memiliki banyak kampus, sehingga mahasiswanya bergabung dan kampus lainnya ditutup. Sehingga para pengelola PTS itu berinisiatif untuk menutup kampus," katanya.

Ke-103 PTS tersebut merupakan bagian dari 243 kampus yang dibina Kemristekdikti sejak tahun lalu. Namun karena menyatakan tidak sanggup menjalani pembinaan dan memenuhi berbagai syarat pengaktifan kembali, para pimpinan dan pengelola kampus memilih menutup kegiatan operasionalnya.

"Saya tidak ingin ada banyak kampus tapi keberadaannya tidak ada apa-apanya. Hal itulah yang membuat dunia pendidikan tinggi di kita tidak bisa maju dan tidak berkualitas," tegas Nasir.

Selain tidak adanya mahasiswa, penyebab kampus swasta itu meminta ditutup adalah konflik berkepanjangan. Baik antara pengurus yayasan dengan pengelola perguruan tinggi, maupun di internal yayasan.

Dikutip dari laman resmi Kemristekdikti, 104 PTS dalam pembinaan telah diaktifkan kembali. Pembinaan PTS bermasalah sendiri dilakukan Kemristekdikti melalui tim khusus, yang bekerjasama dengan Kopertis. Tim dan Kopertis melakukan visitasi ke kampus-kampus tersebut.

Di antara PTS dalam pembinaan pun membuat pakta integritas yang berisi kesanggupan untuk memenuhi persyaratan, beserta sanksi bila tidak sanggup memenuhi persyaratan itu. Pakta integritas selanjutnya dijadikan dasar bagi Kopertis, untuk mengajukan rekomendasi pengaktifan PTS. (Jr.)**

.

Categories:Pendidikan,
Tags:,